POJOKSATU.id, JAKARTA – Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar meminta ulama bisa dilibatkan ke Bappenas dan tak hanya mengatasi krisis di Kemensos.

Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, kalau di Kementerian Sosial ada krisis yang muncul, maka diundang ulama. Sehingga imagenya itu ulama seperti pendorong mobil mogok atau pemadam kebakaran.

Nasaruddin Umar menyampaikan jika ulama semestinya tak hanya dilibatkan membicarakan akibat dalam pemerintahan.

Ia menilai semestinya ulama diikutsertakan mengatasi persoalan yang terjadi supaya mampu menghasilkan solusi yang tepat.

Ia berharap kebermanfaatan ulama dapat dirasakan seterusnya. Hal itulah yang membuat Nasaruddin menilai keterlibatan ulama penting dalam membangun negeri.

Menurutnya, komposisi presiden dari kalangan sipil, sementara wakil presiden berasal dari ulama, sudah cocok. Namun ia menegaskan mekanisme formatnya tak mesti harus demikian.

Namun ulama juga bisa diajak ke Bappenas, dan jangan hanya di Kementerian Sosial saja.

“Kalau di kementerian sosial itu ada krisis yang muncul, undang ulama. Jadi nanti imagenya itu ulama seperti pendorong mobil mogok, atau pemadam kebakaran, begitu selesai ya selesai kan," kata Nasaruddin di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Minggu (21/5/2023).

"Jangan hanya ulama itu diajak bicara di sektor hilir, tapi juga sektor hulu yang menyebabkan akibat itu muncul. Itu juga supaya nanti pahamnya itu,” jelasnya.

“Bagaimana mungkin kita bisa diminta menyelesaikan persoalan, penyebab persoalannya kita tidak dilibatkan. Sehingga solusinya kan kita tidak tepat," katanya lagi.

Nasaruddin menyebut keterlibatan ulama untuk memimpin bangsa saat ini sudah tepat, dibuktikan dengan pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin.

"Nah kita bersyukur pemerintah kita kan sekarang ini sudah terjadi apa yang kita tadi sampaikan, ada presidennya, ada wapresnya kiai," kata Nasaruddin.

"Jadi dengan demikian, tradisi ini saya kira sangat penting ya bahwa jangan hanya ulama itu diminta untuk menyelesaikan misalnya ada narkoba, ada kerusakan lingkungan, ada seksual free dan seterusnya, itu kan akibat ya,” ujarnya.

“Tapi kalau mestinya diajak juga membicarakan sebab yang menyebabkan akibat," sambungnya lagi. (ikror/pojoksatu)