POJOKSATU.id, JAKARTA—Tingginya jumlah ikan sapu-sapu di Jakarta menandakan kondisi sungai di Jakarta tercemar berat.

Pakar Perikanan dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr Veryl Hasan, SPi, MP, menjelaskan mengapa populasi ikan sapu-sapu seolah meledak di wilayah perkotaan seperti Jakarta.

Menurutnya, dominasi ini adalah cermin dari buruknya kualitas air sungai.

“Singkatnya, ketika sungai tercemar berat, ikan lain mati, sementara sapu-sapu tetap bertahan. Itu yang membuat populasinya tampak meledak,” ujar Veryl dikutip dari laman Unair, Jumat (17/4).

Baca Juga: Diduga Keracunan MBG, 46 Warga Karawang Alami Mual dan Diare

Ia menambahkan bahwa ikan ini memiliki daya tahan luar biasa terhadap kondisi lingkungan yang buruk, di mana ikan lokal justru gugur.

Selain ancaman biologis, ikan sapu-sapu di Jakarta juga membawa risiko kesehatan. Berdasarkan laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), tubuh ikan ini mengandung residu berbahaya dengan kadar rata-rata di atas 0,3.

“Kalau itu kemudian dikonsumsi akan berbahaya,” tegasnya.

Selain itu, kebiasaan ikan ini membuat lubang di dinding sungai untuk bersarang juga berpotensi merusak infrastruktur tanggul.

Baca Juga: Aturan Pajak Marketplace Siap Dijalankan, DJP Kini Tinggal Menunggu Keputusan Menteri Keuangan untuk Mulai Berlaku

“Dia akan merusak karena selalu dalam membuat rumahnya itu dia menggerogoti dinding dan sebagainya,” jelasnya.

Meski gerakan penangkapan massal tengah dilakukan, Dr Veryl Hasan mengingatkan bahwa menangkap ikan secara manual saja tidak cukup.

Kunci utama untuk menyeimbangkan kembali ekosistem adalah dengan memulihkan kualitas air sungai itu sendiri.

“Kunci utamanya bukan hanya menangkap sapu-sapu, tetapi juga memperbaiki habitat sungainya,” tutur Veryl.

Jika kondisi air membaik, ikan lokal akan kembali memiliki daya saing untuk memperebutkan ruang hidup dan makanan.

Ia juga menekankan pentingnya regulasi ketat agar masyarakat tidak lagi melepasliarkan ikan asing ke sungai.

“Jika tidak mampu merawat, lebih baik dijual kepada penghobi yang bertanggung jawab atau dimusnahkan dengan benar, jangan dilepas ke sungai,” pungkasnya. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap melalui gerakan tangkap serentak ini, tekanan terhadap populasi ikan lokal dapat berkurang sembari terus berupaya memperbaiki kualitas air sungai demi mengembalikan wajah ekosistem Jakarta yang lebih sehat.***