POJOKSATU.id, KUPANG – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) buka suara soal kematian dokter Icha imbas depresi berat usai ditekan oknum anggota DPRD di Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT.
IDI menegaskan dr Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr Icha sudah melaksanakan penanganan pasien anak yang kena gigitan ular berbisa ini sesuai prosedur atau SOP.
Pemberian serum antibisa ular tidak bisa dilakukan sembarangan.
"Obat ini memiliki risiko efek samping berat, bahkan bisa berujung kematian jika diberikan tanpa indikasi klinis yang jelas," ujar Perwakilan IDI NTT, Ronald Louk, saat menghadiri pemakaman Icha di Kupang, Senin (29/6/2026).
Baca Juga: Dugaan Love Scamming, Sekdis Ruly Bersama Lelaki Lain Sebelum Tewas di Juanda, Suami Diabetes
Menurut IDI, semua yang dilakukan Icha saat melayani pasien gigitan ular ini sudah sesuai tindakan medis atau SOP yang berlaku, dan sesuai keilmuan yang dipelajari di pendidikan kedokteran.
“Jadi itu tidak ada malapraktik," katanya.
Dia menjelaskan serum antibisa ular hanya diberikan jika pasien menunjukkan gejala sistemik.
Menurut Ronald, karena kehati-hatian itu, Icha saat menangani pasien juga melakukan konsultasi dengan dr Tri Maharani, dokter spesialis toksinologi ular berbisa di Indonesia.
Menurutnya, serum bisa ular tidak disimpan di rumah sakit, melainkan di Dinas Kesehatan setiap wilayah. Dan harga obatnya juga mahal atau tidak kecil.
"Serum bisa ular ini, anggaran tidak kecil untuk seluruh wilayah Indonesia dan serum bisa ular tidak ada di rumah sakit, tapi ada di dinas kesehatan,” jelasnya.
“Untuk mengambil serum itu di Dinas Kesehatan, dokter-dokter harus memiliki alasan yang kuat secara klinis," terang dia.
"Jadi keputusan memberi dan tidak memberikan bisa ular itu, pasti sudah lakukan konsultasi dan kajian pada ahlinya," tegasnya.
Diketahui, dokter Icha meninggal dunia pada Jumat (26/6) sore sekitar pukul 17.55 WITA di rumah orang tuanya dengan cara gantung diri di di kawasan Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang.***




