POJOKSATU.id - Di balik meja belajar sederhana di SMPN 57 Suraya, muncul sebuah inovasi yang tak disangka-sangka.
Raihan Jouzu Syamsudin, siswa yang baru duduk di bangku SMP, mencuri perhatian setelah berhasil menyulap kulit bawang putih
Limbah dapur yang biasanya hanya memenuhi tempat sampahmenjadi tinta spidol ramah lingkungan.
Baca Juga: BKN Bocorkan Sinyal Kuat! CPNS 2026 Bakal Dibuka, Harapan Baru untuk Honorer
Bukan eksperimen kecil, Raihan berhasil mengumpulkan hingga 3,12 ton kulit bawang putih dari 25 mitra pedagang di pasar dan permukiman sekitar sekolah.
Angka tersebut bukan hanya mencerminkan kerja keras, tetapi juga menunjukkan bagaimana ide yang lahir dari hal sepele dapat berkembang menjadi inovasi bernilai guna.
Baca Juga: BKN Bocorkan Sinyal Kuat! CPNS 2026 Bakal Dibuka, Harapan Baru untuk Honorer
Eksperimen Berkali-kali, Hasilnya Tinta Pekat dan Aman
Tinta yang dihasilkan Raihan tidak muncul begitu saja. Ia melakukan serangkaian percobaan untuk menemukan perpaduan warna, kekentalan, dan stabilitas tinta.
Beberapa kali hasilnya gagal, beberapa kali warnanya terlalu pudar, bahkan pernah terlalu encer.
Namun ketekunan Raihan tidak sia-sia. Hasil akhirnya adalah tinta spidol yang pekat, lebih aman digunakan.
Baca Juga: BRI Fasilitasi Sindikasi Pembiayaan Rp5,2 Triliun untuk Dorong Ekspansi SSMS
Serta memiliki aroma bawang alami yang menjadi ciri khas unik produk inovatif tersebut.
Mulai Dilirik Sekolah Hingga Instansi
Kabar mengenai tinta ramah lingkungan karya Raihan mulai menyebar. Beberapa sekolah sekitar sudah meminta sampel untuk digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.
Sejumlah instansi pendidikan pun telah menghubunginya untuk menguji.
Serta mempertimbangkan penggunaan tinta tersebut sebagai alternatif spidol yang lebih berkelanjutan.
Baca Juga: Operasi Senyap Kejagung, Penggeledahan Beruntun Bongkar Dugaan Suap di Dirjen Pajak
Raihan sendiri merasa bangga tapi tetap rendah hati.
Ia melihat inovasinya sebagai langkah awal untuk memperkenalkan konsep keberlanjutan kepada teman-temannya.
Ia mengatakan juga jika bermanfaat kenapa tidak dicoba.
Baca Juga: Honorer Harus Siap! PPPK 2025 Disebut Rekrutmen Terakhir, Ini Ulasan Lengkapnya
Dalam usianya yang masih belia, Raihan sudah menunjukkan bahwa empati terhadap lingkungan bisa diwujudkan melalui aksi konkret.
Ia berharap semakin banyak anak muda berani bereksperimen, mencoba hal baru, dan tidak takut gagal.
Menurutnya, inovasi tidak selalu membutuhkan alat mahal atau laboratorium canggih. Kadang, semua itu bisa dimulai dari tumpukan limbah bawang di dapur rumah.***




