POJOKSATU.ID - Kemarahan publik terhadap rangkaian banjir bandang dan tanah longsor di kawasan Tapanuli akhirnya menemukan sasaran.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Utara secara tegas menuding tujuh perusahaan besar.
Sebagai penyebab utama kerusakan ekologis yang memicu bencana dahsyat itu.
Direktur Eksekutif WALHI Sumut, Rianda Purba, menyebut bencana yang terjadi bukan sekadar efek cuaca ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar.
Baca Juga: Kabar Baik! PPPK Paruh Waktu Ternate Bakal Terima Gaji 13 dan 14, Pemkot Siapkan Rp 69 Miliar
Tetapi akibat kerusakan hutan sistematis yang sudah berlangsung bertahun-tahun di wilayah tersebut.
Dalam keterangannya yang dikutip dari tempo.co, Rianda menegaskan bahwa analisis citra satelit menunjukkan kondisi yang sangat mencemaskan.
Wilayah sekitar zona banjir tampak jelas mengalami pembukaan hutan besar-besaran.
“Ini bukti campur tangan manusia melalui kebijakan yang memberi ruang pembukaan hutan sehingga terjadi bencana,” tegasnya.
WALHI menyebut kerusakan tersebut bukan hanya merusak bentang alam, tetapi juga menghancurkan ekosistem penting yang selama ini melindungi kawasan dari bencana.
WALHI menyebut tujuh perusahaan yang beroperasi di atau sekitar Ekosistem Batangtoru sebagai aktor utama yang mempercepat degradasi lingkungan.
Ketujuh perusahaan itu adalah:
1. PT Agincourt Resources – pengelola tambang emas Martabe
2. PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE) – PLTA Batangtoru
3. PT Toba Pulp Lestari (TPL) – kehutanan dan perkebunan kayu di Tapanuli Selatan
4. PT Pahae Julu Micro-Hydro Power – PLTMH Pahae Julu
5. PT Sol Geothermal Indonesia – proyek geothermal Tapanuli
Baca Juga: Masih Bingung Sertifikasi Guru Tunggal SMP Begini Prosedur dan Langkah yang Harus Ditempuh
6. PT Sago Nauli Plantation – perkebunan sawit di Tapanuli Tengah
7. PTPN III Batangtoru Estate – perkebunan sawit di Tapanuli Selatan
Ketujuh perusahaan ini, menurut WALHI, bukan hanya membuka hutan.
Tetapi juga menimbulkan tekanan berat pada area konservasi yang menjadi habitat makhluk dilindungi seperti orang utan Tapanuli, harimau Sumatera, tapir.
Dan berbagai flora fauna endemik yang tak bisa ditemukan di tempat lain.
Ekosistem Batangtoru merupakan salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Asia.
Namun dalam dekade terakhir, tekanan dari industri ekstraktif terus meningkat.
WALHI menilai pembukaan hutan untuk tambang, proyek energi, dan perkebunan tidak memperhitungkan risiko bencana.
Baca Juga: Usulan SIM Seumur Hidup Menggema Lagi, DPR Tantang Korlantas Hapus Perpanjangan
Batangtoru adalah kawasan lindung dengan topografi curam dan banyak daerah rawan longsor. Ketika vegetasi hilang, kondisi menjadi mematikan.
Masifnya deforestasi di sekitar area aliran sungai membuat kawasan hilir rentan mengalami banjir bandang saat hujan ekstrem datang.
Menurut WALHI, pola bencananya sudah sangat jelas air hujan tak lagi diserap hutan, tetapi langsung mengalir dengan kekuatan besar menghantam permukiman warga.
Menyesalkan minimnya langkah tegas pemerintah, WALHI mendesak penghentian aktivitas seluruh perusahaan yang dianggap telah merusak lingkungan.
Baca Juga: LPTK Tidak Muncul di SIMPKB Begini Cara Mengeceknya Lewat Inspect Browser
pembiaran selama ini justru membuat perusahaan merasa tak tersentuh meski laporan deforestasi.
Dan pencemaran sudah berkali-kali disampaikan oleh berbagai lembaga independen, universitas, dan organisasi internasional.
Dampak kerusakan sudah tidak bisa lagi dinegosiasi.
Sejumlah desa di Tapanuli luluh lantak diterjang banjir bandang dan tanah longsor.
Warga kehilangan rumah, kehilangan mata pencaharian, bahkan kehilangan anggota keluarga.
Jika pembukaan hutan terus dibiarkan, maka skala bencana di masa depan bisa lebih parah dan memakan korban jiwa lebih banyak.
banyak izin usaha yang diterbitkan tanpa analisis risiko bencana yang memadai.
Mereka menyebut pemerintah daerah dan pusat seolah berlomba memberikan izin bagi investor tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Jika pemerintah tetap diam, WALHI menyebut negara bisa ikut dianggap bertanggung jawab atas bencana ekologis yang terjadi.***




