POJOKSATU.ID - Insiden mengerikan terjadi di SDN Kalibaru 01 Pagi, Cilincing, Jakarta Utara, setelah sebuah mobil operasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Secara tiba-tiba menerobos halaman sekolah dan menabrak kerumunan siswa yang sedang beraktivitas.
Peristiwa fatal itu menyebabkan 20 orang menjadi korban, terdiri dari 19 siswa dan satu guru.
Memicu kepanikan massal dan sorotan publik terhadap kelalaian dalam operasional program pemerintah tersebut.
Baca Juga: Jelang Perayaan Nataru 2025, Polresta Cirebon Gencar Perangi Pekat
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengonfirmasi bahwa lima korban kini dirawat di RS Koja dalam kondisi membutuhkan penanganan lebih intensif.
Empat belas korban lainnya dibawa ke RSUD Cilincing, sementara satu korban sempat dirawat di Puskesmas dan telah diperbolehkan pulang.
Namun pihak kepolisian belum memberikan penjelasan rinci mengenai penyebab mobil bisa meluncur liar masuk ke area sekolah.
Meninggalkan pertanyaan besar soal standar keselamatan kendaraan program MBG.
Baca Juga: Fakta Baru Kecelakaan Mobil MBG di SDN 01 Cilincing, Polisi Tegaskan Dugaan Salah Injak Pedal
“Saat ini prioritas kami adalah penanganan korban,” ujar Budi Hermanto, dikutip dari Detik, 11 Desember 2025.
Publik pun menilai pernyataan ini sebagai bentuk respons yang defensif di tengah tragedi yang seharusnya memicu evaluasi serius.
Kepolisian menyebut sopir mobil telah diamankan.
Namun tidak ada penjelasan apakah sopir merupakan pegawai resmi, tenaga harian, atau sekadar pekerja outsourcing.
Ketidakjelasan ini memperkuat kesan bahwa pengelolaan armada program vital seperti MBG dilakukan tanpa kendali dan pengawasan memadai.
“Untuk sopir sudah diamankan,” kata Budi.
Tak lama setelah insiden, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, angkat bicara.
Menurutnya, ia mendapat laporan langsung dari Wakil Kepala BGN lainnya, Sony Sanjaya, yang segera turun ke lokasi.
Baca Juga: Tips Liburan Tetap Seru Meski Musim Hujan Mulai Turun
Namun pernyataan Nanik justru semakin menegaskan bahwa koordinasi internal BGN terkesan kacau.
Karena informasi datang dalam bentuk laporan spontan dari bawahannya, alih-alih melalui mekanisme resmi dan sistematis.
Penanganan di lapangan pun dinilai lambat.
Video amatir yang beredar menunjukkan para siswa berlarian sambil menangis, beberapa di antaranya menangis kesakitan di tanah sambil menunggu ambulans yang tak kunjung tiba.
Baca Juga: KABAR GEMBIRA! 3.045 PPPK Paruh Waktu Kendari Kini Nikmati THR dan Gaji 13 Layaknya ASN
Warga sekitar bahkan terlihat memberikan pertolongan pertama seadanya sebelum petugas resmi datang.
Tragedi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai bagaimana mobil program MBG bisa bergerak masuk lingkungan sekolah tanpa kendali.
Apakah rem blong? Apakah sopir lalai? Atau apakah standar keamanan armada MBG memang sejak awal bermasalah?
Program Makan Bergizi Gratis memang menjadi salah satu prioritas nasional.
Namun insiden ini memperlihatkan sisi kelam dari implementasi di lapangan.
Alih-alih memberikan gizi, mobil program tersebut justru memicu luka, ketakutan, dan trauma bagi anak-anak sekolah.
Hingga kini, tidak ada penjelasan resmi mengenai kondisi psikologis para siswa, tanggung jawab institusi, atau langkah evaluasi menyeluruh pasca tragedi.
Baca Juga: Publik Heboh Ajak Beli Hutan, Nusron Tampil Tegas Hutan Itu Bukan Barang Dagangan!
Publik menunggu jawaban, sementara orang tua murid menuntut kepastian dan keadilan.
Sebab kecelakaan ini bukan sekadar insiden teknis.
Tetapi bukti nyata buruknya pengawasan dan pengelolaan program yang seharusnya melindungi masa depan generasi muda.***




