POJOKSATU.id, Kalbar – Hilirisasi tidak lagi dipandang sekadar sebagai kebijakan industri untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.

Di berbagai daerah, kebijakan tersebut mulai menunjukkan dampak yang lebih luas, mulai dari terbukanya lapangan kerja, tumbuhnya usaha lokal, hingga meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.

Salah satu contoh yang mulai terlihat adalah pengembangan Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Baca Juga: Beasiswa BINUS University 2027/2028 Dibuka, Kuliah Gratis hingga 100 Persen untuk Berbagai Jalur Prestasi

Kawasan yang tengah dikembangkan PT Dharma Inti Bersama (DIB) tersebut diproyeksikan menjadi bagian dari rantai hilirisasi bauksit hingga aluminium di Indonesia.

Direktur Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) Rasnius Pasaribu mengatakan hilirisasi pada dasarnya tidak hanya bertujuan membangun industri pengolahan, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi daerah.

"Ketika proses pengolahan dilakukan di dalam negeri, manfaat yang dihasilkan tidak hanya berupa produk bernilai tambah, tetapi juga terbukanya kesempatan kerja, meningkatnya aktivitas ekonomi lokal, dan berkembangnya kapasitas sumber daya manusia," ujar Rasnius.

Baca Juga: Peneliti UI Ciptakan Aspal Buton Berbahan Oli Bekas, Lebih Kuat dan Ramah Lingkungan untuk Infrastruktur Indonesia

Dari Investasi Menjadi Aktivitas Ekonomi

Menurut Rasnius, pembangunan kawasan industri membawa efek berganda yang melibatkan banyak sektor di luar industri utama.

Kebutuhan akan jasa transportasi, logistik, perdagangan, konstruksi, hingga usaha mikro dan kecil ikut meningkat seiring perkembangan kawasan.

Baca Juga: Tecno Pova 8 5G Resmi Buka Preorder di Indonesia, Baterai 8.000 mAh dan Layar 144Hz Jadi Andalan

Di Kayong Utara, geliat tersebut mulai terlihat bersamaan dengan pembangunan Kawasan Industri Pulau Penebang.

Selain menyerap tenaga kerja lokal, perusahaan juga menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kompetensi sebagai bagian dari persiapan kawasan industri.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kayong Utara menunjukkan pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5,89 persen pada 2025, tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Baca Juga: Sempat Tenang Sebelum Jumat, Jampidsus Febrie Adriansyah Mundur Sabtu Dinihari

Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD 2027, Bupati Kayong Utara, Romi Wijaya menyebut keberadaan Proyek Strategis Nasional di Pulau Penebang menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong pertumbuhan tersebut.

Hilirisasi Tidak Hanya Soal Industri

Rasnius menilai keberhasilan hilirisasi juga ditentukan oleh kesiapan masyarakat dan daerah untuk tumbuh bersama investasi yang masuk.

Baca Juga: Beasiswa PMDSU Angkatan X 2026 Dibuka, Kuliah S2-S3 Gratis 4 Tahun dengan Dana Riset hingga Rp60 Juta per Tahun

Karena itu, selain membangun fasilitas industri, KIPP juga menjalankan berbagai program pengembangan sumber daya manusia, termasuk Program Pelita Penebang yang memberikan pelatihan kepada masyarakat lokal, serta pengiriman puluhan pemuda Indonesia untuk mempelajari teknologi aluminium di China.

"Pembangunan kawasan industri akan lebih bermakna apabila masyarakat sekitar ikut menjadi bagian dari pertumbuhan tersebut. Karena itu, kami mendorong pengembangan SDM, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi dengan pemerintah daerah agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara berkelanjutan," katanya.

Di sisi lain, masyarakat sekitar kawasan industri mulai memperoleh peluang baru melalui program pemberdayaan masyarakat.

Baca Juga: Beasiswa PMDSU Angkatan X 2026 Dibuka, Kuliah S2-S3 Gratis 4 Tahun dengan Dana Riset hingga Rp60 Juta per Tahun

Ibu-ibu di Desa Pelapis melakukan kegiatan pengolahan ikan menjadi bakso dan nugget yang seluruh hasil produksinya dibeli oleh perusahaan untuk kebutuhan kantin karyawan di Pulau Penebang.

Program pemberdayaan masyakarat hanya salah satu kegiatan yang telah dilakukan, melalui program ini kelompok perempuan diperkenalkan pada teknik pengolahan modern, standar keamanan pangan, serta diversifikasi produk yang lebih kompetitif di pasar.

Menjadi Fondasi Pertumbuhan Jangka Panjang

Baca Juga: Perang Bintang

Kebutuhan aluminium dunia diperkirakan terus meningkat seiring berkembangnya industri kendaraan listrik, energi terbarukan, konstruksi, dan manufaktur.

Kondisi tersebut membuat hilirisasi menjadi salah satu strategi penting dalam memperkuat daya saing industri nasional.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mendorong pemerintah memperluas program hilirisasi ke komoditas strategis, termasuk bauksit.

Baca Juga: Prediksi Skor Argentina vs Swiss, Nilai Pasaran Agak Mengejutkan

Langkah tersebut dinilai dapat menjadi mesin baru ekspor Indonesia sekaligus membuka peluang besar bagi Kalimantan Barat sebagai salah satu penghasil bauksit terbesar di Tanah Air.

Menurut Yusuf, pemerintah perlu mengedepankan strategi jangka panjang untuk menjaga daya saing ekspor nasional.

Selain memperluas pasar ekspor melalui berbagai perjanjian dagang, hilirisasi dinilai menjadi kunci agar Indonesia tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah.

Baca Juga: Gudang Penyimpanan Vape Narkoba Asal Malaysia di Medan Digerebek, Polisi Sita 680 Bungkus Pot Getar dari Dua Warga Aceh

Bagi daerah seperti Kayong Utara, pengembangan kawasan industri tidak hanya membuka peluang investasi, tetapi juga menjadi fondasi bagi tumbuhnya ekosistem ekonomi baru yang melibatkan masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah daerah.

"Hilirisasi merupakan proses jangka panjang. Harapannya, kawasan industri tidak hanya memberikan nilai tambah bagi komoditas, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat dan daerah," tutur Rasnius.

Dengan pembangunan yang dilakukan secara bertahap, Pulau Penebang kini mulai menunjukkan bagaimana sebuah kawasan industri dapat menjadi bagian dari transformasi ekonomi daerah, sekaligus mendukung agenda hilirisasi nasional.***