POJOKSATU.id – Baru-baru ini, sebuah video detik-detik mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Abdullah Mahmud Hendropriyono nyaris tertimpa videotron besar menjadi perbincangan hangat di masyarakat.
Insiden tersebut hampir saja membahayakan tokoh senior ini. Detik-detik video diunggah di instagram @diaz.hendropriyono seperti dipantau pojoksatu.id pada Sabtu (21/12/2024).
Dalam video terlihat videotron berukuran besar itu tiba-tiba ambruk tepat di belakang AM Hendropriyono saat ia sedang menyampaikan pidato.
Hendropriyono saat itu diminta memberikan sambutan di acara peletakan batu pertama pembangunan gedung Sekolah Slamet Riyadi, Cijantung pada Senin (16/12/2024) lalu.
Dalam video yang beredar, Hendropriyono terlihat mengenakan batik lengan panjang, berdiri sambil memegang mikrofon.
"Dan kemudian membeli, dan selanjutnya," ujar Hendropriyono dalam pidatonya.
Namun, belum selesai ia berbicara, videotron yang menampilkan gambarnya saat berpidato mendadak roboh.
Baca Juga: Jenderal AM Hendropriyono Professor Intel Pertama Indonesia: Cemerlang saat Muda, Isu HAM kala Tua
Peristiwa ini membuat sejumlah orang yang hadir langsung berusaha melindungi Hendropriyono.
Sontak, Hendropriyono pun melakukan gerakan refleks mengangkat tangannya ke arah kepala belakang untuk melindungi diri. Videotron besar itu nyaris menimpanya dari arah belakang.
Putra Hendropriyono, Diaz Hendropriyono, menjelaskan bahwa acara tersebut digelar di dalam tenda dan berlangsung dalam kondisi cuaca buruk.
"Acara di dalam tenda, tapi saat itu memang sedang hujan deras dan angin kencang, dan ayah saya bergeser turun dari panggung," ungkap Diaz.
"Tidak lama setelah itu, videotron yang cukup besar ambruk di atas panggung dan hampir menimpa ayah saya," jelas Diaz.
Ia menyampaikan rasa syukur karena sang ayah berhasil lolos dari insiden maut tersebut.
Baca Juga: Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono Dikerjai Prabowo, Disuruh Nyanyi di Atambua NTT
"Bersyukur karena lolos dari maut," tutup Diaz Hendropriyono.
Hendropriyono, yang merupakan mertua dari mantan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, lahir di Yogyakarta pada 1945 namun menghabiskan masa kecilnya di Jakarta.
Alumnus Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang dari kecabangan Infanteri Kopassus tahun 1967 ini juga menempuh berbagai pendidikan militer prestisius seperti US Army Command and General Staff College, Sesko ABRI, hingga KSA VI Lemhannas.
Hendropriyono memiliki berbagai gelar akademik, termasuk Sarjana Administrasi dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara (STIA-LAN), Sarjana Hukum dari Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM), serta Sarjana Ilmu Politik dari Universitas Terbuka (UT) Jakarta.
Ia juga bergelar Magister Administrasi Niaga dari University of the City of Manila, Filipina.
Karier Hendropriyono diawali sebagai Komandan Peleton dengan pangkat Letnan Dua Infanteri di Kopassus.
Ia kemudian memegang berbagai jabatan strategis seperti Komandan Detasemen Tempur 13, Danrem 043/Garuda Hitam Lampung, Panglima Kodam Jayakarta, hingga Komandan Kodiklat TNI AD pada 1996.
Di bidang politik, Hendropriyono pernah menjabat sebagai Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan Republik Indonesia (1996-1998) dan dua kali menjadi Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan (PPH) dalam Kabinet Pembangunan VII dan Kabinet Reformasi Pembangunan.
Puncak kariernya adalah saat ia ditunjuk sebagai Kepala BIN pada era Presiden Megawati Soekarnoputri. ***




