POJOKSATU.id, JAKARTA—Pendiri lembaga survei Kedai Kopi, Hendri Satrio atau Hensat menanggapi kisruh jabatan Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat ini.
Dimana menurut Hensat, dia tidak lagi berprasangka positif terhadap posisi Ketua Umum PBNU saat ini seperti yang dulu dia lakukan.
“Sejak lama saya selalu berprasangka positif, bahwa jabatan Ketum PBNU ini adalah jabatan yang sifatnya menghormati panutan, gak ada unsur duniawi kekuasaannya,” katanya dilihat di akun X miliknya, Rabu (24/12).
Baca Juga: Pengalaman Tangani Tsunami 2004, SBY Akhirnya Komentari Banjir Sumatera, Komando Harus Efektif
Sebab menurutnya, banyak Kyai besar di dalam NU. Namu sejak muncul polemik posisi Ketua Umum PBNU, prasangka positifnya diawal ini harus dikoreksi.
“Mohon maaf ya bila salah ucap, tapi itu yang saya rasakan sebagai anak yang ngajinya di Mesjid ‘beraliran’ NU walaupun belum pernah terdaftar resmi sebagai anggota NU,” katanya.
“Tapi saya sedih dengan kenyataan yang ada saat ini. Oh guru-guru saya diantaranya (alm) KH Munzir Tamam, (alm) KH Irfan Zidni dan (alm) KH Ahmad Zayadi,” ujarnya lagi.
Diketahui, kisruh kursi Ketua Umum PBNU melahirkan dua ketua yaitu KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dan Pj Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa.
Saat ini, KH Zulfa Mustofa menjabat sebagai Pj Ketua Umum PBNU, ditunjuk melalui rapat pleno Syuriyah pada Desember 2025 menggantikan KH Yahya Cholil Staquf yang diberhentikan Rais Aam.
Meskipun Gus Yahya menyatakan posisinya masih sah dan menolak keabsahan keputusan dari rapat Syuriyah tersebut.***




