POJOKSATU.id, JAKARTA— Satpam tempat tinggal Brigjen TNI (Purn) Hendrawan Ostevan di Tebet Jaksel, mengungkap 2 hari sebelum ditemukan tewas di Marunda, Hendrawan masih berolahraga pagi dengan kondisi bugar.

Satpam Perumahan Kompleks Kejaksaan Agung, Tebet, Jakarta Selatan, Anto, mengenal Hendrawan Ostevan sebagai sosok ramah. Perumahan ini berada di Jalan Tebet Barat Dalam, Jaksel.

Dia mengatakan hampir tiap pagi Hendrawan berolahraga dengan berjalan kaki mengitari kompleks.

“Kemarin sebelum beliau keluar itu (Rabu), masih jalan di depan sini, masih sehat dan terlihat bugar,” ujarnya dilansir Tempo, Selasa (21/1).

Anto melihat Hendrawan terakhir kali keluar dari perumahan pada Rabu pagi, 8 Januari 2025.

Baca Juga: Anak Pungut

Ketika itu, Hendrawan keluar mengendarai mobil sedan Toyota Vios berkelir hitam.

Mobil yang sama terekam kamera CCTV memasuki dermaga PT KCN pada 9 Januari sekitar pukul 00.35 WIB.

Menurut Anto, selama ini Hendrawan tinggal di perumahan itu bersama istri dan anaknya. Namun keluarga Hendrawan jarang berinteraksi dengan warga sekitar.

Sejak Hendrawan ditemukan tewas di Marunda, dia mengatakan sudah tak pernah lagi melihat anggota keluarga Hendrawan keluar masuk perumahan itu.

“Rumahnya juga selalu sepi, yang ada cuma pembantunya,” kata Anto.

Tiga Analisa Penyebab Kematian

Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala, melihat mobil kaca yang pecah jadi petunjuk mengungkap penyebab meninggalnya Hendrawan Ostevan.

Menurut Adrianus, pecahnya kaca menjadi jawaban mengapa jenazah Hendrawan ditemukan mengapung. Sehingga jenazah tidak terkunci di dalam mobil.

Jika almarhum berniat mengakhiri nyawanya sendiri dengan bunuh diri, Adrianus memperkirakan seharusnya jenazah tetap berada di dalam mobil.

Baca Juga: Ribuan ASN Madina Belum Terima Gaji Januari 2025 Gara-gara NIK dan NPWP

Kemungkinan itu terbuka sebab bisa saja almarhum keluar dari dalam mobil bukan karena disengaja.

Melainkan karena kaca yang pecah membuat jenazah bisa mengapung.

"Itu memungkinkan jenazah korban keluar dan mengapung."

"Tadinya saya berpikir kalau ini adalah satu tindakan bunuh diri, maka dia tidak akan keluar dari mobilnya dan tidak akan tubuhnya mengapung."

"Tetapi ketika ternyata kaca pecah dan itu saya kira karena tekanan air, jenazah keluar dan mengapung," kata Adrianus di Kompas TV, Sabtu (19/1/2025).

Namun untuk memastikan penyebab kematian karena bunuh diri atau tidak, masih ada hal lain yang masih bisa menjadi petunjuk yakni hasil autopsi.

Adrianus mengatakan jika menerjunkan mobil ke laut menjadi cara mengakhiri hidup maka seharusnya, Hendrawan masih bernapas saat masuk ke dalam air.

Baca Juga: Dua Mantan Kepala Puskesmas Plered Malam Ini Langsung Ditahan, Setelah Selesai Diperiksa Dugaan Korupsi Hampir Satu Milyar

Kemungkinan lain bisa saja terjadi, Hendrawan sudah meninggal sejak dalam mobil yang melaju terjun ke laut.

"Tetapi ketika ternyata kaca pecah dan itu saya kira karena tekanan air, jenazah keluar dan mengapung," jelasnya.

Berdasarkan rekaman kamera CCTV, mobil Toyota Vios berwarna gelap yang dikendarai almarhum Hendrawan melaju di dermaga pada pukul 00.40 WIB, Kamis (9/1/2025) dini hari.

"Rekaman itu memperlihatkan bahwa mobil yang dikendarai korban melaju dalam kecepatan sedang di dermaga yang memang ketika itu masih sepi," paparnya.

Analisis ketiga Adrianus yakni lokasi tewasnya Hendrawan juga menjadi petunjuk. Dimana kawasan dermaga ini bukan lokasi yang gampang dicapai semua orang.

"Kalau ini adalah tindakan bunuh diri, maka ini adalah bunuh diri yang intensional," ujarnya.

Terlihat keadaan di dermaga KCN Marunda pada saat kejadian cukup terang. Mobil melaju dengan lampu menyala, dari sisi barat menuju ke sisi timur dermaga. Mobil itu melaju lurus dan tiba-tiba terlihat terjatuh ke lautan. ***