POJOKSATU.id — Suara gaduh dan rasa ngeri sempat merebak di Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)
Ketika pada Sabtu malam, 29 November 2025, lahir seekor anak babi dengan bentuk fisik sangat tak lazim oleh warga disebut menyerupai gajah.
Kejadian yang Bikin Geger
Baca Juga: ITB Triathlon 2025 Kembali Hadir dengan Membawa Misi Dana Lestari
Menurut warga sekitar, kondisi bayi babi itu langsung berbeda sejak keluar ke dunia.
Hidungnya tampak memanjang seperti belalai, mulut monyong, lebar dan panjang, serta mata agak menonjol dari kelopak rupa yang jauh dari bentuk babi normal.
Karena bentuknya sangat “aneh”, banyak warga kaget, takut, dan sebagian sempat menduga ada “pertanda” gaib atau hal mistis.
Baca Juga: PSI Riau Ngaku Jokowi Bakal Ikut Ngurus Partai, Tapi PSI Pusat Masih Adem Ayem, Jadinya Gimana?
Namanya pun cepat tersebar di media sosial, di warung kopi, hingga di kampung-kampung sekitar Manggarai Barat.
Namun, bayi babi itu malang hanya hidup dalam jangka waktu sangat singkat, lalu mati, dan langsung dikuburkan.
Sudut Ilmiah Kelainan Bukan Mitos
Baca Juga: Analisis ITB: Puncak Musim Hujan, Siklon Senyar, dan Degradasi Lahan Perparah Banjir Sumatera
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Manggarai Barat angkat bicara lewat pejabat veteriner mereka, Yanuarius Saridin yang dilansir detik.com.
Ia memastikan bahwa fenomena ini bukan lahirnya “spesies baru” ataupun mukjizat melainkan sebuah kelainan bawaan.
Menurut Yanuarius, penyebabnya adalah gangguan saat pembentukan embrio di awal masa kehamilan.
Kemungkinan ini muncul jika induk babi membawa gen resesif yang secara kebetulan diwariskan ke keturunannya meskipun risiko kejadian seperti ini sangat kecil.
Jadi, meski mengejutkan dan mengundang banyak spekulasi, kasus ini bisa dijelaskan lewat biologi dan genetika hewan bukan lewat takhayul.
Mengapa Penting untuk Dipahami
Baca Juga: BI Jabar Targetkan Pertumbuhan 4,9–5,7 Persen Lewat Lima Pilar Transformasi 2026
Meredam spekulasi dan hoaks Kasus ini mudah dibesar-besarkan di media sosial.
Penjelasan oleh ahli membantu masyarakat untuk tetap rasional, tak buru-buru mengaitkan dengan hal mistis.
Kehebohan yang muncul bukan sekadar karena bentuk fisik anak babi itu yang berbeda melainkan karena ketidaktahuan dan kekhawatiran kolektif di masyarakat.
Baca Juga: BI Jabar Targetkan Pertumbuhan 4,9–5,7 Persen Lewat Lima Pilar Transformasi 2026
Warga yang melihat langsung dramatis, apalagi di kampung dengan tradisi dan kepercayaan lokal yang kuat.
Tapi lewat penjelasan ilmiah, kita diingatkan bahwa alam dan genetika kadang punya kejutan tak terduga.
Spekulasi boleh ada, tapi fakta dan sains harus jadi pijakan.***




