POJOKSATU.id - Penyegelan tiga gerai mewah Tiffany & Co di Jakarta oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai memicu kehebohan besar di industri perhiasan.

Langkah tegas itu rupanya bukan titik akhir.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah tidak segan mengambil tindakan serupa terhadap toko emas lainnya apabila ditemukan pelanggaran impor.

Baca Juga: Warga Purwasari Curhat ke Ketua DPRD Karawang: Madrasah Rawan Korslet Listrik

Ketegasan itu disampaikan Purbaya di tengah sorotan publik yang semakin besar terhadap praktik masuknya barang mewah tanpa prosedur resmi.

Pemerintah, kata dia, sedang mendorong penataan besar-besaran agar pasar perhiasan tidak lagi dibanjiri barang ilegal yang merusak persaingan.

“Pokoknya impor yang ilegal pasti akan ditutup dan disegel. Jadi semuanya harus main ke legal lagi,” kata Purbaya dikutip Pojoksatu.id dari Jawapos 12/2/2026.

Baca Juga: Warga Purwasari Curhat ke Ketua DPRD Karawang: Madrasah Rawan Korslet Listrik

Pernyataan tersebut memperkuat sinyal bahwa penyegelan Tiffany & Co merupakan bagian dari operasi pengawasan yang lebih luas.

Menurut sumber internal Bea Cukai, proses penindakan akan terus berjalan seiring pemeriksaan dokumen impor bernilai tinggi.

Termasuk barang perhiasan premium yang selama ini beredar di pusat perbelanjaan elite ibu kota.

Baca Juga: Resmi Meluncur! Transjabodetabek Cawang–Cikarang Bikin Akses Bekasi–Jakarta Semakin Efisien dan Terjangkau

Purbaya menambahkan bahwa Bea Cukai memiliki kewajiban penuh untuk menjaga pasar tetap bersih.

Ia bahkan menegaskan bahwa pembiaran bukanlah pilihan.

“Nanti kalau orang bea cukai nggak ngapa-ngapain ditangkap. Sekarang dia menjalankan tugasnya supaya pasar kita bersih dari barang-barang ilegal.

"Supaya permainannya di sini fair di dalam negeri,” Ungkapnya.

Dengan pernyataan keras ini, pelaku usaha perhiasan mewah disebut mulai memperketat kepatuhan dokumen impor untuk menghindari sanksi serupa.

Baca Juga: PW GPA Al Washliyah DKI Jakarta: Polri Harus Tetap di Bawah Presiden

Situasi di lapangan kini dipenuhi kewaspadaan, sementara publik menunggu apakah akan ada gelombang penyegelan berikutnya.***