POJOKSATU.ID - Viralnya sebuah video pengakuan seorang pria yang mengklaim dimintai uang oleh oknum Kodim.

Saat ingin meminjam mobil patroli untuk mengirim bantuan bencana di Sumatera Utara memicu kegaduhan publik.

Video tersebut beredar luas di media sosial dan langsung memancing reaksi negatif dari masyarakat.

Yang menganggap tindakan itu sebagai bentuk pungutan liar di tengah situasi darurat.

Baca Juga: Lemas Setelah Evakuasi Berjam Jam, Pria Ini Selamat Berkat Kulkas Hanyut yang Berisi Makanan

Dalam video yang diunggah dan dilihat pada Rabu 3 Desember 2025, pria itu menceritakan dirinya mendatangi Kodim.

Untuk meminta bantuan kendaraan kavaleri guna mengirim logistik ke Pangkalan Brandan.

Ia mengaku diminta membayar Rp 2 juta oleh seseorang yang disebutnya bagian dari Kodim.

“Oke aku mau kasih informasi ya orang kodim minta Rp 2 juta, Bro. Nego nego sama TNI, Bro,” ujar pria tersebut dalam rekaman yang viral.

Baca Juga: Dompet Dhuafa Tangani 9.663 Korban Banjir Sumatra, Turunkan Tim Respon Darurat Pasca Bencana

Tidak berhenti di situ, pria tersebut mengaku mencari jalur lain dan meminta bantuan seorang anggota DPR.

Namun ia kembali mengklaim dimintai uang sebesar Rp 1 juta dan mendapat pernyataan bahwa “nggak ada yang gratis di dunia ini”.

Pengakuan itu semakin memancing kemarahan warganet, terutama karena situasi bencana yang membutuhkan respons cepat dan tanpa biaya.

Namun, TNI memberikan bantahan tegas.

Kapuspen TNI Mayjen Mar Freddy Ardianzah mengatakan bahwa isi video tersebut tidak benar dan telah diklarifikasi langsung oleh pria yang bersangkutan.

Menurut Freddy, pria itu sudah meminta maaf dan mengakui bahwa pengakuannya tidak sesuai fakta.

“Yang bersangkutan sudah konfirmasi dan minta maaf ya, bahwa itu tidak benar,” tegas Freddy, dikutip dari Detik, 3 Desember 2025.

Freddy menegaskan bahwa TNI selalu siap merespons pengaduan masyarakat, namun ia mengingatkan bahwa setiap laporan harus disertai bukti yang konkret.

Baca Juga: Seperti Dijaga Tuhan, Bayi Mungil 3 Bulan Selamat dari Seretan Galodo 3 Km, Dilindungi Sebuah Batu

Menurutnya, tindakan menyebarkan pengakuan sepihak tanpa data hanya akan menimbulkan kegaduhan dan berpotensi menjadi alat provokasi.

“Mohon jangan sekadar pengakuan saja lalu di-upload dengan motivasi yang tidak jelas. Apabila ada pengaduan, mohon sertai bukti dan keterangan yang jelas,” ujarnya.

TNI juga mengingatkan bahwa situasi bencana seharusnya menjadi momentum untuk saling menguatkan, bukan menyebarkan disinformasi.

Freddy menegaskan bahwa institusinya memiliki komitmen untuk menindak tegas setiap pelanggaran yang dilakukan prajurit.

Baca Juga: HUT ke-13, Fakta Jabar Bagikan Beras untuk Warga Karangpawitan

Namun ia meminta publik tidak ikut menyebarkan informasi tanpa verifikasi.

“Di masa sulit ini, jangan ada tindakan provokatif dan disinformasi. Komitmen TNI jelas: menindak tegas setiap pelanggaran,” katanya.

Video tersebut kini memunculkan kembali diskusi soal betapa mudahnya informasi tidak terverifikasi memicu keresahan publik.

Meski pelaku sudah meminta maaf, dampak kegaduhan tetap meluas dan mencoreng upaya penanganan bencana yang sedang berjalan.***