POJOKSATU.id - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto kembali menggemparkan publik setelah ia secara terbuka menyebut masa tugasnya sebagai Menteri Pertahanan di era Presiden Joko Widodo sebagai “masa magang” yang membentuk dirinya hingga menjadi pemimpin Indonesia hari ini.
Pernyataan blak-blakan ini ia sampaikan saat menghadiri Perayaan Natal Nasional 2025 pada 5 Januari 2026 di Jakarta.
Yang segera memicu diskusi publik karena memuat pengakuan langka tentang hubungan politiknya dengan Jokowi, rivalnya selama dua kali pemilihan presiden.
Baca Juga: Pendaftaran hingga 7 Februari, Ini Tahapan Lengkap Pengisian PDSS SPAN-PTKIN 2026
Di hadapan ribuan tamu undangan, Prabowo mengatakan secara langsung bagaimana pengalamannya di kabinet Jokowi membentuk pola pikirnya sebagai pemimpin.
Ia mengungkapkan“Saya bersyukur saya mendapat kesempatan, saya diajak bergabung dalam pemerintah Presiden Joko Widodo selama lima tahun."
"Selama lima tahun saya masuk ke dalam kekuasaan eksekutif. Jadi bagi saya lima tahun itu adalah semacam masa magang, masa pembelajaran,”
Baca Juga: Klarifikasi Pemerintah Soal Gaji PNS Januari 2026 yang Belum Cair! Tenyata Karena Ini
ucap Prabowo Jakarta, dikutip pojoksatu.id dari merdeka.com 5/1/2026.
Pernyataan itu sontak menjadi ramai diperbincangkan karena memperlihatkan sisi reflektif Prabowo yang jarang muncul di ruang publik.
Publik masih mengingat ketegangan Pilpres 2014 dan 2019 yang mempertemukan Prabowo dan Jokowi dalam duel panas.
Namun kini, Prabowo justru mengakui bahwa masa berada di dalam kabinet Jokowi menjadi bekal besar yang membentuk dirinya sebagai presiden.
Baca Juga: 518 Guru Honorer Dirumahkan, Fakta di Balik Gagalnya Pengangkatan PPPK dan Harapan Perbaikan Sistem
Lebih jauh, Prabowo juga mengungkap bagaimana ia memandang kekalahan dalam kontestasi politik sebagai proses pendewasaan.
Dalam momen yang sama, Prabowo menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak boleh menyimpan dendam hanya karena perbedaan pilihan politik.
“Aku kalah pilpres berapa kali itu, sudah lupa. Tapi tidak ada masalah. Tidak boleh kita sakit hati, tidak boleh dendam, tidak boleh benci."
"Dan itu saya, saya berusaha untuk teguh pada pendirian itu.”
Baca Juga: Pendaftaran hingga 7 Februari, Ini Tahapan Lengkap Pengisian PDSS SPAN-PTKIN 2026
Kutipan tersebut menyulut banyak reaksi karena dianggap menunjukkan transformasi besar dalam perjalanan politik Prabowo.
Dari dua kali berada di posisi rival yang keras, hingga akhirnya duduk di kursi kabinet Jokowi, lalu mendapatkan kepercayaan rakyat menjadi Presiden RI 2024–2029.
Sikapnya yang menolak dendam dianggap sebagai simbol rekonsiliasi yang semakin memperjelas hubungan harmonis antara dirinya dan Jokowi.
Baca Juga: Gaji Magang Nasional Belum Cair? Jangan Takut, Begini Cara Pengaduan dan Sanksi bagi Perusahaan
Fakta-fakta yang menunjukkan bahwa langkah Jokowi mengajak Prabowo masuk kabinet pada 2019 memang merupakan bagian dari upaya besar meredakan ketegangan pasca Pilpres.
Kini, enam tahun kemudian, Prabowo menyampaikan pengakuan jujur bahwa pengalaman itu menjadi titik penting dalam perjalanan politiknya.
Pernyataan Prabowo yang menyebut dirinya “magang” di kabinet Jokowi juga dibaca publik sebagai sinyal kesinambungan pemerintahan.
Baca Juga: Pendaftaran hingga 7 Februari, Ini Tahapan Lengkap Pengisian PDSS SPAN-PTKIN 2026
Beberapa keputusan strategis Prabowo sebagai presiden menunjukkan keberlanjutan dari program-program era Jokowi.
Termasuk dalam kebijakan pertahanan dan percepatan pembangunan nasional.
Banyak pengamat menilai bahwa keduanya kini berada dalam satu garis visi stabilitas dan konsolidasi nasional.
Transformasi hubungan Prabowo dan Jokowi kini menjadi salah satu narasi paling kuat dalam politik Indonesia modern.
Dua tokoh yang pernah bersaing ketat kini justru dipandang sebagai duet moral yang mewakili rekonsiliasi dan kedewasaan politik nasional.
Dengan dua pernyataan jujurnya di panggung Natal Nasional, Prabowo bukan hanya mengungkap sisi personalnya, tetapi juga memberikan pesan besar kepada publik.
Baca Juga: Pendaftaran hingga 7 Februari, Ini Tahapan Lengkap Pengisian PDSS SPAN-PTKIN 2026
Bahwa politik tidak harus berujung pada kebencian. Bahwa rivalitas bisa berakhir kerja sama.
Dan bahwa seorang pemimpin sejati mampu mengakui perjalanan yang membentuknya, sekalipun itu datang dari rival yang dulu berdiri di seberang.***




