POJOKSATU.id - Heboh pembahasan dalam podcast Bang Densu beredar di YouTube dan memuat peringatan keras tentang ancaman deforestasi besar di Papua.
Percakapan tersebut mengungkap analisis aktivis lingkungan mengenai peta konsesi yang sudah terbentuk rapi di Tanah Papua.
Dalam percakapan itu, seorang aktivis menyampaikan peringatan yang dinilai paling mengkhawatirkan Papua sudah berada “di ambang eksekusi” deforestasi masif.
Baca Juga: Mahasiswa Sains Komunikasi FISIP Unida Dapat Pengalaman Langsung dari Pekerja Media
Karena hampir seluruh wilayah strategisnya sudah masuk dalam peta konsesi industri ekstraktif mulai dari sawit, tambang, hingga hutan tanaman industri (HTI).
Iqbal Damanik Aktivis mengatakan secara gamblang: “Data konsesi sawit, tambang, HTI di Papua itu sudah terpetak-petak. Tinggal menunggu waktu saja.”
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa ancaman di Papua bukan sekadar potensi, tetapi sudah berada pada tahap yang nyaris pasti.
Baca Juga: OTT KPK Kembali Menyasar Kepala Daerah, Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang Ditangkap Dini Hari
Pembukaan hutan dalam skala raksasa disebut hanya menunggu momentum kebijakan atau keputusan politik.
Papua Disebut Berpotensi Jadi “Sumatera Jilid Dua”
Aktivis dalam dialog itu menyebut bahwa kondisi ini mengingatkan pada perjalanan Sumatera dari wilayah dengan hutan berkualitas tinggi.
Baca Juga: Nasib Honorer Gagal PPPK Paruh Waktu Masih Menggantung, Pemda Akhirnya Bicara Terbuka
Hingga akhirnya berubah menjadi pusat industri sawit dan tambang dengan deforestasi besar-besaran selama puluhan tahun.
Proses itu melahirkan banjir, longsor, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga konflik agraria yang panjang.
Kini, pola yang sama terlihat muncul di Papua.
Peringatan ini semakin kuat mengingat Papua masih memiliki hutan primer terluas di Indonesia.
Namun data konsesi menunjukkan wilayah tersebut berada dalam tekanan besar.
Baca Juga: Mahasiswa Sains Komunikasi FISIP Unida Dapat Pengalaman Langsung dari Pekerja Media
Aktivis menilai bahwa jika ekspansi industri ekstraktif tidak dihentikan, Papua akan mengalami kerusakan ekologis yang jauh lebih masif dibanding kawasan lain.
Hutan Papua Benteng Terakhir yang Kini Diincar
Dalam percakapan itu disampaikan bahwa Papua selama ini adalah penyangga ekologis penting bagi Indonesia.
Baca Juga: OTT KPK Kembali Menyasar Kepala Daerah, Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang Ditangkap Dini Hari
Namun peta konsesi yang telah terbentuk mengindikasikan bahwa perluasan sawit, tambang nikel, hingga HTI sudah dirancang dalam skala provinsi.
Aktivis menggambarkannya sebagai “Mesin besar yang sudah disiapkan.” “Tinggal menunggu waktu sebelum hutan-hutan itu dibuka.”
Baca Juga: Nasib Honorer Gagal PPPK Paruh Waktu Masih Menggantung, Pemda Akhirnya Bicara Terbuka
Dengan kata lain, bencana ekologis bukan lagi ancaman abstrak ia sudah berada di depan mata.
Dampak Sosial: Konflik hingga Hilangnya Wilayah Adat
Selain kerusakan ekologi, ancaman deforestasi di Papua juga berkaitan dengan isu sosial yang sudah lama berlangsung.
Baca Juga: Mahasiswa Sains Komunikasi FISIP Unida Dapat Pengalaman Langsung dari Pekerja Media
Tanah adat, wilayah hutan sakral, sumber pangan masyarakat lokal, hingga ruang hidup yang menjadi identitas budaya disebut akan menjadi korban langsung.
Peringatan ini selaras dengan berbagai laporan sebelumnya bahwa masyarakat adat Papua sering kali tidak dilibatkan dalam perencanaan proyek besar
Dan kerap berada di pihak yang paling dirugikan ketika konsesi mulai berjalan.
Baca Juga: Nasib Honorer Gagal PPPK Paruh Waktu Masih Menggantung, Pemda Akhirnya Bicara Terbuka
Aktivis dalam percakapan tersebut menekankan bahwa hilangnya hutan Papua akan memperbesar ketegangan sosial dan memperdalam luka historis yang belum terselesaikan.
Mengapa Papua Sangat Strategis?
Transkrip tersebut menyinggung bahwa Papua kini dilihat sebagai frontier terakhir bagi industri ekstraktif setelah Sumatera dan Kalimantan mengalami degradasi besar.
Baca Juga: Mahasiswa Sains Komunikasi FISIP Unida Dapat Pengalaman Langsung dari Pekerja Media
Faktor yang membuat Papua sangat “menggiurkan” bagi investor, Tutupan hutan primer luas
Lahan datar yang cocok untuk sawit dan tebu kemudian Cadangan tambang besar.
Serta Akses infrastruktur yang semakin terbuka
Hal ini membuat tekanan terhadap hutan Papua meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga: Mahasiswa Sains Komunikasi FISIP Unida Dapat Pengalaman Langsung dari Pekerja Media
Publik Mendesak Pemerintah Bertindak
Diskusi dalam podcast Bang Densu menegaskan bahwa pemerintah diminta bersikap tegas dan tidak mengulangi pola lama pembangunan berbasis deforestasi.
Pernyataan aktivis bahwa Papua sudah “terpetakan” dinilai sebagai alarm dini yang harus segera ditangani.
Tanpa langkah cepat, Papua berisiko kehilangan identitas ekologisnya dan bergabung dalam daftar wilayah Indonesia yang rusak akibat eksploitasi yang tak terkendali.***




