POJOKSATU.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, menjadi sorotan setelah ribuan porsi menu yang dikirim ke sekolah ditolak oleh pihak penerima.
Penolakan tersebut terjadi di SMAN 2 Pamekasan pada Senin (9/3/2026). Pihak sekolah memutuskan mengembalikan paket makanan karena menu yang diterima dinilai tidak layak dikonsumsi oleh para siswa.
Kepala SMAN 2 Pamekasan, Moh. Arifin, menjelaskan bahwa total lebih dari seribu porsi MBG dikembalikan karena kondisi makanan yang dianggap tidak memenuhi standar.
Baca Juga: Prabowo Resmikan 218 Jembatan Sekaligus, Akses Daerah Terpencil hingga Wilayah Bencana Diperkuat
Menurutnya, menu yang dikirim berisi dua iris tempe, dua iris tahu, serta ikan lele mentah yang dimasukkan dalam satu kotak plastik.
Bahkan, pihak sekolah menemukan ikan lele yang disebut masih hidup saat paket tersebut diterima.
“Menunya untuk tiga hari, isinya hanya tempe dua iris, tahu dua iris, dan lele mentah. Bahkan ada yang masih hidup. Baunya amis sekali,” kata Arifin.
Baca Juga: Prabowo Tegaskan Indonesia Tak Akan Ikut Blok Mana Pun, Singgung Dunia yang Dipenuhi Konflik
Ia mengungkapkan bahwa paket MBG tersebut merupakan jatah makanan bagi siswa untuk tiga hari ke depan, mulai Selasa hingga Rabu.
Namun pihak sekolah memilih menolak distribusi karena khawatir makanan tersebut justru menimbulkan masalah bagi siswa.
Arifin menilai kondisi ikan lele yang masih mentah berpotensi merusak bahan makanan lain seperti tahu dan tempe.
Baca Juga: 6 Tempat Bukber Viral di Jogja yang Instagramable, Cocok Nongkrong Sampai Malam
Selain itu, bau amis yang cukup kuat membuat siswa enggan menerima paket tersebut.
Pihak sekolah juga mempertimbangkan risiko kesehatan jika makanan tersebut tetap dibagikan kepada siswa.
Bahkan dikhawatirkan makanan itu tidak akan dibawa pulang oleh siswa dan justru menimbulkan pencemaran lingkungan di area sekolah.
Arifin juga mengungkapkan bahwa persoalan terkait kualitas menu MBG sebelumnya pernah terjadi.
Sekolah sempat menemukan minuman jus yang sudah tidak layak konsumsi serta buah yang terdapat ulat.
Baca Juga: Imbas Perang Iran, Lemahnya Rupiah dan Naiknya Minyak Bisa Picu Kenaikan Harga Barang di Indonesia
Sementara itu, ahli gizi dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) As-Salman, Fikri Mutawakkil, mengakui adanya penolakan menu MBG di SMAN 2 Pamekasan.
Ia menyampaikan permintaan maaf kepada pihak sekolah dan berjanji akan melakukan evaluasi terhadap sistem distribusi makanan tersebut.
“Kami meminta maaf. Penolakan ini menjadi bahan evaluasi agar ke depan bisa lebih baik,” ujar Fikri.
Fikri menjelaskan bahwa penggunaan lele marinasi mentah sebenarnya dimaksudkan untuk menjaga kandungan gizi makanan bagi siswa.
Baca Juga: 7 Restoran Viral di Jakarta untuk Bukber 2026, Tempatnya Instagramable dan Menu Ramadan Spesial
Menurutnya, metode tersebut diyakini dapat mempertahankan nilai nutrisi lebih baik dibandingkan jika ikan dimasak berulang kali.
Meski demikian, pihaknya membantah bahwa ada lele yang masih hidup saat didistribusikan.
Ia mengaku sudah melakukan pengecekan langsung kepada peternak yang menyuplai ikan tersebut.
Kasus ini pun menjadi perhatian publik dan memunculkan kritik terhadap kualitas pelaksanaan program MBG di daerah.***




