POJOKSATU.id - Keputusan mengejutkan datang dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, yang memilih meniadakan pesta kembang api di malam pergantian tahun.

Jakarta, yang selama ini identik dengan pesta akbar dan letupan cahaya di langit malam pada setiap 31 Desember, kini mengambil langkah berbeda.

Bukan tanpa alasan, Pramono menegaskan bahwa keputusan ini diambil sebagai wujud empati terhadap ribuan warga di Sumatera Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Baca Juga: Eks Menlu Malaysia Tegur Tito, Soal Sumbangan Tak Boleh Dinilai Kecil atau Besar dan Suruh Belajar dalam Perkataannya

Yang tengah berjuang memulihkan diri pascabencana banjir dan longsor yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Dalam pernyataan resminya, Pramono menyebut bahwa Jakarta sebagai ibu kota memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan kepedulian.

Bukan justru berpesta ketika saudara sebangsa mengalami duka.

Baca Juga: Formasi CPNS 2026 Fokus Pendidikan, Peluang Guru dan Tenaga Kependidikan Kembali Terbuka

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan perayaan pergantian tahun tetap berlangsung, namun digelar dengan konsep yang jauh lebih sederhana dan tidak berlebihan.

"Yang paling utama, tidak ada kemeriahan yang berlebihan, apalagi yang bersifat mewah-mewah. Saya tidak menginginkan itu,"

kata Pramono di Ancol Barat depan awak media dikutip pojoksatu.id dari detik.com (19/12/2025)

Baca Juga: Formasi CPNS 2026 Fokus Pendidikan, Peluang Guru dan Tenaga Kependidikan Kembali Terbuka

Sebagai pengganti pesta kembang api, Pemprov DKI menyiapkan atraksi drone yang lebih senyap namun tetap menarik secara visual.

Selain itu, akan ada sesi doa bersama khusus untuk korban bencana di Sumatera.

Pramono menekankan bahwa ruang doa tersebut bukan formalitas.

Tetapi momentum bagi masyarakat ibu kota untuk berhenti sejenak dan mengingat ujian berat yang sedang dialami ribuan keluarga di wilayah terdampak.

Baca Juga: Masih Terisolasi! Bobby Akui 10 Desa di Sumut Masih Lumpuh Total Usai Banjir Maut

Keputusan ini mendapat perhatian besar dari publik.

Banyak warga yang mengaku terkejut karena langkah seperti ini jarang diambil oleh pemerintah daerah dalam momentum besar seperti tahun baru.

Namun tak sedikit pula yang memberikan apresiasi. Di media sosial, ragam komentar positif mengalir.

Baca Juga: Ratusan Honorer Brebes Datangi DPRD, Minta Kepastian Diangkat PPPK Paruh Waktu karena Tak Masuk Database

Banyak yang menilai keputusan Pramono sebagai bentuk kepekaan sosial dan keteladanan bagi pejabat publik lainnya.

Sementara itu, pemerintah pusat sebelumnya juga menegaskan bahwa penanganan bencana di Sumatera menjadi prioritas nasional.

Infrastruktur yang rusak, korban yang mengungsi, serta berbagai dampak turunan dari bencana tersebut membutuhkan perhatian intensif.

Baca Juga: Eks Menlu Malaysia Tegur Tito, Soal Sumbangan Tak Boleh Dinilai Kecil atau Besar dan Suruh Belajar dalam Perkataannya

Dalam konteks ini, langkah Pramono dianggap selaras dengan semangat solidaritas nasional yang tengah dibangun pemerintah.

Pengamat kebijakan publik menilai bahwa langkah Jakarta dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menyikapi kondisi nasional saat sedang berada dalam masa duka.

Momentum tahun baru bukan sekadar hiburan, melainkan ruang untuk merefleksikan perjalanan bangsa.

Ketika sebagian wilayah Indonesia masih tenggelam dalam lumpur dan puing bencana, pesta kembang api yang meriah justru bisa dianggap tidak peka terhadap situasi.

Meski demikian, Pemprov DKI tetap ingin memastikan bahwa suasana malam pergantian tahun tidak kehilangan maknanya bagi warga.

Sejumlah warga yang ditemui di kawasan Sudirman–Thamrin mengaku mendukung langkah tersebut.

Baca Juga: Eks Menlu Malaysia Tegur Tito, Soal Sumbangan Tak Boleh Dinilai Kecil atau Besar dan Suruh Belajar dalam Perkataannya

Mereka menilai bahwa keputusan ini menunjukkan sisi kemanusiaan yang kuat dari pemerintah daerah.

Bahkan sebagian berharap dana perayaan yang biasanya dialokasikan untuk pesta kembang api dapat dialihkan untuk bantuan kemanusiaan di wilayah terdampak bencana.

Di tengah berbagai dinamika perayaan tahun baru di kota-kota besar dunia, keputusan Jakarta memilih kesederhanaan justru menjadi sorotan tersendiri.

Baca Juga: Eks Menlu Malaysia Tegur Tito, Soal Sumbangan Tak Boleh Dinilai Kecil atau Besar dan Suruh Belajar dalam Perkataannya

Keheningan tanpa dentuman kembang api diyakini memberi ruang bagi warga untuk mendoakan sesama.

Sekaligus menunjukkan bahwa pesta bukanlah prioritas ketika bangsa sedang diuji.***