POJOKSATU.id - Kehebohan besar merebak setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa sebagian jenazah yang sempat masuk dalam data korban banjir besar di Sumatera ternyata bukan korban baru.
Melainkan jenazah lama yang terangkat dari makam dan terbawa arus banjir.
Temuan ini memaksa BNPB melakukan koreksi jumlah korban meninggal dunia agar data yang disampaikan ke publik benar-benar akurat.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
"Banjir dan longsor juga berdampak di area pemakaman. Ini kemudian diidentifikasi beberapa korban yang sebelumnya sudah meninggal,"
"tapi karena area pemakaman ini terdampak, kemudian jasadnya juga ditemukan oleh tim gabungan pencarian,"
ujar Abdul Muhari Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB
dikutip pojoksatu.id dari Kompas.com, Minggu (14/12/2025).
Baca Juga: Hati-hati! Hal Ini Bisa Membuat KIP Kuliah Dicabut Kampus
Peristiwa ini terungkap ketika tim gabungan menemukan beberapa jenazah di lokasi yang tidak berhubungan dengan laporan warga hilang.
Setelah proses identifikasi, petugas menyimpulkan bahwa jenazah-jenazah itu berasal dari makam yang tergerus banjir dan bukan korban bencana terbaru.
Situasi tersebut kemudian memunculkan dinamika baru dalam pendataan korban, karena setiap jasad yang ditemukan harus melalui pencocokan identitas secara detail.
Baca Juga: Kabar Gaji PNS Januari 2026, Golongan III Tetap Sesuai PP 5 Tahun 2024, Ini Rincian Lengkapnya
BNPB menyebut bahwa proses verifikasi dilakukan berlapis, mulai dari pemeriksaan fisik, pakaian, hingga cocokkan data administrasi kependudukan.
Pendataan ulang ini penting mengingat gelombang banjir yang menerjang sejumlah daerah di Sumatera bukan hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga menghantam permakaman warga.
Di beberapa titik, tanah makam amblas terbawa derasnya arus sehingga jenazah yang telah lama dikuburkan ikut terangkat.
Fakta mencengangkan ini langsung menjadi perbincangan publik, terlebih setelah laporan warga di Aceh Timur yang menemukan jenazah masuk ke dalam rumah mereka pascabanjir.
Baca Juga: Hati-hati! Hal Ini Bisa Membuat KIP Kuliah Dicabut Kampus
Warga awalnya mengira bungkusan itu hanyalah sampah yang terseret arus, namun ketika diperiksa lebih dekat, mereka terpaku melihat sosok jenazah yang masih terbalut kain kafan.
Insiden tersebut dengan cepat menyebar ke media sosial dan memicu gelombang viral karena dianggap sebagai gambaran ekstrem dari dahsyatnya banjir kali ini.
BNPB menegaskan bahwa koreksi data korban bukan berarti menurunkan tingkat kewaspadaan, melainkan justru memperlihatkan betapa kompleksnya penanganan bencana berskala besar.
Operasi SAR yang terus berlangsung kerap menemukan jasad di lokasi berbeda-beda, sehingga diperlukan ketelitian sebelum menjadikannya bagian dari data resmi.
Penyesuaian data ini menunjukkan bahwa tim di lapangan bekerja secara hati-hati agar tidak terjadi kesalahan informasi kepada masyarakat.
Di sisi lain, fenomena makam yang tergerus banjir bukan kali ini saja terjadi.
Baca Juga: Hati-hati! Hal Ini Bisa Membuat KIP Kuliah Dicabut Kampus
Wilayah dengan karakter tanah labil dan curah hujan tinggi memang berpotensi mengalami longsor dan erosi di area pekuburan.
Namun banjir di Sumatera kali ini mencatatkan dampak yang jauh lebih besar karena intensitas hujan ekstrem dan aliran sungai yang tidak mampu menahan volume air.
Beberapa ahli kebencanaan menilai bahwa terangkatnya jenazah dari makam dapat menjadi indikator kerusakan ekologis yang serius.
Kondisi pemakaman yang berada dekat aliran sungai atau dataran rendah membuat lokasi tersebut rentan ketika banjir besar datang.
Pemerintah daerah diminta segera melakukan pemetaan ulang zona rawan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Meski data korban telah dikoreksi, BNPB menegaskan bahwa jumlah korban banjir dan longsor di Sumatera tetap sangat tinggi.
Baca Juga: Kabar Gaji PNS Januari 2026, Golongan III Tetap Sesuai PP 5 Tahun 2024, Ini Rincian Lengkapnya
Ribuan warga masih mengungsi, dan proses pencarian terhadap warga hilang terus dilakukan.
Pemerintah pusat dan daerah diminta untuk memperkuat sistem peringatan dini serta memperbaiki tata ruang agar bencana tidak menimbulkan kerusakan sedalam ini lagi.
Kehebohan soal jenazah yang terangkat dari kuburan memang mengundang emosi dan kepanikan.
Baca Juga: Hati-hati! Hal Ini Bisa Membuat KIP Kuliah Dicabut Kampus
Namun bagi BNPB, hal terpenting adalah memastikan bahwa setiap data yang dirilis memiliki dasar yang kuat.
Publik diimbau untuk tetap mengikuti informasi resmi dan tidak menyebarkan spekulasi yang dapat memperkeruh situasi.
Dalam kondisi darurat seperti ini, akurasi data menjadi pondasi utama untuk merumuskan langkah penanganan yang tepat.***




