POJOKSATU.ID - Warga di Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, Madura, dibuat geger setelah adanya gua bawah tanah ketika menggali tanah untuk proyek pertambangan.
Gua itu memiliki aliran air yang memicu desas desus bahwa lorongnya bahkan tembus hingga ke Makassar, Sulawesi Selatan. Klaim yang cepat viral di media sosial.
Klaim bahwa gua ini “tembus ke Makassar” langsung menyedot perhatian warganet dan memicu berbagai teori misteri serta peluang wisata alam.
Namun hingga kini belum ada penelitian resmi dari pihak speleologi atau lembaga geologi yang memastikan keberadaan lorong bawah laut.
Baca Juga: Side Job yang Cocok untuk Gen Z! Peluang Tambahan Penghasilan di Era Digital
Yang menghubungkan Madura dan Sulawesi.
Pihak pemerintah daerah dan Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Pamekasan menyatakan bahwa mereka masih melakukan verifikasi lokasi.
Kami masih menelusuri keaslian gua, apakah ini memang gua alami atau lubang bekas tambang. Kami mohon waktu untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Para geolog lokal mengingatkan agar warga tidak cepat mengambil kesimpulan.
Dr. Lina Wardani, dosen geologi di Universitas Trunojoyo Madura, menyatakan.
Secara ilmiah, hubungan langsung antara Madura ke Makassar melalui lorong gua adalah sangat tidak mungkin tanpa bukti kuat.
"namun aliran air dan lubang besar memang harus segera diteliti demi keselamatan.”
Penemuan ini pula semakin menyoroti aktivitas tambang ilegal dan perubahan topografi di wilayah tersebut.
Sebelumnya lokasi itu telah menjadi sorotan karena praktik galian C yang diduga merusak lingkungan.
Warga mengkhawatirkan stabilitas tanah dan keamanan bangunan sekitar.
Kehebohan yang muncul tidak hanya berasal dari dugaan adanya lorong menuju Sulawesi.
Tetapi juga dari potensi kawasan itu untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alam baru.
Sejumlah warga bahkan mulai menyebut lokasi tersebut sebagai semacam “goa air bawah tanah” yang diyakini bisa menarik minat wisatawan jika dikelola dengan baik.
Namun, antusiasme itu perlu diimbangi dengan kehati-hatian.
Tanpa kajian ilmiah, pemetaan geologi, serta regulasi wisata yang jelas, area tersebut justru dapat menimbulkan risiko bagi keselamatan pengunjung.
Struktur tanah, kedalaman rongga, aliran air, hingga potensi longsor atau runtuhan harus diteliti lebih dulu sebelum lokasi dibuka secara luas.
Baca Juga: PPPK Paruh Waktu 2026, Benarkah Ada Pengangkatan Baru? Ini Faktanya
Dengan pengelolaan yang tepat, tempat itu memang bisa menjadi daya tarik alam baru.
Tetapi tanpa langkah pengamanan yang matang, potensi wisata tersebut bisa berubah menjadi titik bahaya bagi masyarakat.
Kasus ini menjadi pengingat, ketika fenomena alam baru ditemukan, respons pertama bukan spekulasi heboh.
Melainkan pengecekan ilmiah, penanganan lingkungan, dan perlindungan masyarakat sekitar.
Gua yang ditemukan di Pamekasan bisa jadi potensi wisata, tetapi bisa juga ancaman bila stabilitasnya tidak diketahui.***




