POJOKSATU.ID - Aceng Rosadi berdiri dengan raut wajah canggung ketika namanya dipanggil maju oleh Gubernur Kalimantan Tengah.

Pada upacara peringatan Hari Guru Nasional 2025 di SMAN 5 Palangka Raya, Selasa 25 November 2025.

Ia menerima penghargaan sebagai salah satu guru terbaik tingkat provinsi pada jenjang Sekolah Khusus (SKH).

Sebuah pencapaian yang justru membuatnya teringat perjalanan panjang penuh liku sebagai pendidik anak-anak berkebutuhan khusus.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Buka Suara soal Video Rumah Janda 5 Anak Garut Tak Dapat Bansos, Viralkan Saja, Itu Kontrol Sosial

Pria kelahiran Kapuas, 12 Juni 1985 itu telah mengabdikan hidupnya selama 14 tahun di SKH Negeri 1 Palangka Raya.

Sekolah yang sebelumnya dikenal sebagai Sekolah Luar Biasa (SLB).

Selama hampir satu setengah dekade, Aceng merasakan suka-duka yang tidak selalu terlihat oleh masyarakat luas.

Mengajar anak-anak berkebutuhan khusus bukan sekadar menyampaikan materi pembelajaran.

Baca Juga: Kado Hari Guru Nasional 2025! 2.471 Formasi PPPK Resmi Dibuka untuk Guru Non-ASN di Kota Tangerang

Bagi Aceng, tugas itu dimulai jauh sebelum proses belajar mengajar dilakukan di kelas.

“Tantangannya bagaimana kami bisa menemukan bakat, minat, dan potensi anak,” ujar Aceng.

“Guru di SLB harus mengenal anak lebih dalam, bukan hanya akademik.”

Sebelum mengajar, guru harus melakukan asesmen untuk mengetahui profilling kekuatan, kelemahan, dan kebutuhan setiap murid.

Baru setelah itu mereka menyusun program pembelajaran yang benar-benar disesuaikan dengan keadaan anak.

Lucunya, Aceng tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus ketika pertama kali mengajar di SLB pada tahun 2011.

Ia adalah alumni Pendidikan Biologi Universitas Palangka Raya tahun 2007.

“Awalnya pasti kaget. Sempat depresi karena tidak punya dasar pendidikan SLB,” tuturnya.

Baca Juga: Heboh! Drama Ijazah Jokowi Terus Bergulir, Lembaga Negara Kembali Dipertanyakan

Namun setelah tiga bulan, ia mulai menemukan ritme mengajar. Proses adaptasi itu membawanya masuk ke pendidikan luar biasa secara formal.

Ia lantas menempuh S1 Pendidikan Luar Biasa di Universitas Lambung Mangkurat dan lulus pada 2016.

Sejak itu, komitmennya semakin kuat. “Mereka terlahir bukan untuk dikasihani, tapi diberikan kesempatan. Tugas kami membuka kesempatan itu,” ujarnya.

Menurut Aceng, salah satu prinsip yang ia pegang teguh adalah introspeksi diri.

Baca Juga: Momentum Hari Guru Nasional 2025, Pemkot Tangerang Beri Insentif Guru Tembus 1,3 Juta

“Kalau anak-anak tidak paham materi, bukan salah mereka. Berarti metode saya yang kurang tepat.”

Karena itu, guru SKH harus mampu menyederhanakan materi, menyesuaikan pendekatan.

Serta memastikan pembelajaran benar-benar fungsional untuk kehidupan sehari-hari.

Hal ini menjadi penting karena kemampuan anak berkebutuhan khusus sangat beragam.

“Ada yang sudah pandai berhitung tingkat lanjut, tapi ada juga yang baru belajar membaca,” ujarnya.

Namun hampir semua program vokasi tersebut berjalan secara swadaya, tanpa insentif tambahan bagi para guru.

“Semua keterampilan itu disediakan sekolah, tapi sumber dayanya dari guru-guru yang punya skill. Tidak ada insentif, murni sedekah dari guru,” jelasnya.

Karena itu, ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih terhadap sekolah-sekolah khusus.

“Anak-anak ini harus punya kompetensi fungsional. Pendidikan vokasi perlu didorong dan difasilitasi,” tegasnya.

Baca Juga: Viral Rumah Reyot Janda 5 Anak di Garut Tapi Tak Dapat Bantuan Sosial, RT dan RW Marah ke Warga yang Viralkan

Di momentum Hari Guru 2025 ini, Aceng menegaskan kembali pentingnya membuka ruang seluas-luasnya.

Bagi penyandang disabilitas untuk mengakses pendidikan dan kesempatan bekerja.

Ia juga berharap pemerintah memberikan peningkatan sarana prasarana bagi sekolah khusus.

Termasuk aksesibilitas dan sumber daya manusia yang memadai.

“Anak-anak berkebutuhan khusus punya potensi besar. Tugas kita mengawalnya, bukan membiarkan mereka tertinggal,” ucapnya.

Penghargaan yang ia terima pada upacara Hari Guru Nasional bukanlah akhir perjuangan.

Melainkan awal dari tanggung jawab baru sebagai inspirasi bagi guru-guru lain di Kalimantan Tengah.***