POJOKSATU.id, JAKARTA— Pengamat politik Citra Institute, Efriza, mengkritik sikap Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang membawa-bawa nama Soekarno setelah ditetapkan tersangka oleh KPK.

Menurut Efriza, Hasto telah mencoreng nama besar Soekarno. Karena Bung Karno dikenal memiliki sikap terpuji dan bukan koruptor.

"Jadi dia sedang berjuang agar namanya tetap baik, padahal perilakunya korup. Ia malah mencoreng nama besar Soekarno, sebab Soekarno amat mencintai rakyatnya bukan mengabaikan suara rakyat, makanya Soekarno dianggap penyambung lidah rakyat," ujar Efriza, Jumat (17/12).

Efriza menyebut tindakan Hasto itu keliru. Dia mengatakan perjuangan Soekarno jauh berbeda dengan Hasto.

Baca Juga: Deddy Corbuzier Ulang Tahun ke-48, Habib Jafar Ungkap Suami Sabrina Chairunnisa Itu 'Anak Tangga' Besar dalam Dakwahnya

"Narasi Hasto seolah menyamakan dirinya dan Soekarno adalah pernyataan dan sikap keliru. Soekarno menyatakan non-kooperatif karena untuk kepentingan bangsa dan negerinya, perilaku Soekarno amat terpuji, bukan korup," ujarnya dilansir detikcom.

PDIP Beri Penjelasan

PDIP melalui juru bicaranya, Guntur Romli, memberi pembelaan ke Hasto. Menurut Guntur, Hasto tidak sedang menyamakan dirinya dengan Bung Karno.

Namun dengan mengutip Bung Karno, Hasto ingin mengajak warga kembali buku-buku Bung Karno khususnya 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' dan meneladani perjuangan Bung Karno.

Baca Juga: Nusron Wahid Kenang Gigihnya Perjuangan KH Raden Asnawi

Menurutnya, tidak ada alasan untuk takut dan takluk, karena seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bahwa ketakutan adalah ilusi.

Menurut Guntur, spirit dari ucapan Bung Karno adalah menegaskan perjuangan tidak mengenal titik akhir.

Meski penjajah sudah terusir, namun cara-cara penjajahan masih bisa dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai satu bangsa.

“Dan juga pembunuhan karakter terhadap lawan politik dengan politisasi kasus hukum, seperti yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda terhadap Bung Karno yang menjebloskannya ke penjara dan melakukan pengasingan," jelas Guntur Romli dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (28/12/2024).

 

Sebelumnya, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto membawa-bawa nama Bung Karno usai dirinya menjadi tersangka KPK terkait kasus Harun Masiku.

Melalui video yang disebar, Hasto mengklaim penetapan tersangkanya adalah bentuk intimidasi.

Hasto lalu mengutip 'Bab 9 Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia', di mana pada bab itu memiliki subjudul 'Masuk Tahanan'. Dalam buku itu, Bung Karno mengatakan masuk penjara adalah bagian dari pengorbanan cita-cita.

"Karena sebagaimana dilakukan oleh Bung Karno masuk penjara adalah bagian dari pengorbanan cita-cita, untuk itu jangan pernah takut menyuarakan kebenaran," kata Hasto, Kamis (26/12).