POJOKSATU.id, JAKARTA – Dalam pemeriksaan penyidik di Polda Metro Jaya, Nanang Irawan alias Nanang Gimbal sempat membahas soal rasa sakit hatinya kepada korban Sandy Permana.

Pria berusia 45 tahun ini berkilah menyebut Sandy Permana meludah di depannya hingga menebang pohon tanpa izin di bekas rumah milik Nanang Gimbal.

Tapi Ade Andriani membuat pembelaan atas semua cerita Nanang ini. Suaminya yang telah dibunuh Nanang dengan sadis di sekitar rumah mereka, tidak mungkin melakukan itu.

Menurut versi Ade Andriani, proses penebangan pohon itu memang dilakukan oleh suaminya. Dan mereka memang belum meminta izin karena saat itu Nanang Gimbal sudah tak tinggal di rumah yang pohonnya ditebang.

Baca Juga: Agus Salim Ancam Penjarakan 10 Ribu Warga NTT yang Terima Donasi, Denny Sumargo: Gue Paling Depan

Menurutnya hal itu terjadi pas acara nikah keluarganya dan tidak semua pohon yang ditebang. Dan saat itu Nanang mau berkemas pindah dari rumah mereka.

“Dan itu juga posisinya kita tebang pohon itu posisinya dia nggak tinggal di rumah itu lagi, rumah itu sudah dijual, tapi dia masih di sana mungkin untuk berkemas-kemas di rumah itu kali," jelas Ade saat dihubungi, Sabtu (18/1/2025).

Ade Andriani juga mengaku sudah meminta maaf ke pihak yang dirugikan yaitu keluarga Nanang Gimbal atas penebangan pohon tersebut.

Baca Juga: Mayor Teddy Respon Aduan Siswa SD Ulunaai Hiligoo Nias yang Tak Ada Guru, Ditunggu Ya Adik-adik

Selain masalah pohon, hal yang membuat Nanang sakit hati yaitu mendiang Sandy Permana meludah di depannya. Namun istri korban kembali membantah hal tersebut.

"Nggak, nggak pernah, karena saya tahu sifat dan karakter suami saya, suami saya punya etika, dia nggak mungkin begitu," tegas Ade Andriani.

Ade Tutup Pintu Maaf

Ade Andriani, istri mendiang Sandy Permana menutup pintu maaf dengan seluruh keluarga Nanang pelaku pembunuh suaminya, meski mereka hidup bertetangga.

"Nggak, karena nggak gampang ya kita maafin seseorang yang usah menghilangkan nyawa suami ya, dan gampang buat dia untuk ngucapin maaf. Nggak ada pintu damai," tegas Ade Andriani.

Dalam pemeriksaan di polisi, Nanang sempat membahas soal rasa sakit hatinya kepada korban. Ia menegaskan bahwa masalahnya dengan Sandy Permana memang berlandaskan sakit hati.***