POJOKSATU.id - Gelombang belasungkawa terus mengalir tanpa henti.
Dari hari ke hari, orang-orang datang silih berganti untuk menunjukkan rasa duka dan empati kepada para korban.
Karangan bunga pun memenuhi lokasi, seolah menjadi simbol cinta dan doa yang tak terucap.
Tak hanya itu, banyak juga masyarakat yang berbagi makanan atas nama para korban.
Baca Juga: Proyek Banjir Terancam Tertunda, Pemko Medan Kebut Pembebasan Lahan Sei Kera
Aksi sederhana ini justru terasa begitu hangat, karena menunjukkan bahwa kepedulian masih hidup di tengah masyarakat.
Namun, di antara berbagai bentuk empati yang hadir, ada satu hal yang cukup menyita perhatian.
Seseorang membuatkan buku yasin khusus, yang di dalamnya tertulis nama-nama para korban.
Baca Juga: Resep Tongseng Daging Sapi Gurih Manis, Kuah Kental Bumbu Meresap
Sebuah cara yang unik sekaligus menyentuh untuk mengenang mereka dalam doa.
Buku yasin tersebut bukan sekadar lembaran bacaan, tapi juga menjadi simbol bahwa setiap nama yang tertulis tidak dilupakan.
Ada harapan, doa, dan kenangan yang terus hidup di dalamnya.
Baca Juga: Bisa Daftar CPNS 2026 Sambil Ikut Seleksi Kopdes? Simak Faktanya
Pemandangan ini seolah mengingatkan bahwa di tengah duka yang mendalam, masih banyak tangan-tangan baik yang hadir tanpa diminta.
Mereka datang membawa ketulusan, bukan sekadar formalitas.
Di balik kesedihan yang menyelimuti, terselip kehangatan yang menenangkan.
Baca Juga: Jadwal Terbaru Seleksi Koperasi Merah Putih 2026, Peserta Wajib Cek Sekarang
Mungkin benar, di negeri ini kebaikan tidak pernah benar-benar hilang—ia selalu menemukan jalannya untuk hadir, bahkan di saat yang paling gelap sekalipun.***




