POJOKSATU.id - Setiap 14 Agustus, Indonesia memperingati Hari Pramuka. Namun, di balik seragam dan upacara yang menjadi bagian dari peringatannya, terdapat perjalanan panjang yang dimulai sejak masa Hindia-Belanda.

Kepanduan mulai dikenal di Batavia pada 1912 melalui kelompok yang menjadi cabang Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO).

Pada 1914, organisasi tersebut berdiri sendiri sebagai Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV).

Baca Juga: Bawa Pesan Rekonsiliasi, Tantan Sulthon Bukhawan Nahkodai PWI Jawa Barat 2026–2031

Dua tahun kemudian, Mangkunegara VII mendirikan Javaansche Padvinders Organisatie, organisasi kepanduan yang beranggotakan bumiputera.

Setelah itu, berbagai organisasi kepanduan bermunculan dengan latar belakang agama, kebangsaan, kesukuan dan kelompok sosial.

Perkembangan kepanduan berlangsung pesat. Lord Baden-Powell bahkan mengunjungi Batavia, Semarang dan Surabaya pada Desember 1934.

Baca Juga: Beasiswa Chevening OCIS Fellowship 2027 ke Oxford, Indonesia Bisa Daftar hingga 6 Oktober 2026

Para pandu dari Hindia-Belanda juga mengikuti kegiatan internasional, termasuk Jambore Sedunia 1933 di Hungaria dan 1937 di Belanda. Di dalam negeri, All Indonesian Jamboree digelar di Yogyakarta pada 19-23 Juli 1941.

Dari Perpecahan Menuju Penyatuan
Setelah Indonesia merdeka, muncul upaya menyatukan organisasi kepanduan.

Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia di Surakarta pada 27-29 Desember 1945 melahirkan Pandu Rakyat Indonesia sebagai organisasi tunggal.

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Kontrak 1 Tahun, Apakah Bisa Diperpanjang dan Diangkat Jadi Penuh Waktu?

Namun, agresi militer Belanda pada 1948 membuat Pandu Rakyat dilarang beraktivitas di sejumlah wilayah.

Organisasi kepanduan kembali bermunculan hingga jumlahnya mencapai sekitar 100 kelompok yang tergabung dalam Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo).

Jumlah yang besar justru membuat gerakan kepanduan sulit bergerak sebagai satu kekuatan.

Perbedaan kelompok dan kepentingan memperlemah posisi Perkindo.

Baca Juga: Polisi Tangkap Pelaku Penembakan Air Gun di Balikpapan, Ternyata Statusnya Mahasiswa

Situasi tersebut mendorong Presiden Soekarno dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk menggagas penyatuan kepanduan nasional.

Gagasan itu disampaikan Soekarno saat mengunjungi Perkemahan Besar Persatuan Kepanduan Putri Indonesia di Semanggi, Ciputat, pada awal Oktober 1959.

Tiga Tonggak Sebelum Pramuka Resmi Berdiri
Pemerintah kemudian membentuk panitia yang melibatkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prijono dan Muljadi Djojo Martono.

Pada 9 Maret 1961, nama Pramuka diresmikan, yang kemudian dikenal sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka.

Baca Juga: Sapu Bersih Reklame Bodong, Pemkab Jember Terjunkan Tim Gabungan Tertibkan Baliho di Sumbersari

Landasan hukumnya diperkuat melalui Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 pada 20 Mei 1961.

Selanjutnya, pada 20 Juli 1961 di Istora Senayan, para wakil organisasi kepanduan menyatakan kesediaan melebur ke dalam Gerakan Pramuka.

Puncaknya terjadi pada 14 Agustus 1961. Di halaman Istana Negara, Gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat.

Presiden Soekarno menyerahkan Panji Gerakan Pramuka kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang dilantik sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pertama.

Panji tersebut kemudian diarak oleh barisan Pramuka Jakarta mengelilingi ibu kota.

Sejak peristiwa itulah 14 Agustus ditetapkan sebagai Hari Pramuka.

Tanggal tersebut menjadi penanda lahirnya satu wadah kepanduan nasional setelah perjalanan panjang sejak era Hindia-Belanda. ***