POJOKSATU.ID - Harga emas perhiasan di pasar melonjak tajam sepanjang Oktober 2025.

Dari toko perhiasan hingga marketplace digital, kenaikannya mencapai 3–5% dalam sebulan.

Namun menariknya, inflasi nasional justru tetap rendah hanya 0,28% month-to-month dan 2,86% year-on-year menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).

Baca Juga: Diduga Langgar Aturan, LBH Merah Putih Desak PUPR Karawang Putus Kontrak Proyek Penahan Abrasi di Muara Pakisjaya

Kok bisa harga emas melonjak, tapi inflasi tetap adem.

Jawabannya ada di keseimbangan cerdas antara pola konsumsi masyarakat, stabilitas harga pangan, dan kebijakan moneter pemerintah.


Emas Naik karena Dunia Panas

Kenaikan harga emas sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia.

Baca Juga: Ada Bansos dan Subsidi, Simak Penjelasan Lengkap Ini!

Di pasar global, harga emas tembus US$2.420 per troy ounce, tertinggi sejak pandemi.

Pemicu utamanya: ketegangan geopolitik Timur Tengah dan kekhawatiran resesi global yang mendorong investor mencari safe haven.

Kondisi ini langsung berdampak ke pasar domestik.

Harga emas perhiasan di toko-toko seperti Logam Mulia dan UBS naik hingga Rp1,24 juta per gram, sedangkan emas perhiasan di ritel mencapai Rp1,3 juta per gram.

Baca Juga: 5 Pertanyaan yang Sering Buat Mahasiswa Panik saat Seminar Proposal, Siapkah Kamu Menjawabnya?

Namun meski naik signifikan, emas tidak cukup kuat mengguncang inflasi.

Sebab, emas bukanlah kebutuhan harian.

Kenaikannya hanya berpengaruh pada kelompok masyarakat menengah ke atas, tidak langsung memengaruhi harga pangan dan transportasi komponen terbesar pembentuk inflasi.


Peran Bank Indonesia Jaga Rupiah Tetap Tangguh

Salah satu alasan inflasi tetap terkendali adalah kestabilan nilai tukar rupiah.

Baca Juga: PIP Bantuan Anak Sekolah 2025, Siapa yang Berhak Dapat dan Bagaimana Cara Ceknya?

Sepanjang Oktober, rupiah berada di kisaran Rp15.900–Rp16.000 per dolar AS level yang masih aman untuk menjaga harga barang impor.

Bank Indonesia (BI) menjaga kondisi ini lewat kebijakan stabilisasi pasar valas dan suku bunga acuan 6,25%, serta koordinasi erat dengan pemerintah.

Stabilnya rupiah mencegah efek domino kenaikan harga emas terhadap sektor lain seperti logam industri, elektronik, dan energi.


Emas Jadi Tren Investasi Baru Gen Z

Meski tak banyak memengaruhi inflasi, kenaikan harga emas justru memunculkan tren gaya hidup baru, terutama di kalangan muda.

Baca Juga: PIP Bantuan Anak Sekolah 2025, Siapa yang Berhak Dapat dan Bagaimana Cara Ceknya?

Bukan lagi sekadar perhiasan, emas kini jadi simbol keamanan finansial dan investasi digital.

Platform seperti Tokopedia Emas, Pluang, dan Pegadaian Digital mencatat peningkatan transaksi lebih dari 20% sepanjang Oktober.

Generasi muda memilih emas sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.

Fenomena ini menarik di saat harga emas naik, justru makin banyak yang membelinya.

Baca Juga: TelkomGroup Bangun Pusat Data AI Raksasa di Batam, Siap Jadi 'Otak Digital' Asia Tenggara

Inilah tanda bahwa emas kini bukan sekadar komoditas, tapi bagian dari gaya hidup cerdas meski di sisi lain, potensi inflasinya minim karena konsumsinya tidak masif.


Inflasi Terkendali Berkat Harga Pangan dan Energi

Sementara emas menyala di pasar, sektor pangan justru memberi kesejukan.

Harga beras, daging ayam, dan minyak goreng menurun di sebagian besar provinsi, membantu menahan inflasi agar tetap stabil.

Baca Juga: Stasiun Tanah Abang Kini Megah, Pertanda Era Baru Transportasi Publik Zaman Prabowo

BPS mencatat, kelompok makanan, minuman, dan tembakau hanya memberi kontribusi 0,08 poin terhadap inflasi.

Padahal di bulan-bulan sebelumnya, kelompok ini sering jadi penyebab utama lonjakan harga.


Ketika Emas Bikin Inflasi Bersinar

Secara simbolis, harga emas yang naik memberi warna unik bagi perekonomian.

Di satu sisi, ia menunjukkan adanya tekanan global dan tren investasi baru.

Baca Juga: Kadin Tangsel Umumkan Peserta Resmi MUKOTA IV, 98 Peserta Versi SC Gugur

Namun di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa struktur ekonomi Indonesia kini lebih tangguh tidak mudah terguncang hanya oleh kenaikan satu komoditas.

Jika dulu inflasi mudah melonjak karena harga cabai atau bahan bakar, kini pemerintah mampu menjaga keseimbangan antara pangan, energi, dan nilai tukar.

Kenaikan harga emas justru menjadi indikator bahwa ekonomi domestik punya daya tahan lebih baik.


Stabilitas yang Mewah

Oktober 2025 menjadi bukti bahwa inflasi rendah tidak hanya soal angka, tapi hasil kerja koordinatif yang rapi antara pemerintah dan Bank Indonesia.

Kenaikan harga emas dan cabai hanya menjadi bumbu kecil di tengah stabilitas ekonomi yang lebih kuat.

Bagi masyarakat, pesan yang bisa diambil sederhana: jangan takut pada kenaikan harga sesaat, tapi tetap bijak mengatur keuangan dan belanja.

Karena dalam ekonomi, seperti halnya emas nilai sejati bukan di kilaunya, tapi di daya tahannya.***