POJOKSATU.ID - Harga beras dunia mengalami penurunan signifikan sepanjang 2024 hingga 2025.
Dari semula berada di kisaran USD 640 per metrik ton, harga kini turun mendekati USD 400an.
Penurunan ini disebut berkaitan dengan strategi baru Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Yang menegaskan tidak akan melakukan impor empat komoditas pangan utama, termasuk beras.
Baca Juga: Ditunggu Ribuan ASN! MenPANRB Klarifikasi Soal Isu Perubahan Status PPPK ke PNS, Ini Penjelasannya
Kepala Badan Pangan Nasional (NFA) Arief Prasetyo Adi menyampaikan bahwa keputusan tersebut ikut mempengaruhi dinamika perdagangan beras internasional.
Penyataan Arief disampaikan dalam Rapat Koordinasi Bidang Pangan Provinsi Banten di Pendopo Gubernur, Serang.
Kebijakan kita turut memicu harga beras di pasar dunia turun.
"Begitu Pak Menko sampaikan bahwa kita tidak mengimpor empat produk pangan, salah satunya beras, harga langsung bergerak,” ujar Arief.
Baca Juga: Belasan Dokumen Bermasalah, BKPSDM Jelaskan Dampaknya terhadap Jam Kerja dan Gaji PPPK Paruh Waktu
Menurut Arief, pasar global merespons tegas langkah Indonesia karena posisi Indonesia sebagai salah satu konsumen beras terbesar di dunia.
Ketika Indonesia menyatakan berhenti membeli, permintaan global langsung terkoreksi, memberi tekanan pada harga.
Berdasarkan data NFA, harga beras putih 5 persen dari Thailand, Vietnam, Pakistan, dan Myanmar pada Januari 2024 berada pada kisaran USD 622-655 per metrik ton.
Namun sejak pertengahan 2024, harga terus menurun akibat meredanya permintaan dari negara besar, termasuk Indonesia.
Arief menuturkan bahwa beberapa negara produsen mulai menyesuaikan harga.
“Beras dari beberapa negara turun dari USD 640, lalu USD 590, USD 490, dan hari ini sudah mendekati USD 400an,” kata dia.
Penurunan ini dinilai cukup tajam untuk ukuran pasar beras yang biasanya bergerak stabil.
Mengapa Kebijakan Indonesia Bisa Menekan Harga Global?
Baca Juga: Riki Acil, Anak Muda Karawang yang Jadi Tulang Punggung Pertanian Modern
Ada beberapa alasan ekonomis mengapa pengumuman Indonesia berdampak besar pada harga internasional:
1. Indonesia adalah Importir Beras Terbesar di Asia Tenggara
Setiap perubahan kebijakan konsumsi Indonesia mempengaruhi proyeksi penjualan negara produsen.
Jika Indonesia tidak membeli, negara lain harus bersaing menurunkan harga untuk menarik pasar baru.
2. Sentimen Pasar Sangat Sensitif
Deklarasi tidak impor ikut memengaruhi ekspektasi pedagang. Ekspektasi negatif terhadap permintaan memicu koreksi harga lebih cepat.
3. Produksi dalam Negeri Membaik
Kebijakan penyesuaian harga gabah nasional dan dukungan pemerintah menjelang panen raya 2025 membuat Indonesia lebih percaya diri untuk menahan impor.
4. Pasar Beras Global Sebenarnya Tidak Terlalu Besar
Berbeda dengan jagung atau gandum, perdagangan beras dunia relatif kecil. Itu sebabnya, perubahan keputusan satu negara besar saja bisa mengguncang pasar.
Kombinasi faktor inilah yang menyebabkan harga dunia turun hingga hampir USD 200 dari titik tertinggi.
Terkait kekhawatiran bahwa penurunan harga global bisa menekan harga gabah dalam negeri.
Arief memastikan bahwa pemerintah menjaga agar harga petani tetap stabil.
“Harga beras dunia turun, namun harga petani kita disesuaikan lebih baik lagi,” ucapnya.
Baca Juga: Resmi Diluncurkan! Modul Penyusunan SKP 2025 Jadi Referensi Nasional Bagi JF Analis SDM Aparatur
Pemerintah menerapkan kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP), penyerapan Bulog, dan dukungan pembiayaan bagi petani.
Untuk memastikan mereka tetap mendapat keuntungan yang layak selama panen raya.
Kebijakan stop impor dinilai sejalan dengan langkah Indonesia menuju kemandirian pangan.
Dengan menjaga produksi nasional dan menahan impor, pemerintah berharap petani lebih terlindungi dari fluktuasi pasar global.
Baca Juga: Heboh! PPPK Paruh Waktu Gagal Cairkan JHT, Sementara Yang Penuh Waktu Justru Bisa? Ini Penyebabnya
Beberapa pengamat menyebut kebijakan ini sebagai “uji keberanian” pemerintah, mengingat tekanan dari pasar dunia cukup besar.
Namun sejauh ini, strategi tersebut tampak menghasilkan efek positif yaitu harga global turun, sementara harga dalam negeri tetap dijaga lewat intervensi pemerintah.
Untuk saat ini, Indonesia tetap tidak berencana membuka keran impor kecuali situasi darurat, seperti gagal panen atau gejolak pasokan nasional.
Harga beras dunia yang merosot dari USD 640 ke USD 400an tidak semata karena dinamika pasar global.
Tetapi juga buntut dari sikap Indonesia yang menghentikan impor beras.
Dengan produksi domestik yang membaik, pemerintah ingin memastikan petani terlindungi dan harga tetap stabil.
Penurunan harga global ini sekaligus menjadi indikator kuat bahwa posisi Indonesia dalam pasar beras internasional sangat berpengaruh.***




