POJOKSATU.ID - Pemerintah melalui PT Pertamina (Persero) kembali menyesuaikan harga bahan bakar minyak, jenis non-subsidi per Rabu, 6 November 2025.
Kenaikan ini berlaku di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina di Indonesia.
Kabar penyesuaian harga ini langsung menyita perhatian masyarakat, terutama para pengguna kendaraan pribadi dan pelaku logistik.
Namun, Pertamina memastikan bahwa kenaikan kali ini bersifat tertarget, hanya berlaku untuk BBM non-subsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex.
Baca Juga: Kadistrik Mandobo Minta 221 CPNS atau PPPK Tingkatkan Dedikasi, Ini Fakta Terbarunya!
Sementara jenis subsidi seperti Pertalite dan Bio Solar tetap di harga semula.
Mengacu pada laman resmi Pertamina dan pengumuman yang dirilis pada 6 November 2025.
Harga Dexlite naik menjadi Rp15.250 per liter, dari sebelumnya Rp14.700.
Sementara itu, Pertamina Dex naik ke Rp16.050 per liter dari Rp15.450 per liter.
Baca Juga: Ringkasan LENGKAP Materi Teks Cerita Pendek Bahasa Indonesia Kelas VIII Semester 2 Kurikulum Merdeka
Adapun harga Pertamax (RON 92), Pertamax Turbo, dan Pertamax Green 95 tidak mengalami perubahan.
Artinya, masyarakat pengguna bensin beroktan tinggi masih bisa menikmati harga stabil.
Sementara kenaikan hanya dirasakan pengguna kendaraan bermesin diesel.
“Kebijakan ini mempertimbangkan pergerakan harga minyak mentah dunia serta kurs dolar terhadap rupiah dalam beberapa bulan terakhir,” jelas Fadjar Santoso, iNews.id, 6 November 2025.
Menurut Fadjar, evaluasi harga dilakukan secara berkala mengikuti Keputusan Menteri ESDM.
Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang formula harga dasar BBM nonsubsidi.
Kenaikan harga Dexlite dan Pertamina Dex dianggap masih dalam batas wajar.
Dalam dua bulan terakhir, harga minyak dunia sempat menyentuh level USD 88 per barel, naik sekitar 4% dibandingkan bulan sebelumnya.
Baca Juga: Pest Control dan Fumigasi Sarana, Langkah Nyata KAI Daop 3 Cirebon untuk Kenyamanan Pelanggan
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah biaya distribusi dan logistik bahan bakar di dalam negeri.
Beberapa wilayah seperti Kalimantan dan Maluku mencatat ongkos logistik lebih tinggi, sehingga berdampak pada harga eceran.
“Pertamina tetap berkomitmen menjaga keseimbangan antara kemampuan masyarakat dan keberlanjutan bisnis energi nasional,” ujar Fadjar.
Kenaikan pada jenis non-subsidi adalah langkah rasional karena konsumen BBM ini umumnya berasal dari kelompok menengah ke atas atau pelaku usaha.
Ini cara pemerintah menekan beban subsidi tanpa menambah tekanan inflasi secara langsung.
Meski sebagian pengguna kendaraan pribadi merasa terbebani, kalangan pelaku transportasi menganggap kenaikan ini masih bisa ditoleransi.
Di sisi lain, sejumlah pengusaha logistik mulai menyesuaikan tarif pengiriman jarak jauh.
Dalam keterangan resminya, Pertamina menjamin stok BBM nasional dalam kondisi aman.
Perusahaan pelat merah ini juga menegaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan.
Dengan tetap mengutamakan pelayanan dan pasokan merata di seluruh wilayah Indonesia.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga menyatakan bahwa subsidi energi tahun 2025 tetap dijaga untuk melindungi masyarakat rentan.
Sementara evaluasi terhadap harga nonsubsidi akan terus dilakukan setiap bulan menyesuaikan kondisi pasar global.
Kenaikan tertarget untuk BBM non-subsidi menjadi sinyal.
Baca Juga: 10 Tempat Wisata Terindah di Indonesia yang Bikin Kamu Pengen Balik Lagi! No 3 Bikin Penasaran
Bahwa pemerintah kini lebih selektif dalam menjaga keseimbangan fiskal dan stabilitas ekonomi.
Di satu sisi, beban subsidi tetap dikontrol.
Di sisi lain, masyarakat pengguna BBM nonsubsidi diharapkan mulai beradaptasi dengan pola konsumsi energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Bagi publik, langkah ini menjadi pengingat penting: harga energi tak hanya soal angka.
Tapi juga bagian dari strategi besar menuju ketahanan energi nasional yang berkelanjutan.***




