POJOKSATU.ID - Bulan Oktober 2025 terasa pedas di dapur-dapur rumah tangga Indonesia.
Harga cabai merah dan cabai rawit naik tajam di banyak pasar tradisional, bahkan sempat tembus Rp75 ribu per kilogram di beberapa daerah.
Namun anehnya, inflasi nasional justru tetap rendah hanya 0,28% month-to-month dan 2,86% year-on-year, menurut Badan Pusat Statistik (BPS).
Baca Juga: Pelayanan SKCK Polsek Ciputat Timur Tuai Pujian dari Kalangan Muda
Pertanyaannya: bagaimana bisa harga cabai yang naik segila itu tidak membuat inflasi melonjak.
Jawabannya ternyata ada di musim panen, distribusi pangan, dan kebijakan cepat pemerintah.
Cabai Naik karena Alam, Bukan karena Ulah
Kenaikan harga cabai di Oktober bukan karena ulah tengkulak atau spekulan, melainkan karena cuaca ekstrem.
Baca Juga: Langkah-langkah Mengajukan Perbaikan Data DTKS Biar Nggak Gagal Dapat Bantuan
Beberapa sentra produksi utama seperti Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan mengalami hujan deras lebih cepat dari perkiraan.
Akibatnya, banyak tanaman cabai membusuk sebelum panen.
Menurut data Kementerian Pertanian, pasokan cabai merah turun sekitar 12% dibanding September, sehingga stok di pasar menipis.
Namun di sisi lain, permintaan tetap tinggi karena menjelang musim liburan dan hajatan akhir tahun.
Kombinasi inilah yang membuat harga cabai melonjak.
Operasi Pasar dan Jalur Cepat Distribusi
Kenaikan harga cabai tidak dibiarkan berlarut-larut.
Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) langsung melakukan operasi pasar dan memperkuat jalur distribusi antarprovinsi.
Baca Juga: Dari PANDU hingga Tanah Abang Baru, Begini Peta Mobilitas di Tahun Pertama Prabowo
Cabai dari daerah surplus seperti Bali dan Jawa Tengah dikirim cepat ke daerah defisit menggunakan subsidi biaya angkut dari Kementerian Dalam Negeri.
Langkah ini terbukti efektif.
Hanya dalam dua minggu, harga cabai di Jakarta dan Bandung mulai turun dari Rp75 ribu menjadi sekitar Rp58 ribu per kilogram.
Baca Juga: Wali Kota Tegaskan Pembangunan PSEL di Tangsel Terus Berproses
Pasokan mulai lancar, dan masyarakat kembali bisa bernafas lega.
Inflasi Tak Naik Karena Komoditas Lain Turun
Kenaikan harga cabai memang menyumbang inflasi, tapi tidak signifikan karena komoditas lain justru turun.
Menurut BPS, harga beras, minyak goreng, dan daging ayam mengalami penurunan di banyak daerah akibat panen dan distribusi yang baik.
Penurunan pada komoditas besar seperti beras memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap inflasi dibanding cabai.
Sebab, hampir seluruh rumah tangga Indonesia mengonsumsi beras setiap hari, sementara cabai hanya sebagian.
Baca Juga: Ada Bansos dan Subsidi, Simak Penjelasan Lengkap Ini!
Warga Masih Mengeluh, Tapi Belajar Adaptasi
Bagi ibu rumah tangga, setiap kali harga cabai naik, yang pertama disesuaikan bukan dompet, tapi resep masakan.
Seperti Bu Rini, pedagang pecel lele di Bekasi, yang mengaku harus mengubah racikan sambal untuk menekan biaya produksi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin adaptif menghadapi fluktuasi harga pangan.
Baca Juga: 5 Pertanyaan yang Sering Buat Mahasiswa Panik saat Seminar Proposal, Siapkah Kamu Menjawabnya?
Mereka belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya bahwa musim cabai selalu datang dan selalu pergi.
Musim Panen Penyelamat Akhir Tahun
Kabar baiknya, musim panen cabai di November–Desember 2025 diprediksi cukup baik.
Kementerian Pertanian memperkirakan produksi bisa mencapai 120 ribu ton, naik 8% dibanding tahun lalu.
Jika cuaca mendukung, harga cabai akan turun secara alami tanpa perlu operasi pasar tambahan.
Baca Juga: PIP Bantuan Anak Sekolah 2025, Siapa yang Berhak Dapat dan Bagaimana Cara Ceknya?
Selain itu, pemerintah juga mulai mendorong program green house cabai di beberapa daerah seperti Garut dan Malang untuk menjaga suplai saat musim hujan.
Langkah ini diharapkan bisa menekan fluktuasi harga cabai yang sering jadi biang inflasi musiman.
Inflasi Adem di Tengah Musim Pedas
Oktober 2025 membuktikan bahwa ekonomi Indonesia semakin tahan terhadap guncangan harga pangan.
Kenaikan cabai memang terasa pedas di dapur, tapi tidak cukup panas untuk membakar inflasi nasional.
Baca Juga: Sejarah Baru Terukir, Ansor Tangsel Sukses Gelar Susbalan Angkatan Pertama
Kombinasi antara operasi pasar, pasokan antarwilayah, dan harga beras yang stabil membuat inflasi tetap adem di 0,28%.
Ke depan, tantangannya adalah menjaga pasokan saat cuaca makin tak menentu.
Tapi untuk sekarang, rakyat boleh sedikit lega karena meski sambal terasa lebih mahal, harga-harga lain tetap bisa dikendalikan.
Musim cabai memang datang setiap tahun, tapi kali ini Indonesia sudah siap menghadapi pedasnya.***




