POJOKSATU.id - Dari lebih dari seribu entitas BUMN di Indonesia, hanya segelintir perusahaan yang benar-benar menjadi penopang utama setoran dividen negara.

Data terbaru Danantara yang kini mengelola 1.060 entitas BUMN mengungkapkan bahwa 95 persen dividen negara hanya berasal dari delapan perusahaan.

Ketimpangan ini disebut menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah dalam memperbaiki kinerja BUMN yang selama ini berjalan tidak merata.

Baca Juga: TERUNGKAP! Faktor-Faktor Tersembunyi yang Bisa Membuat Guru Berstatus ‘Belum Terpanggil’ Pada PPG Daljab Batch IV Kemenag!

Di balik angka jumbo dividen BUMN setiap tahun, sesungguhnya terdapat sekelompok perusahaan yang memikul hampir seluruh beban setoran.

Delapan perusahaan inilah yang selama bertahun-tahun menjadi “urat nadi” pendapatan negara dari sektor BUMN.

 

BRI: Mesin Uang Terbesar Negara

Baca Juga: Guru Pamit Undur Diri Karena Tak Kunjung Dipanggil PPG, Justru Diterima MBG dengan Gaji 4 Juta!

Tak ada yang mengalahkan kontribusi Bank Rakyat Indonesia (BRI).

BRI menjadi penyumbang dividen terbesar untuk negara, bahkan nilainya bisa mencapai puluhan triliun setiap tahun.

Posisi BRI sebagai bank dengan basis nasabah UMKM terbesar membuatnya stabil dan sangat menguntungkan.

Tak heran jika BRI berada di peringkat teratas dalam daftar kontributor dividen jumbo.

Baca Juga: DPR Sentil Proyek KopDes, Jangan Sampai 80 Ribu Gerai Cuma Jadi Tempat Kambing Nongkrong

 

Bank Mandiri: Penopang Stabil dari Sektor Perbankan

Di posisi berikutnya ada Bank Mandiri, bank dengan aset terbesar di Indonesia.

Mandiri menjadi salah satu donor terbanyak bagi kas negara melalui dividen.

Kinerja solid jaringan korporasi dan ritel menjadikannya salah satu BUMN paling menguntungkan.

Baca Juga: TERUNGKAP! Faktor-Faktor Tersembunyi yang Bisa Membuat Guru Berstatus ‘Belum Terpanggil’ Pada PPG Daljab Batch IV Kemenag!

 

BNI: Tiga Besar Bank Penyumbang Dividen

BNI melengkapi trio bank pelat merah yang masuk dalam jajaran penyumbang dividen terbesar.

Setoran dividen BNI konsisten masuk dalam kategori jumbo, menunjukkan kuatnya sektor perbankan sebagai mesin pendapatan BUMN.

 

PLN: Raksasa Energi yang Ikut Menopang Dividen

Baca Juga: Bogor Jadi Kabupaten Termiskin Nomor 1 Versi BPS, Ara Sentil Tempat Tinggal Tokoh Nasional

Meski berstatus BUMN utilitas yang kerap dibebani tugas pelayanan publik, PLN tetap tercatat sebagai penyumbang dividen besar.

Transformasi bisnis dan efisiensi operasional membuat perusahaan ini tetap mampu memberikan kontribusi signifikan pada negara.

 

Telkom Indonesia: Monopoli Aset Digital Negara

Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi, Basarnas Pastikan Kondisi Pendaki di Ranu Kumbolo

Di era digital, Telkom Indonesia menjadi kontributor penting dividen negara.

Anak usahanya, Telkomsel, terus mencetak laba besar yang otomatis mendorong dividen masuk ke kas negara. Telkom menjadi salah satu pilar utama di sektor telekomunikasi BUMN.

Pertamina: Lumbung Dividen dari Migas

Sebagai perusahaan migas terbesar, Pertamina menyumbang dividen jumbo melalui bisnis hulu–hilirnya.

Meskipun kerap menghadapi dinamika harga minyak global, Pertamina tetap berada dalam daftar utama penyetor dividen BUMN.

Baca Juga: Guru Pamit Undur Diri Karena Tak Kunjung Dipanggil PPG, Justru Diterima MBG dengan Gaji 4 Juta!

 

MIND ID: Perusahaan Tambang dengan Setoran Jumbo

Dari sektor minerba, MIND ID atau Mining Industry Indonesia terus menyumbang dividen besar.

Dengan aset tambang strategis yang dikelolanya, kontribusi MIND ID menjadi salah satu yang paling stabil dari sektor non-perbankan.

 

Siapa Perusahaan Kedelapan?

Baca Juga: Uhamka Pamerkan Karya Inovasi Dosen dan Mahasiswa di Innovation and Technology Expo

Danantara menyebutkan ada delapan BUMN yang menyumbang 95 persen dividen. Namun media hanya menampilkan tujuh nama besar di atas.

Perusahaan ke-8 ini belum disebutkan secara terbuka dalam laporan media besar.

Sehingga identitasnya masih menjadi bagian dari ketidakterbukaan informasi publik terkait rincian pembagian dividen BUMN.

Baca Juga: Uhamka Pamerkan Karya Inovasi Dosen dan Mahasiswa di Innovation and Technology Expo

 Di balik kinerja delapan raksasa BUMN itu, terdapat fakta lain 52 persen entitas BUMN justru merugi.

Inilah yang menyebabkan negara bergantung pada sedikit perusahaan untuk pemasukan dividen.

Danantara menilai struktur seperti ini tidak sehat dalam jangka panjang.

Restrukturisasi, konsolidasi, dan perbaikan tata kelola menjadi strategi yang sedang.

Didorong agar kontribusi dividen lebih merata dan tidak hanya bergantung pada beberapa raksasa saja.

Delapan BUMN dengan dividen jumbo ini telah bertahun-tahun menjadi tulang punggung pendapatan negara.

Baca Juga: Bogor Jadi Rumah Presiden, Tapi Data BPS Bilang Warganya Paling Banyak yang Miskin, Kok Bisa?

Namun ketergantungan ini juga menunjukkan adanya ketimpangan besar yang harus segera diatasi.

Apakah restrukturisasi BUMN mampu melahirkan lebih banyak penopang dividen selain para raksasa ini? Waktulah yang akan menjawab.***