POJOKSATU.ID - Setelah banjir bandang menghantam sejumlah wilayah di Sumatra, fenomena baru tampak jelas di lapangan hamparan kayu gelondongan yang ikut hanyut bersama derasnya arus.

Temuan ini bukan hanya memunculkan tanda tanya, tetapi juga kemarahan publik.

Banyak warga meyakini bahwa tumpukan kayu tanpa daun, tanpa ranting, dan potongannya yang rapi menunjukkan aktivitas penebangan hutan di hulu sungai aktivitas yang selama ini dituding menjadi pemicu kerentanan banjir.

Baca Juga: ILUNI SMKN 1 Karawang 2025–2030 Resmi Dilantik

Di berbagai lokasi, mulai dari kawasan sungai hingga bibir pantai, potongan kayu besar terlihat memenuhi aliran air.

Di beberapa daerah, tumpukan kayu mengapung menutup permukaan sungai, sementara sebagian lainnya terdampar di pantai setelah terbawa arus hingga ke hilir.

Video dan foto yang beredar luas di media sosial memperlihatkan pemandangan yang mencolok bukan daun yang terbawa banjir, bukan ranting acak.

Melainkan gelondongan kayu seperti hasil tebang rapi yang jelas bukan berasal dari pohon yang tumbang alami.

Baca Juga: Menjelang Pengumuman 29 November 2025: Panduan Lengkap Persiapan dan Langkah Setelah Lulus Tes Substantif PPG

Organisasi lingkungan yang memantau kondisi hulu sungai menilai fenomena ini sebagai bukti nyata bahwa kerusakan hutan terjadi dalam skala besar.

Hilangnya tutupan hutan membuat tanah tidak lagi mampu menyerap curah hujan ekstrem, sehingga air langsung meluncur ke bawah membawa apa saja yang berada di jalurnya termasuk batang-batang kayu hasil penebangan.

Banyak aktivis menyebut bahwa hamparan kayu yang hanyut ini seharusnya menjadi alarm keras bahwa ada persoalan besar terkait pengawasan kawasan lindung dan daerah aliran sungai.

Baca Juga: Lulus atau Lulus Bersyarat di Tes Substantif PPG Calon Guru 2025? Begini Tahapan Lanjutan yang Harus Kamu Ikuti!

Sementara itu, pemerintah daerah menyatakan bahwa prioritas utama adalah menyelamatkan warga terdampak dan menormalkan kembali akses transportasi.

Namun, sorotan publik terhadap kayu gelondongan yang tampak di berbagai titik membuat pemerintah tidak bisa menghindar dari permintaan investigasi.

Gubernur setempat mengaku telah memerintahkan tim untuk menelusuri dari mana kayu tersebut berasal.

Baca Juga: DOWNLOAD Modul Akidah Akhlak PPG Daljab Kemenag Terbaru untuk Guru Madrasah, Kenapa Wajib Dipelajari?

Apakah berasal dari kegiatan legal atau justru praktik penebangan liar yang selama ini disinyalir terus berlangsung.

Kementerian terkait juga telah bergerak melakukan pengecekan.

Data awal menunjukkan sebagian kayu kemungkinan berasal dari area penggunaan lain (APL), termasuk dari wilayah konsesi yang memiliki izin pemanfaatan.

Meski demikian, pihak berwenang belum memberikan kesimpulan akhir.

Baca Juga: Pengumuman Tes Substantif PPG Calon Guru 2025, Ini Langkah Penting yang Wajib Dilakukan Calon Guru!

Proses identifikasi terus berjalan karena kayu-kayu itu tidak hanya berasal dari satu daerah, tetapi terbawa dari berbagai titik di sepanjang aliran sungai yang terdampak banjir bandang.

Fenomena hamparan kayu hanyut ini menambah panjang daftar bukti bahwa bencana alam tidak berdiri sendiri.

Banjir bandang yang meluluhlantakkan sejumlah desa dan kota bukan hanya dipicu oleh hujan ekstrem, tetapi juga karena tanah yang kehilangan penyangga alami akibat aktivitas manusia.

Ketika hutan yang seharusnya menjadi pelindung hilang, air kehilangan kendalinya, membawa material yang menunjukkan akar masalah sesungguhnya.

Lebih dari sekadar pemandangan pasca bencana, kayu-kayu gelondongan itu menjadi saksi bisu rusaknya ekosistem hulu.

Masyarakat kini berharap ada langkah tegas untuk menertibkan izin, mengusut aktivitas penebangan, dan memastikan kawasan hutan kembali dijaga ketat.

Tanpa perubahan nyata, fenomena seperti ini hanya akan terulang—dan harga yang dibayar selalu nyawa dan kerugian warga.***