Haji Nunut, Kisah Haji Legenda yang Berawal dari Hadiah Undian dan Serba Bonek


POJOKSATU.id - Tahukah Anda bahwa pernah ada kisah haji nunut dan membuat heboh tanah air pada 1992 silam?

Tapi saat itu kisah haji nunut tidak viral. Itu karena pada masa itu penggunaan media sosial tidak semasif seperti sekarang.

Berbeda dengan masa sekarang dimana sebuah cerita atau kisah bisa dengan mudah tersebar, ramai lalu viral.

Istilah haji nunut disematkan pada kisah ini karena si empunya cerita memang berangkat haji tidak dengan membayar alias tidak terdaftar alias menumpang.

Meski begitu, jemaah haji Indonesia itu berhasil menginjakkan kakinya di Tanah Suci.

Dan tahukah Anda bahwa kisah haji nunut ini diawali dari sebuah hadiah undian?

Bagaimana kisahnya? Yuk, simak pemaparannya berikut ini.

 

Ribuan kupon undian


Kisah haji nunut ini merujuk pada sosok Choirun Nasichin, warga Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Choirun Nasichin sendiri sudah memiliki keinginan yang sangat kuat bisa menunaikan ibadah haji sejak 1990.

BACA JUGA: Ini Penampakan Jemaah Haji Tertua Se Indonesia, Di Usianya ke 117 Masih Tampak Bugar Menunaikan Ibadah Haji 

Nashichin oleh tetangganya, dikenal sebagai sosok yang selalu mengenakan kopiah putih.

Kopiah itu biasa dipakai oleh seorang yang sudah pernah melaksanakan ibadah haji.

Karena itu, orang-orang juga sudah memanggil 'pak haji' karena ia selalu mengenakan kopiah putih bulat.

Hal itulah yang semakin memacu semangatnya agar bisa secepatnya menunaikan ibadah haji.

Sayangnya, dia tak memiliki uang tidak memiliki uang untuk membayar BPIH yang saat itu sebesar Rp6 juta.

Sementara biaya haji di tahun tersebut sudah mencapai Rp25 juta.

Dia juga tak memiliki tabungan yang cukup untuk dibayarkan sebagai ongkos naik haji.

BACA JUGA: Bikin Ngakak Satu Pesawat, Jemaah Haji Asal Majalengka Minta Turun Gegara Kepikiran Ayam Belum Dikasih Makan

Karena tekadnya sudah membumbung tinggi, berbagai cara ia lakukan.

Salah satunya dengan selalu mengikuti berbagai undian yang berhadiah haji.

Bahkan dia pernah sampai mengirimkan hampir seribu kupon undian berhadiah.

Harapannya, akan membuat semakin besar dirinya bisa memenangkan hadiah utama berupa ibadah haji di Tanah Suci.

Tapi sayang, tidak satupun ribuan kupon itu membuatnya memenangkan undian hadiah ibadah haji.

 

Rp5 ribu pemberian ibu


Harapan Choirun Nasichin mulai terlihat saat ia salah satu kupon undian yang ia kirimkan ternyata benar-benar menang dan mendapat hadiah.

Tapi hadiah yang didapat bukan ibadah haji. Melainkan hadiah berupa emas seberat 5 gram.

Tanpa pikir panjang, karena sudah sangat ingin berhaji, ia lalu menjual emas tersebut yang saat itu seharga Rp70 ribu.

Meski belum cukup, Choirun membelanjakan uang itu untuk membeli perlengkapan haji.

BACA JUGA: Kisah Unik Jemaah Haji Indonesia, Nomor 3 Bikin Geleng-Geleng Kepala 

Dari pembelajaan perlengkapan haji uangnya tersisa Rp49 ribu.

Dia pun memiliki tambahan uang pemberian dari ibunya, sebesar Rp5 ribu. Masih jauh dari cukup.

Tapi haji nunut ini tak mau menyerah. Keinginannya sudah bulat. Tekadnya sudah terlalu kuat.

Berbekal uang seadanya itu, ia memutuskan berangkat ke Surabaya dengan menaiki bus.

Dari Ibukota Jawa Timur itu, dia melanjutkan perjalanan dengan angkot hingga ke Bandara Juanda, di Sidoarjo.

 

Bonek


Banyak yang menyebut bahwa Choirun Nasichin berangkat berhaji dengan bonek alias bondo nekat alias berbekal nekat.

Istilah 'bonek' dipopulerkan Dahlan Iskan, yang saat itu adalah bos salah satu media besar Tanah Air, Jawa Pos.

Istilah itu ditujukan kepada suporter tim Persebaya Surabaya yang saat itu hanya memiliki bekal serba nekat setiap mendukung tim kesayangannya itu.

Bukan hanya di Surabaya, tapi juga sampai ke luar kota bahkan sampai ke luar pulau.

Karakter itu pula yang dinilai cukup melekat pada orang-orang Jawa Timur.

BACA JUGA: Kisah Mansyur, Warga Tambun yang Berangkat Naik Haji Secara Gratis

Nah, sesampainya di Bandara Juanda, Choirun Nasichin sempat kecewa karena saat itu tidak ada rombongan haji yang akan diberangkatkan.

Beruntung, pada hari itu, seseorang memberitahunya bahwa akan ada pemberangkatan jemaah haji Kloter IX pada pukul 19.00 WIB.

Ternyata, benar rombongan calon jemaah haji tiba di Bandara sesuai jadwal. Choirun Nasichin memutuskan menunggu.

Sebelum berangkat ke Surabaya, dia lebih dulu berpamitan kepada ibunya, Siti Khoniah.

Dia berpesan, apabila dalam 2 hari tak kembali pulang, berarti dirinya sudah sampai ke Tanah Suci untuk berhaji.

 

Wirid


Ternyata benar, saat matahari tenggelam, rombongan calon jemaah haji tiba di Bandara Juanda sesuai jadwal, sesuai informasi yang ia dapat.

Namun, Choirun kembali kecewa karena tidak dapat masuk ke pesawat bersama rombongan calon jemaah haji tersebut.

Sebab, Choirun tidak memiliki dokumen persyaratan ibadah haji.

BACA JUGA: Viral, Imam Besar Madinah Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili Sindir Jemaah Haji dan Umrah Indonesia Suka Selfie dan Pembohong

Tapi sekali lagi, tekadnya sudah bulat dan tak lagi bisa ditahan. Karena itu, ia nekat melompati pagar dan masuk ke landasaran pesawat.

Satu hal yang dilakukan Choirun saat itu adalah wirid, wirid dan wirid tanpa henti.

Ternyata, tidak ada satupun orang yang menegurnya atau melarangnya. Tidak ada juga yang curiga. Semuanya, lancar.

Dia juga bisa bergabung dengan rombongan calon jemaah haji itu bahkan sempat berfoto-foto bersama.

 

Dianggap bercanda


Karena tak ada mencurigainya sama sekali, Choirun akhirnya bisa menyusup masuk ke dalam pesawat Garuda yang membawa rombongan tamu Allah itu.

Lagi-lagi, tak satupun yang mencurigainya. Baik calon jamaah haji, pramugari atau kru pesawat.

Choirun sadar diri bahwa dirinya tak membayar sepeser pun. Ia hanya nunut alias numpang.

Karena itu, dia memilih tidak duduk di bangku penumpang. Melainkan duduk di kursi pramugari.

BACA JUGA: Kisah Wakaf Habib Bugak di Saudi bagi Jamaah Haji Aceh yang Hasilnya Mengalir Sampai Kiamat 

Barulah hal itu membuat seorang pramugari bertanya kepadanya. Kenapa tidak duduk di bangku penumpang?

Choirun adalah orang yang jujur.

Dengan santainya ia menjawab bahwa dirinya hanya nunut sehingga tidak berhak duduk di bangku penumpang.

Ternyata jawaban Choirun itu cuma dianggap bercanda oleh sang pramugari yang akhirnya membiarkannya mengambil tempat duduknya.

 

Dipulangkan


Keadaan 'aman' Choirun itu berakhir setelah pramugari meminta dokumen perjalanannya.

Barulah pramugari, kru dan seisi pesawat itu tahu bahwa Choirun memang benar-benar nunut.

Seisi pesawat pun langsung geger karena bagaimana bisa ada seorang penumpang gelap di dalam pesawat.

Sayangnya, saat itu pesawat sudah mengudara dan tengah menuju ke Tanah Suci.

Beruntung, dari sekian calon jemaah haji, ada 2 orang yang mengenalnya. Keduanya adalah Harto dan Yazid.

BACA JUGA: Tolak Undangan Naik Haji dari Kedubes Arab Saudi, Ini Alasan Deddy Corbuzier dan Rizky Billar

Keduanya juga berusaha meyakinkan seisi pesawat bahwa Choirun memang benar-benar ingin naik haji, tapi tidak memiliki uang.

Mendengar cerita dan kejujurannya, seluruh jemaah haji pun bersipati dan siap patungan membantu biaya perjalanan ibadah haji Choirun.

Namun niat baik, rombongan calon jemaah haji tidak dapat terwujud karena terbentur aturan.

Akhirnya, Choirun diputuskan harus dipulangkan ke Indonesia setelah sampai di Bandara King Abdul Aziz.

 

Tetap haji nunut


Setelah menunggu, Choiron akhirnya dipulangkan juga ke Indonesia dan kembali pulang ke rumahnya, di Jombang.

Meski belum melaksanakan ibadah haji, orang-orang di kampung halamannya sudah menganggapnya sebagai haji.

Choirun tetap dipanggil haji.

Kisahnya yang menyebar dari mulut ke mulut bahkan membuatnya memiliki sebutan khusus, yakni haji nunut.

Karena kisahnya makin menyebar dan jadi pemberitana saat itu, banyak pihak yang bersimpati dengan kenekatan Choirun.

Beberapa di antaranya mereka bahkan menawarkan Choirun biaya ibadah haji.

Niat Choirun berangkat haji akhirnya benar-benar terwujud pada tahun 1994 berkat bantuan Dahlan Iskan.

Choirun pun kembali menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya pada 2005 silam.

Akan tetapi, meski sudah benar-benar melakukan ibadah haji sesuai dengan aturan, panggilan Haji Nunut tetap melekat pada sosok yang kini sudah berusia lebih dari setengah abad itu. (Guruh/Pojoksatu)