POJOKSATU.id - Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) kembali memicu kehebohan setelah sebuah tongkang bermuatan batu bara bablas dan menghantam pelindung jembatan pada Minggu, 25 Januari 2026, sekitar pukul 05.00 WITA.

Kejadian dini hari ini sontak mengguncang publik Kalimantan Timur, terutama karena insiden berlangsung di luar jam operasional kapal yang seharusnya diterapkan ketat oleh otoritas pelabuhan.

Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, langsung bereaksi keras ketika mendapat laporan tersebut.

Baca Juga: Hari Kedua Pencarian Longsor Bandung Barat, 16 Korban Ditemukan Meninggal Dunia

Ia menilai peristiwa ini bukan lagi persoalan teknis semata, tapi mengancam keselamatan masyarakat luas dan kestabilan infrastruktur penting di wilayah Kaltim.

“Ini tidak bisa dibiarkan. Jembatan Mahakam Ulu adalah tulang punggung perekonomian dan logistik Kalimantan Timur,” tegas Seno Aji dikutip pojoksatu.id dari mediakaltim.com 25/1/2026.

Berdasarkan data KSOP Samarinda, kapal seharusnya hanya diperbolehkan melintas pada jam tertentu yang menyesuaikan arus sungai.

Baca Juga: Dana Terbatas Bukan Alasan Mandek, KDM Dorong Desa di Jabar Tetap Tancap Gas

Namun tongkang yang menabrak jembatan diketahui bergerak pada waktu tidak semestinya.

“Jam 05.00 pagi itu seharusnya bukan waktunya tongkang bergerak ke bawah. Tapi karena ada insiden di hulu, akhirnya terjadi tabrakan,” ujarnya dikutip pojosatu.id dari detik.com

Benturan tersebut menyebabkan bagian fender jembatan mengalami kerusakan gores dan memicu penutupan sementara aktivitas pelayaran di area tersebut.

Baca Juga: Jejak Universitas Kapuas, dari STIK hingga Menjadi Kampus Mandiri di Bumi Sintang

Meskipun tidak ada korban jiwa, insiden ini kembali membuka luka lama: deretan kasus tongkang menabrak jembatan Mahakam dalam beberapa tahun terakhir.

Pemprov Kaltim kini menuntut penegakan aturan yang lebih tegas kepada seluruh operator kapal.

Evaluasi menyeluruh bersama KSOP, PUPR, dan kepolisian air sedang dilakukan untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang.

Masyarakat Kaltim berharap ada langkah nyata, bukan sekadar peringatan.

Mengingat arus logistik batu bara di Sungai Mahakam kian padat, pengawasan ketat dinilai menjadi satu-satunya cara mencegah potensi bencana yang bisa berdampak jauh lebih besar.***