POJOKSULSEL, MAKASSAR - Sebanyak 107 santri Darul Istiqamah Boarding School (DIBS) dan Tahfizhul Quran Darul Istiqamah Maros diwisuda, Sabtu (10/6/2023)

Wisuda santri DIBS yang dilaksanakan di Mini Theatre Poltekbang Makassar, dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD Sulsel Muzayyin Arif, dan Kepala Seksi Pendidikan Madarasah Kemenag Maros Abdul Kadir.

Sementara Wakil Rektor I UIN Alauddin Makassar Prof Mardan diundang memberikan orasi bertajuk, melahirkan pemimpin qurani yang menginspirasi dunia.

Dewan Pembina DIBS, Safwan Saad menekankan pentingnya ilmu. Ia menyinggung terkait jaminan surga bagi orang yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu.

Safwan mengatakan, ilmu adalah kunci untuk mencapai kesuksesan dunia dan kebahagiaan akhirat. Ia juga memotivasi para santri DIBS yang diwisuda untuk menuntut ilmu ilmu hingga ke luar negeri.

"Ada pesan orang-orang dulu tuntutlah ilmu sampai ke negeri China," kata Safwan.

Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Madarasah Kemenag Maros, Abdul Kadir, mengingatkan kepada santri DIBS yang diwisuda bahwa tidak ada istilah mantan guru atau bekas pembina asrama. Dia berpandangan bahwa guru atau ustaz sama posisinya dengan orang tua kandung.

"Ustaz mengasuh membina dan memberi makan rohani. Jadi tidak ada bekas guru sebagaiman halnya tidak ada bekas orangtua," kata Abdul Kadir.

Karena itu, Abdul Kadir mengajak kepada para santri DIBS yang diwisuda hari ini, supaya terus menghormati para guru meraka kapan dan di mana pun berada.

Wakil Ketua DPRD Sulsel Muzayyin Arif menyampaikan selamat kepada para santri DIBS yang diwisuda sebagai generasi hebat berakhlak qurani.

Ia menegaskan, tidak ada orang yang bersentuhan dengan Alquran kecuali Allah akan memuliakan kehidupannya. Optimisme itu, kata Muzayyin, harus menjadi pegangan dalam menata masa depan.

"Saya selalu mengatakan kepada para guru, kepada para manajemen, dalam hidup ini, dalam perjuangan ini membesarkan pendidikan kita ini, boleh kita kehilangan banyak hal, tetapi jangan kita kehilangan satu hal, kehilangan harapan tentang masa depan," kata Muzayyin.

Ia menegaskan, perjalanan mengembangkan pendidikan memang penuh dengan tantangan dan dinamika. Namun demikian, tidak ada yang terjadi kecuali sudah ditakdirkan oleh Allah.

"Takdir Allah itu pasti takdir yang baik dalam kehidupan kita," katanya.

Ia mengatakan, perjalanan 3 sampai enam tahun yang dilewati santri-santri DIBS bukanlah perjalanan singkat. Tetapi dari perjalanan itu bisa memberikan penilaian bahwa tidak ada santri yang diwisuda kecuali itu menunjukkan karakter baik.

Sementara itu, Wakil Rektor I UIN Alauddin Makassar Prof Mardan berpesan bahwa pemimpin qurani itu belajar sepanjang hidup. Sosok pemimpin yang menjadi pengayom umat demi kesejahteraan.

Ia pun berharap agar alumni DIBS mampu menjadi pemimpin qurani yang mempu melanjutkan estafet kepemimpinan yang mengharumkan bangsa.

"Paling tidak 2045 mereka ini hadir di hadapan bangsa Indonesia untuk mengayomi sehingga Indonesia menjadi lebih maju," kata Mardan.

Tidak hanya itu, Mardan juga mengajak para orang tua untuk memasukkan anaknya belajar di pesantren yang berbasis boarding.

(fadli/pojoksulsel)