POJOKSATU.id - Fenomena “inflasi pengamat” mulai jadi sorotan setelah disinggung oleh Habiburokhman.
Ia menilai, maraknya kritik terhadap pemerintah tidak semuanya berdampak positif.
Menurutnya, istilah tersebut merujuk pada banyaknya pihak yang mengaku sebagai pengamat namun tidak seluruhnya menyampaikan kritik yang membangun.
Baca Juga: Pernyataan Jusuf Kalla di Masjid UGM Terkait Upayanya Mendamaikan Konflik Poso dan Ambon
“Pernyataan Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya bahwa ada fenomena inflasi pengamat ada benarnya," kata Habiburokhman, dikutip Pojoksatu.id dari keterangan resmi 13/4/2026.
Ia menegaskan, pemerintah tetap terbuka terhadap kritik yang konstruktif dan berbasis solusi.
"Banyak sekali pengamat yang menyampaikan kritik membangun yang disampaikan kepada Pemerintah Prabowo, dan banyak pula yang sudah ditindaklanjuti,” kata Habiburokhman.
Namun demikian, tidak semua kritik dinilai layak untuk diikuti.
"Kritikan yang bagus kita tindak lanjuti, sementara kritikan yang tidak bagus kita sikapi dengan edukasi kepada rakyat jangan sampai justru menjadi racun bagi demokrasi," katanya.
Ia juga menyoroti adanya kritik yang dinilai berlebihan hingga merusak ruang publik.
Baca Juga: Viral Sopir Bajaj Dipalak Rp100 Ribu di Tanah Abang, Sudah Dikasih Malah Diminta Lagi
“Namun demikian tidak semua kritik bagus, ada juga kritik yang tidak membangun dan bahkan merusak alias toxic,” ujarnya.
Bahkan, ia menilai ada pihak yang menggunakan label pengamat untuk menyebarkan narasi negatif.
“Ada pengamat yang mengklaim sebagai pengkritik, tetapi yang disampaikan lebih merupakan propaganda hitam, kebohongan, dan kebencian,” ujarnya.
Meski begitu, ia memastikan kebebasan berpendapat tetap terjaga di era pemerintahan Prabowo Subianto.
“Itulah sebabnya hingga saat ini, setelah hampir 1,5 tahun Presiden Prabowo menjabat, tidak ada satu pun warga negara Indonesia yang dijatuhi hukuman karena mengkritik atau bahkan menghina Presiden Prabowo,” kata Habiburokhman.
Baca Juga: Pernyataan Jusuf Kalla di Masjid UGM Terkait Upayanya Mendamaikan Konflik Poso dan Ambon
Pernyataan ini pun memicu perdebatan publik soal batas antara kritik konstruktif dan kritik yang dianggap berlebihan.***




