POJOKSATU.ID - Gus Miftah, pemimpin Pondok Pesantren Ora Aji, menyampaikan permohonan maaf terkait insiden dugaan penganiayaan yang terjadi di lingkungan pesantrennya.
Kejadian ini menjadi sorotan, terutama karena Gus Miftah sendiri sedang tidak berada di lokasi, melainkan sedang menunaikan ibadah umrah ketika peristiwa itu berlangsung.
Melalui perwakilan yayasan, Adi Susanto, di Pondok Pesantren Ora Aji, Kalasan, Sleman, disampaikan bahwa dugaan penganiayaan terhadap seorang santri merupakan sebuah musibah yang turut memberikan dampak berat bagi Gus Miftah sebagai pengasuh.
Baca Juga: M Rizky Soroti Pentingnya Perlindungan Dana Hibah untuk Pesantren
Adi Susanto menegaskan bahwa Gus Miftah tidak memiliki pengetahuan langsung mengenai kejadian tersebut karena ketidakhadirannya.
Pihak pesantren menegaskan perannya hanya sebagai fasilitator dalam menyelesaikan perselisihan antar santri.
Mereka menekankan bahwa kejadian tersebut murni melibatkan santri dan tidak ada keterlibatan dari pengurus pesantren.
Sebelumnya, santri korban melaporkan dugaan penganiayaan setelah dituduh mencuri uang air galon senilai Rp700 ribu.
Namun, pihak yayasan melalui Adi Susanto membantah adanya penganiayaan seperti yang beredar.
Menurutnya, yang terjadi adalah aksi spontanitas antar santri tanpa adanya koordinasi.
Baca Juga: Remaja Yatim Asal Pati yang Viral Itu Kini Dibantu Kapolsek hingga Gus Miftah, Diajak Jaga Masjid
Seiring dengan penetapan 13 santri sebagai tersangka atas laporan tersebut, Adi Susanto juga menyatakan akan mendampingi para santri yang terlibat dalam proses hukum.
Selain menjadi kuasa hukum yayasan, ia juga akan bertindak sebagai kuasa hukum bagi seluruh santri yang dilaporkan.
Musibah tak terduga di Pondok Ora Aji, Gus Miftah, akui pukulan berat atas dugaan penganiayaan Santri dan siap jadi fasilitator.***




