POJOKSATU.id, JAKARTA -- Warga NU sekaligus Kiai kampung asal Situbondo, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur menyoroti dinamika politik dan proses pemilihan kepemimpinan dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jatim.

Dalam tulisannya berjudul Papi Umba Pakocir, Gus Lilur sapaan akrabnya menggunakan akronim yang merupakan kependekan dari 'Panglima pergi umrah tiba-tiba, pasukan kocar-kacir'.

Dia mengaitkan istilah tersebut dengan absennya Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin pada malam pemungutan suara Rais Aam di Muktamar NU ke-35.

Baca Juga: Jaga Saninten dari Ancaman Kepunahan, Pertamina Regional JBB Tanam 4.200 Pohon di Bandung Utara

"Tetapi meninggalkan gelanggang pada malam pemungutan suara, ketika ribuan orang sedang menunggu, menyisakan satu pertanyaan besar yang sampai hari ini belum terjawab, mengapa harus malam itu?," kata Khalilur dalam keterangannya, Senin (31/8/2026).

Menurutnya, Muktamar ke-35 kali ini situasinya sempat berbeda. Di mana Gus Muhaimin bersama kekuatan PKB disebut bergerak untuk mendukung Said Aqil.

Bahkan, Said Aqil masuk dalam sembilan besar anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dengan perolehan 273 suara. Namun situasinya berubah, saat Gus Muhaimin tiba-tiba berangkat umrah.

"Umrah tentu mulia. Tidak ada satu pun warga NU yang pantas mencelanya," ucapnya.

Baca Juga: Baju Kena Oli Jangan Langsung Dikucek, Begini Cara Membersihkannya agar Kain Tetap Aman

Kendati demikian, Khalilur menegaskan dirinya bukan bagian dari kubu Gus Muhaimin. Ia mengaku hanya ingin NU memiliki kebebasan dalam menentukan pemimpinnya tanpa intervensi kekuasaan.

"Saya bukan pasukan Gus Muhaimin. Saya hanya warga NU, kiai kampung, yang ingin NU merdeka memilih pemimpinnya tanpa intervensi, supaya kita bisa berlomba dalam kebaikan dengan saudara-saudara kita di Muhammadiyah," ujarnya.

Meski melontarkan sejumlah kritik terhadap dinamika Muktamar Ke-35, Khalilur tetap menyampaikan ucapan selamat atas terselenggaranya muktamar serta kepada KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin.

Dia berharap kepemimpinan baru PBNU periode 2026-2031 dapat membawa maslahat bagi umat, sehingga selaras dengan slogan yang terus digaungkan, yakni 'Ber-NU tanpa ber-PBNU'.

"Sebab NU itu bukan kantor. NU itu cara beragama. Ia hidup di langgar-langgar, di majelis tahlil, di pengajian selepas maghrib, di khidmah para kiai kampung yang tidak pernah masuk daftar hadir muktamar mana pun," ucapnya.

Diketahui, hasil Muktamar Ke-35 kali ini, menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031.***