POJOKSATU.id, JAKARTA— Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menanggapi kasus siswa kelas IV SD di Sawasina, Desa Nuruwolo, Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bunuh diri.

Gus Ipul menyatakan keprihatinan mendalam atas kasus ini. Ia menegaskan peristiwa tersebut menjadi perhatian serius Kementerian Sosial bersama pemerintah daerah.

Pernyataan itu disampaikan Gus Ipul usai menghadiri pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah tokoh Muslim di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/2).

“Tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka. Yang kedua, ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, ya tentu bersama pemerintah daerah,” ujarnya.

Baca Juga: Siswa SD Bundir Tak Mampu Beli Buku, Tinggal Bersama Nenek, Tulis Sepucuk Surat Buat Ibu yang Janda

Mensos menekankan pentingnya penguatan pendampingan sosial di lapangan, khususnya bagi keluarga miskin dan rentan.

Ia juga menyoroti perlunya pembenahan data agar tidak ada warga yang luput dari jangkauan program perlindungan sosial pemerintah.

“Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita, ya kita harapkan tidak ada yang tidak terdata,” tegasnya.

Kejadian memilukan terjadi di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis (29/1) lalu.

Baca Juga: Sudah Dibuka, Kuliah Gratis hingga Lulus, Ini Syarat dan Jadwal Lengkap Pendaftaran S1 Universitas Pertahanan 2026 Penulis: Rizq Azzahra Deskripsi

Seorang siswa kelas IV SD yang tinggal bersama neneknya tidak tahu lagi mengadu ke siapa sehingga memutuskan mengakhiri hidup dengan gantung diri di pohon cengkeh.

Penyebabnya sepele, ibunya yang sudah menjanda tak sanggup membelikan siswa SD ini buku dan pulpen untuk keperluan sekolahnya.

Siswa berinisial YBR (10) ini pun menuliskan sepucuk surat kepada ibunya agar mengiklaskan kematiannya.

YBS diketahui sehari-hari tinggal bersama neneknya yang telah berusia sekitar 80 tahun. Ibunya, berinisial MGT, merupakan seorang janda yang bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anaknya.

Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan berbahasa daerah yang ditulis korban dan ditujukan kepada ibunya.

Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus E Pissort, mengonfirmasi bahwa polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan korban di sekitar lokasi kejadian.

Surat tersebut ditulis dalam bahasa Ngada yang ditujukan kepada ibunya. Siswa ini juga membuat gambar seorang anak yang menangis.

"Surat buat Mama Reti. Mama saya pergi dulu, Mama relakan saya pergi, jangan menangis ya Mama. Tidak perlu Mama mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal Mama," demikian bunyi terjemahan surat wasiat siswa SD ini.***