POJOKSATU.ID - Pemerintah Kabupaten Jember di bawah kepemimpinan Bupati Gus Fawait resmi menyalurkan insentif.

Kepada sekitar 22.000 guru ngaji dan pendidik agama dari seluruh kecamatan di Jember.

Program ini dinilai sebagai salah satu langkah paling humanis dan inklusif karena menyentuh langsung pengajar yang selama bertahun-tahun mengabdi tanpa pendapatan tetap.

Kebijakan tersebut tidak hanya menyasar guru ngaji, tetapi juga modin, pendidik kitab.

Baca Juga: Kilas Balik Alvaro Bocah Hilang 8 Bulan Lalu di Masjid Kini Ditemukan Tewas, Satu Pelaku Diamankan

Pendeta, pemimpin ibadah, dan pengajar agama non Muslim dari berbagai rumah ibadah.

Setiap penerima mendapat insentif Rp 1,5 juta per tahun, ditransfer langsung tanpa potongan melalui skema cashless.

Penyaluran dilakukan di balai desa agar para pendidik tidak perlu menempuh perjalanan jauh ataupun mengantre panjang.

Pemerintah menilai pendekatan ini penting untuk menjaga martabat para pengajar.

Baca Juga: Kemendiktisaintek Tawarkan Program Tendik Berdampak, Penguatan Kompetensi dan Profesionalisme, Ini Kegiatan dan Cara Daftarnya

Khususnya mereka yang selama puluhan tahun mengabdi dalam kondisi serba terbatas.

Para pendidik agama adalah benteng moral desa-desa kita. Mereka menjaga karakter anak-anak, membangun etika sosial, dan mengokohkan kerukunan.

Karena itu, insentif ini diberikan untuk semua agama tanpa pengecualian. Inilah cara Jember merawat harmoni,” ujar Gus Fawait, Minggu 23 November 2025.

Ia menegaskan bahwa inklusi dan kesetaraan menjadi fondasi utama kebijakan tersebut.

“Semua pendidik agama, Muslim maupun non-Muslim, mendapat penghargaan yang sama. Jember adalah rumah bersama,” katanya.

Selain dampak sosial, program ini juga memperkuat tata kelola data. Pada 2025.

Pemkab Jember memverifikasi lebih dari 22 ribu pendidik agama dari 31 kecamatan dan 248 desa melalui validasi berlapis.

Untuk memastikan tidak ada data ganda maupun penerima tidak layak.

Baca Juga: Filosofi Pelatih Antar SMAN 3 Karawang Jadi Juara Umum LKBB 2025

Sistem penyaluran berbasis cashless dipilih demi akuntabilitas dan transparansi.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab Jember menyebut program ini memberikan dampak nyata di lapangan.

Banyak pendidik yang selama ini tidak menerima pendapatan tetap terbantu.

Dalam memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk biaya transportasi mengajar dan kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Mahasiswa Kesmas UTU Ubah Limbah Pasar Jadi Kompos, Praktikum Persampahan yang Bikin Lingkungan Makin Berdaya

Dia menegaskan sisi inklusif dari program tersebut yang secara eksplisit mencakup semua agama.

Di sejumlah desa, momen penyaluran insentif bahkan menjadi wadah pertemuan hangat antar pendidik agama lintas keyakinan, memperkuat rasa saling menghormati.

Survei internal Kesra juga mencatat lebih dari 90 persen penerima merasa puas.

Terutama karena proses penyaluran berlangsung tanpa antrean, pelayanan ramah, dan tanpa potongan apa pun.

Evaluasi lanjutan menunjukkan bahwa selain membantu ekonomi keluarga.

Kegiatan ini berdampak pada meningkatnya kerja sama antar umat di desa-desa multikultural.

Kehadiran para pendidik dari berbagai keyakinan dalam satu ruang penyaluran disebut memperkuat rasa kesetaraan dan persaudaraan yang menjadi karakter masyarakat Jember.

Baca Juga: Nilai TKA Matematika 2025 JEBLOK, Metode Ajar dan Buku Disorot, BEBAN GURU Terlupakan? 

Program inklusif ini pun dipandang sebagai fondasi penting bagi pembangunan daerah berbasis harmoni dan nilai kemanusiaan.

Lebih dari sekadar bantuan finansial, inisiatif ini menjadi pesan bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada infrastruktur fisik.

Tetapi juga pada penguatan moral, martabat manusia, serta solidaritas antarmasyarakat.***