POJOKSATU.ID - Nasib guru-guru yang bertugas di wilayah terdampak bencana alam kembali menjadi sorotan.
Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim, menilai pemerintah pusat perlu memberikan perhatian khusus kepada para pendidik.
Yang menjadi korban bencana, terutama di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Satriwan menegaskan bahwa guru-guru di daerah bencana tidak hanya menghadapi kerusakan fisik, tetapi juga beban psikologis yang berat.
Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah dalam beberapa waktu terakhir dinilai meninggalkan trauma mendalam bagi para tenaga pendidik.
“Guru-guru tersebut saya rasa harus diberikan insentif-insentif, termasuk juga trauma healing pascabencana,” ujar Satriwan, dikutip dari Detik, 14 Desember 2025.
Baca Juga: Negara Tega! Lansia 71 Tahun Dituntut 2 Tahun Bui karena Seekor Cendet
Menurutnya, dampak bencana tidak berhenti pada rusaknya infrastruktur sekolah.
Banyak guru kehilangan rumah, perlengkapan mengajar, bahkan dokumen penting yang hanyut diterjang banjir atau tertimbun longsor.
Kondisi tersebut, kata Satriwan, sangat mungkin membekas secara psikologis dan memengaruhi kesiapan guru untuk kembali mengajar.
“Sekolah, rumah, hingga perangkat belajar yang hanyut itu bukan hal kecil. Itu bisa menjadi trauma tersendiri bagi guru-guru kita,” ujarnya.
Satriwan menilai, selama ini perhatian pascabencana cenderung lebih fokus pada pemulihan fisik seperti perbaikan bangunan dan distribusi bantuan logistik.
Sementara itu, aspek kesejahteraan dan kesehatan mental guru sering kali luput dari perhatian.
Padahal mereka memiliki peran krusial dalam memastikan keberlangsungan pendidikan anak-anak di daerah terdampak.
Ia pun berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat memberikan insentif khusus bagi guru-guru korban bencana.
Baca Juga: Kabar Baik! PPPK Paruh Waktu Kini Setara ASN Penuh, Gaji Minimal Honorer dan Kenaikan Gaji 2026
Insentif tersebut diharapkan mampu memulihkan semangat dan motivasi guru untuk kembali menjalankan tugas di tengah keterbatasan.
“Tentu kami berharap harus ada insentif khusus yang diberikan pemerintah pusat atau pemda terhadap guru-guru yang jadi korban bencana alam ini,” tegas Satriwan.
Meski tidak merinci besaran insentif yang dimaksud, Satriwan menekankan bahwa bantuan tersebut harus bersifat nyata dan tepat sasaran.
Selain bantuan finansial, ia juga mendorong adanya pendampingan psikososial agar guru dapat pulih dari trauma yang dialami.
Dengan adanya insentif dan pendampingan, Satriwan optimistis para guru masih memiliki energi dan semangat untuk melanjutkan proses pembelajaran.
Meskipun harus dilakukan di tempat-tempat darurat dengan fasilitas yang terbatas.
Baca Juga: 82 Desa Terkurung Lumpur, Respons Pemerintah Terhadap Bencana Aceh Dipertanyakan
“Dengan adanya insentif, tenaga mereka yang masih ada tetap bisa memberikan proses pembelajaran kepada anak-anak kita di tempat-tempat darurat,” katanya.
P2G menilai, perhatian terhadap guru di wilayah bencana merupakan bentuk kehadiran negara dalam menjaga hak pendidikan anak.
Tanpa dukungan serius kepada guru, proses pemulihan pendidikan pascabencana dikhawatirkan berjalan lambat dan berdampak jangka panjang pada kualitas belajar siswa.
Demikian informasi yang bisa diupdate seputar guru-guru yang terdampak bencana dan himpunan pendidikan dan guru meminta pemerintah bertindak.***




