POJOKSATU.ID - Bencana banjir yang melanda wilayah Tapanuli Selatan tak hanya meninggalkan kerusakan dan duka, tetapi juga menghadirkan kisah keteladanan yang menggetarkan hati.

Di tengah keterbatasan pascabencana, seorang guru memilih memberi lebih dari yang dimilikinya demi masa depan pendidikan.

Ia adalah Nur Ali Harahab, S.Pd.I., Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 7 Tapanuli Selatan.

Baca Juga: Info Terbaru Sertifikasi Guru 2026, SKTP Langsung Terbit, Ini Fakta dan Saran Resminya

Dengan penuh keikhlasan, Nur Ali menghibahkan lahan seluas 7.500 meter persegi milik pribadinya kepada negara untuk pengembangan madrasah di Kecamatan Angkola Selatan, wilayah yang terdampak bencana banjir.

Keputusan besar itu diambil hanya empat bulan sebelum ia memasuki masa pensiun.

Bagi Nur Ali, pengabdian terhadap dunia pendidikan tidak berhenti meski masa tugas formalnya segera berakhir.

Baca Juga: Ratusan PPPK Probolinggo Cairkan JHT, BPJS Jelaskan Syarat dan Risiko Kehilangan Perlindungan

Lahan yang dihibahkan tersebut bukanlah tanah yang diperoleh dengan mudah. Nur Ali membelinya melalui perjuangan panjang, bahkan sempat harus berutang ke bank.

Namun sejak awal, tanah itu memang diniatkan untuk diwakafkan demi kepentingan pendidikan agama di bawah naungan Kementerian Agama.

“Saya ingin madrasah ini memiliki masa depan yang jelas dan berkelanjutan,” demikian prinsip yang selama ini dipegang Nur Ali, dikutip pojoksatu.id dari instagram @GNFI (19/1/2026).

Baca Juga: Honorer Non-ASN di Siak Dipastikan Tak Dirumahkan, Gaji Tetap Dibayar Selama Masa Transisi, Ini Penjelasannya

Menurutnya, penghibahan lahan ini bukan semata soal pembangunan fisik gedung sekolah.

Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai investasi nilai, yang kelak melahirkan generasi berilmu, berkarakter, dan berakhlak mulia.

Selama lebih dari dua dekade mengabdi sebagai pendidik, Nur Ali dikenal sebagai sosok sederhana yang konsisten memperjuangkan kualitas pendidikan agama di daerahnya.

Baca Juga: Honorer Non-ASN di Siak Dipastikan Tak Dirumahkan, Gaji Tetap Dibayar Selama Masa Transisi, Ini Penjelasannya

Ia percaya bahwa pendidikan adalah pondasi utama membangun peradaban, terlebih di wilayah yang rawan bencana dan keterbatasan.

Banjir yang melanda Tapanuli Selatan menjadi momentum refleksi bagi banyak pihak.

Saat sebagian orang sibuk menghitung kerugian, Nur Ali justru memilih memberi solusi nyata dengan mengorbankan apa yang ia miliki.

Baca Juga: Juknis TPG 2026 Ditunggu, Tapi Sinyal Percepatan Sudah Terlihat, Ini yang Harus Disiapkan Guru

Pengabdiannya menjadi pengingat bahwa peran guru tidak hanya terbatas di ruang kelas.

Guru adalah penjaga masa depan, penanam nilai, sekaligus teladan tentang keikhlasan dan tanggung jawab sosial.

Langkah Nur Ali pun mendapat apresiasi luas dari masyarakat.

Baca Juga: Tak Hanya Yaqut, KPK Didesak Tersangkakan Fuad Maktour, Dugaan Kickback Travel di Kasus Kuota Haji

Di tengah sorotan terhadap berbagai persoalan pendidikan nasional, kisah ini menjadi oase yang menunjukkan bahwa ketulusan masih hidup dan nyata.

Apa yang dilakukan Nur Ali Harahab membuktikan bahwa perubahan besar bisa lahir dari orang-orang biasa, dengan niat yang luar biasa.***