POJOKSATU.id, MAKASSAR-- Guru Besar Dirasah Islamiyah PPs UIN Alauddin Makassar Prof Dr H Syahruddin Usman MPd mengkaji kematian atau wafatnya Ustadz Yahya Waloni saat khutbah Jumat di Masjid Darul Falah Minasa Upa, Kota Makassar.
Menurut Prof Syahruddin Usman, momen kematian Ustadz Muhammad Yahya Waloni di mimbar masjid ini adalah defenisi sejati dari husnul khatimah.
Syahruddin Usman yang juga Ketua Umum Pengurus Masjid Darul Falah ini membeberkan kriteria-kriteria sehingga wafatnya Yahya Waloni dinilai sebagai kematian husnul khatimah.
Prof Syahruddin mengaku saat khutbah itu, dia menyimak khutbah Ustad Yahya dari lantai 2 masjid Darul Falah.
Baca Juga: Fakta-fakta Pemakaman Ustadz Yahya Waloni yang Sederhana di Kampung Cilimus, Diantar Laskar FPI
"Insyallah momen kematian almarhum adalah defenisi sejati dari husnul khatimah. Kematiannya bikin iri jamaah," ujar Prof Syahruddin Usman kepada wartawan, Jumat (6/6).
Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini membeberkan alasan kematian husnul khatimah tersebut. Dimana Ustadz Yahya meninggal di hari Jumat, tempatnya di mimbar khatib Jumat.
Sedang mengerjakan amaliah atau ibadah, dan khutbah yang disampaikan tentang indahnya ketaatan, ketauhidan dan pengorbanan sejati Nabi Ibrahim dan putranya Ismail kepada Allah SWT.
Menurutnya, saat khutbah Jumat itu, Yahya Waloni yang wafat di usia 55 tahun ini berkhutbah dengan suara lantang, bergairah, mudah dimengerti dan sangat sistematis.
Baca Juga: Pemakaman Ustadz Yahya Waloni Dilakukan di Purwakarta, Ternyata Ada Keinginan Bangun Masjid
Kali Kedua Khatib Jumat
Menurut Ketum Pengurus Masjid Darul Falah ini, inilah kali kedua Ustad Yahya Waloni jadi khatib Jumat di masjid itu. Tahun lalu, Yahya Waloni juga sempat menjadi khatib di masjid tersebut.
Menurut keterangan dari panitia masjid, Ustad Yahya sengaja meminta agar diberi kesempatan menjadi khatib Jumat di Masjid Darul Falah karena kebetulan lagi safari dakwah di Kota Makassar.
Tema khutbah yang disampaikan yaitu Mengokohkan Iman Tauhid dan Meneguhkan Ukhuwah Islamiyah.
Baca Juga: Ustadz Yahya Waloni Tutup Usia di Umur 55 Tahun Saat Khutbah Jumat, Ahmad Alhabsyi: Happy Ending
Berjualan Buku Agama
Selain melaksanakan Safari Dakwah di Kota Makassar yang dilaksanakan mulai 1 Juni, Yahya Waloni yang didampingi istrinya, Siti Muthamainnah ini ternyata juga berjualan buku theologi perbandingan agama karya miliknya.
"Bukunya dia jual, untuk membiayai dakwah dan pembangunan masjid di kampung halamannya," ujar Anto Endekang (68), muadzzin sekaligus Humas Masjid Darul Falah dilansir Tribun Timur.
Menurut Anto, sebelum naik ke mimbar khatib pukul 12.01 WITA, dia sempat duduk berdampingan dan menyiapkan sajadah dan air minum untuk Yahya Waloni.
Anto Endekang bahkan masih sempat berfoto dengan sang ustad. Dimana saat berfoto ini, tangan Yahya Waloni mengepal dan selalu tersenyum hangat.
"Yang saya tahu, dalilnya orang yang meninggal di hari Jumat itu masuk sorga. Dan ustad Yahya ini meninggal saat jadi khatib Jumat, di hari Idul Adha, dan masih sempat membaca takbir Lebaran, sebelum jatuh memegang dadanya," ujar Anto Endekang.***




