POJOKSATU.id — Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang kembali menjadi sorotan seiring gunungan sampah yang terus meninggi dari tahun ke tahun.
Lokasi yang menampung sebagian besar sampah Jakarta ini kini berada dalam kondisi yang kian mengkhawatirkan dan dinilai sudah mendekati batas aman.
Setiap hari, ribuan ton sampah dikirim ke Bantargebang.
Jika tidak diimbangi dengan pengurangan dan pengolahan yang optimal, gunungan sampah berpotensi menimbulkan dampak serius bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Baca Juga: Gen Z Wajib Tahu! Ini Literasi Keuangan Penting agar Tak Terjebak Utang dan Gaya Hidup
Salah satu dampak paling nyata adalah pencemaran lingkungan.
Timbunan sampah menghasilkan lindi atau air rembesan yang dapat meresap ke tanah dan mencemari air tanah.
Selain itu, gas metana yang muncul dari pembusukan sampah bukan hanya menimbulkan bau menyengat, tetapi juga berbahaya karena mudah terbakar dan berkontribusi pada pemanasan global.
Dari sisi kesehatan, warga yang tinggal di sekitar Bantargebang menghadapi risiko meningkatnya penyakit pernapasan, gangguan pencernaan, hingga penyakit kulit.
Baca Juga: Resmi! Pemutihan Pajak Kendaraan di Aceh Berlaku hingga 30 April 2026, Ini Ketentuannya
Kondisi ini diperparah oleh populasi lalat, tikus, dan mikroorganisme yang berkembang di area penumpukan sampah.
Ancaman lain yang tak kalah serius adalah risiko longsor sampah.
Baca Juga: ASN Harus Tahu, Ini Alasan Gaji PNS Januari 2026 Cair Bertahap
Gunungan sampah yang tingginya setara bangunan bertingkat berpotensi runtuh, terutama saat hujan lebat.
Jika terjadi, longsor sampah dapat menimbun alat berat, membahayakan pemulung, bahkan mengancam permukiman warga di sekitar lokasi.
Selain dampak lingkungan dan kesehatan, persoalan sampah juga memicu beban sosial dan ekonomi.
Biaya pengelolaan sampah terus meningkat, sementara konflik antara warga, pemulung, dan pemerintah kerap muncul akibat kondisi lingkungan yang memburuk.
Menghadapi situasi tersebut, solusi yang dilakukan tidak bisa lagi bersifat parsial.
Langkah paling krusial adalah mengurangi sampah dari sumbernya.
Baca Juga: Penjajahan Baru, Donald Trump akan Kelola Negara Venezuela Sampai Pemerintahan Transisi
Pemilahan sampah rumah tangga, pembatasan plastik sekali pakai, serta perubahan gaya hidup menjadi kunci utama menekan jumlah sampah yang masuk ke Bantargebang.
Pemerintah juga perlu memperkuat pengolahan sampah berbasis wilayah, seperti pembangunan TPS 3R dan pengolahan sampah organik menjadi kompos atau pakan maggot.
Dengan cara ini, Bantargebang tidak lagi menjadi satu-satunya tumpuan pembuangan sampah.
Pemanfaatan teknologi, seperti pengolahan gas metana dan waste to energy, dapat menjadi solusi pendukung.
Namun, teknologi harus dibarengi pengawasan ketat agar tidak menimbulkan masalah lingkungan baru.
Baca Juga: Jangan Terlewat! Ini 2 Kabar Gembira Guru Januari 2026 soal NRG PPG dan Pencairan TPG THR 100 Persen
Di sisi lain, perlindungan terhadap warga sekitar dan pemulung juga harus menjadi prioritas.
Peningkatan standar keselamatan, layanan kesehatan, hingga program peningkatan ekonomi menjadi bagian penting dari solusi berkelanjutan.
Masalah gunungan sampah Bantargebang bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan pola konsumsi dan pengelolaan sampah yang belum berubah.
Tanpa komitmen kuat dari pemerintah, industri, dan masyarakat, risiko krisis lingkungan akan terus membayangi.***




