POJOKSATU.id — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali meningkat sejak Jumat (4/9) sehingga kondisi gunung api yang berada di Selat Sunda tersebut menjadi perhatian masyarakat.
Kekhawatiran muncul lantaran Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah berkaitan dengan tsunami Selat Sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018.
Meski demikian, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini tidak sama dengan keadaan gunung sebelum kejadian tsunami pada 2018.
Baca Juga: Ketiak Sering Bau? Ini 9 Cara Menjaga Ketiak Tetap Bersih dan Kering
Hasil pengamatan terbaru belum menemukan tanda-tanda yang menunjukkan adanya potensi keruntuhan tubuh gunung dalam ukuran besar yang dapat menimbulkan tsunami.
Kepala Badan Geologi Lana Saria menerangkan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau tidak serta-merta menjadi penyebab munculnya tsunami.
"Tidak setiap erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami. Tsunami Selat Sunda pada tanggal 22 Desember 2018 terutama berkaitan dengan keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume yang besar, bukan semata-mata akibat kolom erupsi," ujar Kepala Badan Geologi, Lana Saria
Baca Juga: Syarat Masuk SMA Taruna Nusantara 2027/2028, Nilai Minimal hingga Dokumen Pendaftaran
Menurutnya, tsunami yang menerjang kawasan Selat Sunda pada 2018 lebih berkaitan dengan runtuhnya bagian tubuh gunung api dalam jumlah besar hingga masuk ke laut.
Dengan demikian, aktivitas erupsi yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau tidak selalu diikuti dengan ancaman tsunami.
Lana menjelaskan kondisi fisik Gunung Anak Krakatau saat ini telah mengalami perubahan besar jika dibandingkan dengan periode sebelum tsunami 2018.
Sebagian tubuh gunung sebelumnya mengalami keruntuhan pada 2018, kemudian struktur gunung kembali berkembang dan mengalami perubahan bentuk seiring berlangsungnya aktivitas vulkanik setelah peristiwa tersebut.
Pengamatan morfologi terbaru menunjukkan kondisi kawah utama dan tubuh Gunung Anak Krakatau belum memperlihatkan perubahan berarti jika dibandingkan dengan hasil pemantauan sebelumnya.
Badan Geologi juga menilai volume tubuh gunung yang terbentuk kembali setelah kejadian 2018 masih tergolong kecil.
Kondisi tersebut membuat struktur gunung saat ini belum berada pada tahap yang dianggap memiliki volume kritis untuk mengalami longsoran besar menuju laut.
Lana menegaskan bahwa hasil evaluasi hingga saat ini belum menunjukkan adanya potensi keruntuhan tubuh Gunung Anak Krakatau dalam skala besar yang dapat memicu tsunami.
Baca Juga: Universitas dengan Jurusan Arsitektur Terbaik di Indonesia Versi QS 2026, ITB, UI dan ITS Melesat
Walaupun begitu, pemerintah tetap melakukan pemantauan secara ketat terhadap perkembangan aktivitas vulkanik sekaligus perubahan bentuk tubuh gunung.
Penilaian Badan Geologi mengenai rendahnya potensi tsunami juga didukung oleh hasil observasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
BMKG menyampaikan bahwa kemungkinan munculnya tsunami yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih tergolong rendah.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pihaknya terus memantau kondisi perairan Selat Sunda menggunakan berbagai perangkat pendeteksi.
Hingga Minggu (6/9) pukul 07.00 WIB, sebanyak 20 tsunami gauge yang berada di sekitar Selat Sunda belum mencatat adanya perubahan tidak normal pada permukaan laut.
Faisal menyampaikan bahwa hasil pengamatan tersebut belum memperlihatkan tanda adanya anomali muka air laut yang mengarah pada kejadian tsunami.
Artinya, hingga waktu pemantauan tersebut belum ditemukan indikasi tsunami berdasarkan data yang diperoleh dari perangkat pemantauan BMKG.
Pengawasan juga dilakukan menggunakan high frequency radar yang berada di Carita dan Tanjung Lesung.
Baca Juga: Universitas Farmasi Terbaik di Indonesia Versi QS World University Rankings by Subject 2026
Dari hasil pengamatan kedua radar tersebut, kemungkinan terjadinya tsunami juga masih berada pada tingkat rendah.
Meski belum ditemukan perubahan abnormal pada kondisi laut, BMKG tidak mengurangi kewaspadaan, terutama di wilayah pesisir Banten.
Perangkat high frequency radar di Carita dan Tanjung Lesung bahkan telah dioperasikan dalam tsunami mode untuk meningkatkan kemampuan deteksi apabila terjadi perubahan kondisi perairan.
Faisal menjelaskan teknologi tersebut memungkinkan BMKG melakukan pemantauan terhadap potensi tsunami dari jarak sekitar 150 kilometer dari garis pantai.
Baca Juga: 10 Kampus Swasta Terbaik di Indonesia Versi UNIRANKS 2027, Telkom University Teratas
Untuk mendapatkan hasil analisis yang lebih akurat, BMKG tidak hanya mengandalkan satu jenis instrumen.
Berbagai data dikombinasikan, mulai dari citra satelit, tsunami gauge, high frequency radar, sensor geomagnetik yang berada di sekitar Selat Sunda hingga rekaman aktivitas petir vulkanik.
Seluruh informasi tersebut kemudian diproses dan dianalisis secara bersamaan sebagai dasar untuk menentukan langkah penanganan apabila terjadi perubahan kondisi.***




