POJOKSATU.ID - Ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, masih menyisakan duka dan keprihatinan mendalam.
Di tengah proses penanganan medis bagi puluhan korban.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa seluruh biaya pengobatan para korban akan ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Baca Juga: Dari Marah ke Tenang! 6 Langkah Belajar Mengendalikan Emosi Tanpa Kehilangan Diri Sendiri
Langkah cepat ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab negara terhadap keselamatan siswa serta dukungan penuh untuk pemulihan fisik dan psikologis mereka.
Kunjungan Gubernur ke Rumah Sakit
Gubernur Pramono langsung meninjau kondisi korban yang tengah dirawat di RS Islam Jakarta Cempaka Putih dan beberapa rumah sakit rujukan lain, termasuk RS Mitra Keluarga Kelapa Gading.
Dalam kunjungan itu, ia berbicara langsung dengan dokter, perawat, serta keluarga korban.
Baca Juga: PPPK Harus Tingkatkan Kompetensi Sebelum Kontrak Berakhir, Ini Regulasi Terbarunya
Empat korban masih menjalani operasi besar, sementara lebih dari 20 siswa lainnya masih dirawat intensif karena luka bakar dan trauma akibat ledakan yang terjadi pada Jumat (7/11/2025).
Pemerintah Provinsi juga telah menugaskan tim psikolog dari RSUD Tarakan dan Pusat Krisis DKI untuk memberikan pendampingan emosional kepada siswa dan guru yang mengalami trauma.
Dukungan dari Pemprov dan Dinas Pendidikan
Selain bantuan medis, Pemprov DKI menurunkan Dinas Sosial untuk menyiapkan bantuan logistik bagi keluarga korban yang menunggu di rumah sakit.
Baca Juga: KPK Ciduk Bupati Ponorogo dan Adiknya, Apakah Sistem Mutasi Jabatan di Daerah Memang Rentan Korupsi?
Sementara itu, Dinas Pendidikan DKI Jakarta menegaskan bahwa kegiatan belajar mengajar di SMAN 72 akan dihentikan sementara selama proses sterilisasi dan penyelidikan berlangsung.
Sekolah juga diperintahkan untuk melakukan audit keamanan internal, termasuk pemeriksaan terhadap fasilitas ibadah, laboratorium, dan gudang peralatan sekolah.
Untuk memastikan tidak ada bahan atau benda berisiko tersisa di lingkungan sekolah.
Respons Cepat Aparat dan Koordinasi Pemprov
Pramono mengapresiasi langkah cepat aparat kepolisian yang telah mengamankan lokasi dan memulai penyelidikan intensif.
Baca Juga: Dari Sawah ke Pabrik, Investasi Baru Ini Janjikan Ratusan Ribu Lapangan Kerja di Desa
Ia juga memastikan bahwa Pemprov DKI siap bekerja sama dengan Polda Metro Jaya dan Kodamar TNI AL mengingat lokasi SMAN 72 berada dalam kompleks militer Kelapa Gading.
Pemerintah Provinsi DKI juga menyiapkan posko informasi terpadu di area sekolah yang melibatkan BPBD, Dinas Kesehatan, dan relawan PMI untuk membantu keluarga korban mendapatkan update resmi.
Empati dan Reaksi Warga
Pasca kejadian, ratusan warga sekitar dan alumni SMAN 72 menggelar doa bersama di halaman sekolah. Banyak dari mereka membawa bunga dan lilin sebagai simbol solidaritas bagi para korban.
Baca Juga: Honda Daya Jayadi Racing Team Siap Gaspol di Kejurda Road Race IMI Jabar Seri 2 Bukit Peusar
Orang tua siswa menyambut positif langkah Gubernur DKI yang sigap turun ke lapangan.
Sementara itu, organisasi guru dan komite sekolah menyerukan pentingnya evaluasi menyeluruh sistem keamanan di sekolah-sekolah Jakarta agar peristiwa serupa tidak terulang.
Komitmen Pemprov Sekolah Harus Aman
Dalam pernyataannya, Gubernur Pramono juga menegaskan akan menambah anggaran keamanan sekolah pada APBD Perubahan 2025, mencakup peningkatan sistem pemantauan CCTV.
pelatihan evakuasi darurat, dan pembentukan Tim Reaksi Cepat Sekolah (TRCS) di tiap wilayah.
Baca Juga: Kesehatan Mental ASN Jadi Fokus Baru Pemkot Cimahi, Demi Layanan Publik Berkualitas
Kebijakan ini disambut baik oleh DPRD DKI Jakarta yang menilai bahwa langkah Pemprov sudah tepat dan berpihak kepada rakyat.
Selain menjamin biaya pengobatan, pemerintah juga diminta untuk menanggung biaya rehabilitasi psikologis dan pendidikan lanjutan bagi siswa yang tidak bisa kembali ke sekolah dalam waktu dekat.
Kunjungan Gubernur Pramono Anung dan jaminan penuh dari Pemprov DKI menjadi sinyal kuat bahwa negara hadir dalam krisis.
Di tengah luka dan trauma, dukungan moral serta tanggung jawab pemerintah menjadi harapan baru bagi keluarga korban.
Kini, yang dibutuhkan bukan hanya perawatan medis, tetapi juga pemulihan kepercayaan publik terhadap keamanan sekolah-sekolah negeri di Jakarta.***




