POJOKSATU.id, KALTIM— Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud keluar dari kantornya pada Selasa malam (21/4) sekitar pukul 20.00 WITA. Rudy berjalan menuju rumah dinasnya.
Rudy ogah menemui ratusan massa yang melakukan unjuk rasa sejak siang di depan kantornya yang terdiri dari warga dan mahasiswa Kalimantan Timur.
Demo ini sebagai bentuk kekecewaan rakyat Kalimantan Timur terhadap etika dan gaya hidup Rudy Mas’ud selama ini, salah satunya kasus renovasi rumah dinas yang berbiaya Rp 25 miliar.
Baca Juga: Calon Lawan Borneo FC Dilanda Badai Cedera, Misi Semen Padang Lolos Degradasi Makin Rumit
Ketika berjalan menuju rumah dinasnya, Rudy tak mau memberikan komentar kepada wartawan yang ada di sekitar lokasi.
Massa yang tergabung dalam Aksi 21 April sebelumnya memadati gerbang Kantor Gubernur di Jalan Gajah Mada, Samarinda sejak siang.
Dengan membawa spanduk dan pengeras suara, para orator bergantian menyampaikan tuntutan.
Sejumlah peserta aksi mengaku sempat melihat keberadaan Rudy Mas’ud di dalam kantor, memantau jalannya demonstrasi dari ruang kerjanya. Namun, hingga sore hari, gubernur tidak menemui massa.
Baca Juga: Aksi Demo Besar-besaran di Kantor Gubernur Kaltim 21 April, Istri Perwira Polisi Disebut Penggerak
Kondisi itu memicu kekecewaan yang berujung pada meningkatnya tensi aksi. Memasuki pukul 18.00 WITA, sebagian massa mulai melakukan pelemparan ke arah dalam kantor gubernur.
Botol air mineral, batu, hingga pecahan material lainnya dilemparkan sebagai bentuk pelampiasan kekecewaan.
Di saat yang sama, aksi pembakaran ban terjadi di ruas jalan depan kantor gubernur, menambah ketegangan dengan kepulan asap yang membumbung di lokasi.
Mereka menyuarakan tiga tuntutan, yakni meminta audit total kebijakan pemerintah, pembersihan praktik nepotisme dan penguatan taji legislatif dalam mengontrol kebijakan eksekutif.
Melihat situasi yang kian tidak terkendali, aparat keamanan akhirnya mengambil langkah tegas. Petugas menyemprotkan air menggunakan water cannon untuk membubarkan massa.
Aparat kepolisian dan Satpol PP yang berjaga di balik pagar tetap siaga mengamankan objek vital tersebut.
Setelah tindakan pembubaran dilakukan, massa berangsur meninggalkan lokasi dengan pengawalan ketat aparat.
Meski situasi berangsur kondusif dan Gubernur Kaltim meninggalkan kantor pada malam hari, hingga berita ini diturunkan pihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur belum memberikan keterangan resmi.***




