POJOKSATU.ID - Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka menegaskan komitmen pemerintah.

Dalam mencetak generasi santri yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan teknologi masa depan.

Tak hanya piawai dalam ilmu agama, para santri juga diharapkan mahir dalam bidang seperti blockchain, kecerdasan buatan (AI), robotik, dan bioteknologi.

Pernyataan tersebut disampaikan Gibran saat menghadiri Pelantikan Pengurus Pimpinan Wilayah (PW).

Baca Juga: Menkeu Purbaya Tegaskan, Indonesia Terbuka untuk Investasi Asing, tapi Tak Akan Bergantung

Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah masa khidmat 2025–2029 di Pondok Pesantren As Shodiqiyah, Semarang, Sabtu 1 November 2025.

“Anak-anak muda Ansor akhlaknya pasti baik, ngajinya baik, tapi harus diimbangi dengan ilmu-ilmu yang bisa menjawab tantangan zaman,” ujar Gibran dalam sambutannya.

Menurut Gibran, pesantren harus menjadi pusat lahirnya generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga inovatif.

Pemerintah, katanya, akan terus mendukung pengembangan ekosistem pendidikan berbasis teknologi.

Baca Juga: Honorer Lama Meradang, Pemda Sibuk Rekrut Outsourcing Baru

Di lingkungan pesantren, agar para santri bisa berkontribusi lebih luas bagi bangsa.

Langkah ini, lanjut Gibran, sejalan dengan visi besar pemerintahan Prabowo Gibran.

Untuk membangun Indonesia yang berdaulat secara teknologi.

Ia juga menilai bahwa pesantren memiliki potensi besar menjadi pusat inovasi teknologi sosial.

Karena karakter santri yang disiplin, beretika, dan terbiasa belajar dalam komunitas yang kolaboratif.

Dalam kesempatan itu, Gibran menekankan pentingnya keseimbangan antara akhlak mulia dan kemampuan sains modern.

Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh menggerus nilai moral dan spiritual yang menjadi fondasi bangsa.

Ia juga mendorong agar para santri tidak ragu belajar ilmu baru dan berkolaborasi dengan dunia industri maupun startup.

Baca Juga: Dukung Generasi Emas, Pertamina Regional JBB Latih Guru dan Pengasuh TPA Al-Firdaus Lewat Program Tamasya

Gibran menyebut beberapa bidang masa depan seperti AI, data science.

Dan bioteknologi sebagai peluang besar bagi generasi muda untuk mengangkat ekonomi umat.

Pernyataan Wapres tersebut disambut positif oleh kalangan pesantren dan organisasi kepemudaan Islam. Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah, Shidqon Prabowo.

Menyebut dorongan dari Gibran sebagai motivasi kuat bagi para kader muda NU untuk menyeimbangkan ilmu agama dan teknologi.

Baca Juga: Inflasi 0,28 persen Hasil Operasi Senyap Pemerintah dan BI Jaga Harga Pangan Tetap Aman

Shidqon juga mengatakan, GP Ansor siap menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga teknologi nasional.

Untuk membuka akses pelatihan digital bagi santri di seluruh Jawa Tengah.

Pernyataan Gibran menjadi langkah penting dalam membangun paradigma baru pendidikan pesantren di era modern.

Ia menilai, santri yang memiliki kemampuan teknologi dapat menjadi penghubung.

Antara nilai-nilai tradisi keagamaan dengan kemajuan digital yang terus berkembang.

Pesantren dinilai memiliki potensi besar untuk melahirkan inovator masa depan.

Karena di dalamnya tertanam kedisiplinan, semangat belajar tinggi, dan jiwa pengabdian yang kuat.

Dengan dukungan pemerintah dalam bentuk pelatihan serta penyediaan infrastruktur digital yang memadai.

Bukan tidak mungkin Indonesia akan memiliki ekosistem teknologi yang tumbuh dari lingkungan pesantren.

Baca Juga: Guru Madrasah Masih Sulit Diangkat PPPK, Ini Akar Masalah yang Tak Kunjung Tuntas

Semacam “Silicon Valley versi pesantren” dalam beberapa tahun mendatang.

Kunjungan Wapres Gibran ke Jawa Tengah ini menunjukkan arah baru kebijakan pendidikan berbasis keagamaan di Indonesia.

Pemerintah ingin agar pesantren tidak hanya menjadi benteng moral bangsa.

Tetapi juga pusat lahirnya inovator dan teknolog muslim.

Dengan kombinasi antara akhlak, ilmu, dan inovasi, generasi santri Indonesia diharapkan.

Menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan zaman digital, sekaligus menjaga nilai-nilai luhur bangsa.***