POJOKSATU.id – Sebuah momen sederhana namun penuh makna terjadi di salah satu sekolah di Salatiga akhir pekan lalu.

Ratusan siswa tidak hanya mendapatkan paket makan bergizi gratis, tetapi juga sebutir pil penambah darah.

Siapa sangka, pil kecil ini ternyata bagian dari strategi besar melawan ancaman stunting di Indonesia.

Baca Juga: Peran Dapodik dalam Pencairan Tunjangan Profesi Guru dan Cara Memastikan Datanya Valid

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyampaikan.

Bahwa program makan bergizi gratis (MBG) di sekolah kini dilengkapi dengan pemberian pil penambah darah sebagai intervensi untuk mencegah stunting.

“Minggu lalu saya ke Salatiga mereka menerima MBG sekaligus menerima pil penambah darah Pastikan anak-anaknya meminum obatnya.”

Baca Juga: Viral Dua Pria Gondol Kotak Amal di Musala Depok, Warga Cuma Nonton

ujar Gibran di Youtube resmi Wakil Presiden

 

Kenapa Pil Penambah Darah?

Ide pemberian tablet tambah darah (TTD) ini bukan asal-asalan.

Studi menunjukkan bahwa anemia dan kekurangan zat besi pada ibu hamil atau remaja putri memiliki korelasi dengan kejadian stunting pada anak.

Baca Juga: Hadiah Manis di Hari Guru Nasional Dari Kemenag, 101 Ribu Lulus PPG Daljab Tahap 3, TPG Naik 2026

Sebuah penelitian di Provinsi Sumatera Utara menemukan bahwa peningkatan cakupan.

Pemberian TTD pada ibu hamil turut diikuti oleh penurunan prevalensi stunting dari 30,11% menjadi 21,1% dalam beberapa tahun terakhir.

Lebih jauh, menurut Budi Gunadi Sadikin (Menteri Kesehatan RI).

Remaja putri yang rutin menerima TTD memiliki kadar hemoglobin lebih baik dan berisiko lebih rendah melahirkan anak stunting.

Baca Juga: Aneh Tapi Nyata, Nenek di Pasar Jakbar Bayar Sayur Pakai Uang Palsu, Tiap Lembar Dibeli Rp50 Ribu

Karena itu pemberian TTD tidak hanya ditujukan untuk ibu hamil, tapi juga sebagai langkah pencegahan sejak dini di sekolah.

 

Mengapa Di Sekolah?

Pemilihan sekolah sebagai tempat intervensi dianggap strategis anak-anak sudah berkumpul.

Bisa diberi edukasi gizi, dan pelaksanaan bisa terpantau langsung oleh guru dan petugas kesehatan.

Baca Juga: Peran Dapodik dalam Pencairan Tunjangan Profesi Guru dan Cara Memastikan Datanya Valid

Kebijakan distribusi melalui institusi pendidikan pun telah direkomendasikan sebagai langkah penting dalam kebijakan nasional.

Karena sebuah intervensi yang tampak kecil “sebutir pil” asesungguhnya bisa punya efek domino besar.

Anak yang tidak anemik, ketika lahir nanti punya peluang lebih besar tumbuh optimal, berpotensi keluar dari lingkaran stunting.

Baca Juga: Hadiah Manis di Hari Guru Nasional Dari Kemenag, 101 Ribu Lulus PPG Daljab Tahap 3, TPG Naik 2026

Jika berhasil di Salatiga, skala nasional bisa jadi terobosan.

Namun, kalau gagal implementasi akan jadi pengingat bahwa tidak cukup program diprogramkan harus dijalankan, dipantau.

Dan diikuti edukasi serta lingkungan yang mendukung.***