POJOKSATU.id – Suasana di Dusun Lhokpungki, Kecamatan Sawang, Aceh Utara jelang Ramadan terasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Tak ada lagi rumah-rumah yang berdiri kokoh, tak ada dapur sendiri tempat keluarga menyiapkan hidangan khas Meugang.

Yang ada kini hanyalah deretan hunian darurat dan tenda-tenda pengungsian, tempat puluhan keluarga bertahan setelah kampung mereka hilang diterjang bencana.

Meski demikian, semangat menyambut Ramadan tak pernah benar-benar padam.

Baca Juga: Masih Belum Usai, Jokowi Kembali Diperiksa di Polresta Solo, Lengkapi Berkas Kasus Tudingan Ijazah Palsu

Tradisi Meugang atau budaya makan daging bersama yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh jelang Ramadan tetap dihidupkan di tengah keterbatasan.

Gerakan Anak Negeri (GAN) hadir membawa satu ekor sapi untuk dibagikan kepada para pengungsi, menghadirkan kebahagiaan sederhana yang begitu berarti.

Sudah sejak pagi warga mulai berkumpul dan bersama-sama memulai tradisi ini.

Para lelaki bergotong royong menyembelih dan memotong daging, sementara ibu-ibu menyiapkan pembagian untuk setiap keluarga.

Baca Juga: Menkes Kena Semprot DPR Soal BPJS PBI Dinonaktifkan, Wajar Rakyat Marah, Data Pemerintah Tak Sinkron

Sementara anak-anak berlarian di sekitar tenda dengan wajah ceria, menyaksikan suasana yang jarang mereka rasakan sejak bencana datang.

Di antara aroma daging yang mulai dimasak dan obrolan hangat warga, senyum-senyum kembali merekah.

Penasihat Gerakan Anak Negeri, Hazairin Sitepu, mengatakan, kehadiran GAN bukan sekadar membawa bantuan materi.

Tetapi juga ingin menjaga harapan dan tradisi yang menjadi penguat masyarakat Aceh.

Menurutnya, Meugang bukan hanya tentang makan daging saja.

"Ini tradisi yang sarat makna, tentang kebersamaan, tentang berbagi, dan tentang menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh syukur," ujar dia.

Meski tidak besar, Gerakan Anak Negeri ingin juga bisa memberikan kebahagiaan bagi penyintas bencana.

"Kami ingin saudara-saudara kita di pengungsian tetap bisa merasakan suasana itu," sambung Hazairin.

Baca Juga: Di Tengah Lalu Lintas Dialihkan, TNI AU Uji Coba Pendaratan Pesawat Tempur F-16 di Tol Terbanggi Besar

Ia menegaskan, di tengah ujian panjang yang dialami warga, menjaga tradisi adalah bagian dari menjaga semangat hidup.

"Kita tahu mereka kehilangan banyak hal. Rumah, harta benda, bahkan kenangan. Tapi jangan sampai mereka kehilangan semangat dan kebersamaan. Ramadan harus tetap disambut dengan suka cita," tekan dia.

Bagi warga Dusun Lhokpungki, bantuan tersebut bukan sekadar daging yang dibagikan merata.

Lebih dari itu, Meugang kali ini menjadi simbol bahwa mereka tidak sendiri. Ada tangan-tangan yang peduli, ada hati yang ikut menguatkan.

Baca Juga: Satgas Damai Cartenz Ungkap Pilot Kopilot Pesawat Smart Air Tewas Ditembak KKB Usai Mendarat

"Alhamdulillah, kami sangat bersyukur. Walaupun masih di pengungsian, kami tetap bisa merasakan Meugang seperti biasa," ungkap kepala Dusun Lhok Pungki, Firmadi.

Di tengah tenda-tenda sederhana, kebersamaan terasa begitu hangat.

Tawa anak-anak bersahutan, suara percakapan terdengar akrab, dan harapan perlahan tumbuh kembali.

Ramadan bagi mereka bukan hanya tentang ibadah dan menahan lapar tapi juga tentang berbagi, saling menguatkan, dan tentang keyakinan bahwa setiap ujian akan ada akhirnya.***