POJOKSATU.id — Dampak gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terasa.
Hingga Jumat, 21 Agustus 2026, BNPB melaporkan sebanyak 110.785 warga harus meninggalkan tempat tinggal mereka dan mengungsi.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan bahwa angka tersebut mengalami kenaikan karena aktivitas gempa susulan masih terjadi di beberapa daerah.
Jumlah pengungsi itu bertambah cukup signifikan dibandingkan catatan sebelumnya.
Baca Juga: Lowongan BTN 2026 Dibuka untuk Profesional IT dan Keamanan Siber, Cek Syarat dan Cara Daftar
BNPB sebelumnya mencatat terdapat 92.735 warga yang berada di tempat pengungsian.
“Warga yang mengungsi hari ini bertambah lagi dari sebelumnya 92.735 jiwa, kini tercatat sebanyak 110.785 jiwa atau meningkat 18.050 jiwa,” ujar Berton.
Kenaikan tersebut membuat lebih dari 110 ribu warga kini membutuhkan tempat yang aman untuk berlindung.
Pemerintah bersama tim penanggulangan bencana pun terus berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat selama berada di pengungsian.
Tidak hanya menyebabkan warga harus mengungsi, rangkaian gempa susulan juga memberikan dampak terhadap sejumlah sarana dan prasarana di wilayah NTT.
Salah satu kejadian terjadi pada Kamis, 20 Agustus 2026 sekitar pukul 09.47 WIB.
Baca Juga: Jakarta Job Fair 2026 Digelar 27-28 Agustus, Buka Ribuan Lowongan Kerja dan Gratis untuk Umum
Gempa susulan saat itu berdampak pada ruas jalan di kawasan Wae Gongger serta Jembatan Wae Dampak, Kabupaten Manggarai Timur.
Kementerian Pekerjaan Umum bergerak melakukan penanganan terhadap bagian infrastruktur yang mengalami gangguan.
Langkah tersebut dilakukan agar akses menuju kawasan terdampak dapat segera dipulihkan dan pengiriman bantuan kepada warga tidak terhambat.
Berton mengungkapkan bahwa sembilan ruas jalan nasional yang sebelumnya mengalami dampak gempa kini sudah bisa digunakan kembali.
“Sembilan ruas jalan nasional yang terdampak telah kembali fungsional,” ungkapnya.
Jalur yang menghubungkan Ende dan Nagekeo menjadi salah satu akses vital yang sebelumnya sempat terganggu.
Kondisi tersebut berdampak terhadap aktivitas perjalanan sekaligus distribusi bantuan menuju wilayah terdampak.
Saat ini jalur tersebut telah kembali terbuka.
Meski demikian, petugas masih melakukan pembersihan di sejumlah bagian jalan agar akses dapat digunakan secara optimal.
Sementara itu, pemerintah juga terus meningkatkan pengiriman bantuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang berada di lokasi pengungsian.
Berdasarkan data BNPB, akumulasi bantuan logistik yang telah dikirimkan selama periode 15 hingga 21 Agustus 2026 mencapai 776 ton.
Pengiriman kembali dilakukan pada Jumat melalui Pos Pendamping Logistik Nasional yang berada di Halim Perdanakusuma.
Sebanyak 65 ton bantuan diberangkatkan menggunakan dua jalur penerbangan.
Rinciannya, 20 ton bantuan diterbangkan menuju Bandara Maumere dan 45 ton lainnya dikirim ke Bandara Labuan Bajo.
“Hari ini berjumlah 65 ton, menuju Maumere 20 ton dan menuju Labuan Bajo 45 ton. Total bantuan logistik sejak tanggal 15 sampai 21 Agustus 2026 berjumlah 776 ton,” kata Berton.
Setelah sampai di daerah tujuan, bantuan tersebut akan diteruskan kepada masyarakat yang terdampak.
BNPB menyebut proses distribusi dilakukan dengan memanfaatkan jalur udara, darat, maupun laut sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan.
Baca Juga: Unsoed Buka Suara Kasus OTT KPK, BEM Kawal Proses Hukum, Aliansi Soedirman Melawan Gelar Aksi
Meningkatnya jumlah pengungsi serta masih munculnya gempa susulan membuat proses penanganan bencana di NTT masih berlangsung.
Pemerintah perlu menjaga agar akses transportasi menuju lokasi terdampak tetap terbuka sekaligus memastikan bantuan dapat diterima warga.
Pemulihan infrastruktur dan kesinambungan distribusi logistik menjadi bagian penting dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat selama kondisi darurat masih berlangsung.***




