POJOKSATU.ID- Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Indonesia kembali melanda yang kali ini menimpa industri televisi konvensional.

Menurut pakar pemasaran, fenomena ini tidak terlepas dari perubahan dramatis dalam lanskap media yang didominasi oleh platform digital, khususnya TikTok.

Artikel ini mengupas tuntas faktor-faktor yang mendorong terjadinya PHK massal di industri televisi serta bagaimana transformasi digital telah mengubah cara konsumsi konten secara fundamental.

Pembahasannya dengan mengacu pada analisis dari pakar marketing dan penulis buku, Yuswohady yang diunggah melalui IG-nya.


Penyebab Utama PHK di Media Televisi

Menurut Bung Siwo, gelombang PHK di media konvensional khususnya TV tidak lepas dari pengaruh yang mengganggu digital dan model bisnisnya yang kurang relevan lagi.

1. Pergeseran Pola Konsumsi Konten

Industri televisi konvensional menghadapi tantangan berat akibat perubahan drastis dalam perilaku pemirsa. TikTok dan platform digital lainnya telah merevolusi cara masyarakat mengonsumsi konten.

Berbeda dengan televisi yang menawarkan program berdurasi panjang dan terstruktur, TikTok hadir dengan fitur-fitur unik sesuai preferensi pengguna.

- Format konten singkat (15 detik-3 menit)

- Tampilan vertikal yang dioptimalkan untuk ponsel

-Kemampuan menangkap perhatian dalam 3 detik pertama

Pergeseran ini menyebabkan penurunan signifikan pada rating acara televisi, yang berdampak langsung pada pendapatan iklan dan akhirnya memaksa stasiun TV melakukan efisiensi melalui PHK.


2. Disrupsi Model Bisnis Tradisional

Model bisnis televisi konvensional yang sangat bergantung pada pemasukan iklan mengalami guncangan hebat.

Para pengiklan pun kini mengalihkan anggaran mereka ke platform digital yang menawarkan hal-hal yang lebih efisien sekaligus relevan.

- Pengukuran ROI yang lebih presisi

- Segmentasi audiens yang lebih akurat

- Biaya yang lebih efisien dengan jangkauan yang lebih luas

Menurut data terbaru, pertumbuhan belanja iklan digital mencapai 20% per tahun, sementara belanja iklan televisi terus mengalami penurunan.

Kondisi ini memaksa manajemen televisi melakukan restrukturisasi, termasuk PHK hingga menekan biaya operasional.


3. Kekuatan Algoritma Personalisasi

Salah satu keunggulan utama TikTok dibandingkan televisi konvensional adalah algoritma cerdas yang menyajikan konten hiper-personal. Algoritma TikTok mampu menunjukkan performa efektif berikut.

- Mempelajari preferensi pengguna secara detail

- Menyesuaikan feed konten berdasarkan minat spesifik

- Menciptakan pengalaman "kandungan digital" yang membuat pengguna terus mengakses platform

Televisi dengan model penyiaran massal tidak mampu bersaing dalam hal personalisasi ini, sehingga kehilangan daya tariknya bagi penonton, khususnya generasi muda.


Dampak Demokratisasi Produksi Konten Terhadap Tenaga Kerja TV

Demokratisasi produksi konten menjadi tantangan tersendiri bagi industri televisi. TikTok, YouTube, dan platform digital lainnya memungkinkan siapa saja menjadi pencipta konten tanpa memerlukan hal-hal penting seperti:

- Modal besar

- Tim produksi profesional

- Peralatan canggih dan mahal

Akibatnya, banyak posisi pekerjaan di industri televisi menjadi kurang relevan, seperti:

- Produsen konten tradisional

- Lapangan produksi Kru

- Tim kreatif acara berdurasi panjang

Perubahan ini mendorong PHK pada posisi-posisi yang dianggap tidak lagi efisien di era digital.


Faktor Real-Time dan Interaktivitas

Kecepatan dan interaktivitas menjadi keunggulan platform digital yang sulit diimbangi televisi konvensional. Hal inilah yang ditawarkan oleh TikTok atau YouTube.

- TikTok mampu menyebarkan konten viral dalam hitungan menit

- pertengkaran interaksi langsung antara kreator dan audiens

- Mendorong partisipasi aktif penonton melalui komentar, duet, dan fitur interaktif lainnya

Televisi dengan model siaran terjadwal dan komunikasi satu arah kesulitan beradaptasi dengan tuntutan audiens modern yang menginginkan konten real-time, interaktif, dan partisipatif.

Akibatnya, banyak departemen dalam struktur organisasi TV yang tidak lagi efektif dan berakhir pada PHK.

Kesenjangan Budaya dan Relevansi Konten

Televisi menghadapi tantangan konvensional dalam memahami dan mengadopsi budaya generasi baru digital, khususnya Gen Z.

Dalam hal ini, TikTok sangat relevan dan berhasil karena mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

- Mengakomodasi gaya bahasa dan humor khas anak muda

- Responsif terhadap tren yang berkembang cepat

- Menciptakan ekosistem kreativitas yang relevan secara sosial dan emosional

Stasiun televisi yang gagal beradaptasi dengan budaya baru ini terpaksa melakukan efisiensi, termasuk mengurangi tenaga kerja yang tidak mampu menghasilkan konten yang sesuai dengan preferensi audiens kontemporer.


Strategi Adaptasi Industri Televisi

Meskipun disrupsi digital mengakibatkan PHK pada industri televisi, beberapa stasiun TV mulai mengembangkan strategi adaptasi berikut.

Strategi ini bisa menjadi contoh dan solusi untuk mempertahankan bahkan memperkuat kembali eksistensi media TV.

1. Transformasi Digital Komprehensif

Hal ini meliputi pengembangkan platform streaming sendiri, integrasi konten TV dengan pengalaman digital, serta pelatihan kembali tenaga kerja untuk keahlian digital.


2. Kolaborasi dengan Kreator Digital

Kerja sama dan kolaborasi ini bisa mencakup: menggandeng influencer TikTok untuk program TV, mengkreasikan konten lintas platform, serta membangun komunitas digital pada program unggulan.


3. Spesialisasi pada Konten Premium

Mengingat modal dasar dan kemampuan yang sudah dimiliki, hal-hal berikut dapat dilakukan mencakup:

- Fokus pada produksi konten berkualitas tinggi yang sulit dilakukan oleh individu pencipta

- Menjelaskan format hibrid atau gabungan yang menggabungkan keunggulan TV dan digital

- Menciptakan pengalaman menonton yang unik dan bernilai tinggi

Fenomena PHK di industri televisi merupakan konsekuensi tak terelakkan dari gangguan digital yang dipimpin platform seperti TikTok atau YouTube.

Perubahan mendasar dalam format konten, distribusi, dan konsumsi media memaksa stasiun televisi melakukan penyesuaian struktural, termasuk pengurangan tenaga kerja.

Namun, gangguan ini juga membuka peluang baru. Media profesional yang terdampak PHK dapat mengembangkan keterampilan digital dan menemukan peran baru dalam ekosistem media yang terus berevolusi.

Bagi industri televisi sendiri, adaptasi terhadap realitas baru ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan di era dominasi konten digital.

Dengan strategi yang tepat dan pemahaman mendalam tentang perubahan perilaku audiens, industri televisi masih memiliki peluang untuk bertransformasi dan menemukan model bisnis yang berkelanjutan di tengah gempuran berbagai platform digital.***